Gadisku seperti kembang api.
Aku selalu suka kembang api. Kembang api yang gegap gempita seperti memar-memar meriah yang timbul di kulit mulusnya; atau kembang api yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan seperti desir halus darahnya.
Kembang api apa yang dapat membuat candu? Dia! Sayangnya sesuatu yang berharga tidak terjadi sering-sering; sungguh susah mengeluarkan kembang api dari dirinya.
Ia akan melawan apabila aku minta dinyalakan kembang api, walaupun aku puji dia dengan untaian kata manis semanis madu. Jika ia melawan, terpaksa aku memaksa dia menyalakan kembang api, dengan tubuhnya sebagai langit.
Atau kembang api, dengan liangnya sebagai langit di surga. Kurobek pertahanannya pada hari pertama. Saat itulah aku terkesima dengan kembang api merah dari dalam tubuhnya, disertai erangan nikmat kala aku menghujamnya.
Tentu saja waktu itu, untuk melihat kembang api seperti itu aku tidak mendapatkannya dengan mudah. Aku harus melawan pemberontakannya, yang malah mengeluarkan kembang api lebih gempita!
Setelah kejadian itu aku baru mengerti bahwa seluruh tubuhnya adalah langit indah di mana aku dapat melihat rembulan. Dua buah rembulan dengan warna lembayung, menyembul malu-malu setelah lehernya. Aku suka menggigitnya sampai timbul kembang api.
Ia kutemukan di gang sempit itu; seorang gadis suci yang berani pulang malam-malam menantang drakula. Saat ini ia telah menjadi milikku seorang.
Benda kesukaanku adalah cambuk dan silet. Untuk memunculkan kembang api tersembunyi pada dirinya.
Saat ia sedang tidak sadarkan diri, aku suka menimbulkan kembang api pada diriku sendiri. Aku ukir namaku dan gadisku pada tubuh ini, lalu di luar namaku dan namanya kuukir gambar hati tertembus panah. Indahnya kembang api menyemarakkan cinta kami berdua.
Atau cintaku padanya.
Ia belum mencintaiku.
***
Sarapan yang sudah kubelikan untuknya dengan merogoh kocek dalam-dalam ditolak mentah-mentah. Aku tanya padanya, mau roti jelek ini atau kujadikan kembang api? Ia jawab ia tidak ingin dua-duanya.
Lalu gadis berambut indigo itu, gadis yang kucintai, meludahiku.
Aku suruh ia membersihkannya. Ia malah membuang muka.
Saat-saat seperti ini memang menggairahkan! Ia mengundangku untuk menggaulinya, menjadikan ia kembang apiku yang abadi, bukankah begitu?
Kurusak pakaiannya dengan serta-merta sehingga ia menjadi langitku yang sempurna. Langit bertabur galaksi merah dan biru hasil kerjaku tempo hari. Saat itu kuakui merupakan pertunjukan kembang api yang mewah.
Matanya mencerminkan bintang-bintang. Hidungnya yang kemerahan mengingatkanku akan buah ceri yang menggantung di pohonnya. Mulutnya adalah bagian yang menggoda pula; jika aku menggigitnya dengan benar, bibirnya akan semakin ranum dan kemudian mengeluarkan kembang api favoritku.
Buat apa basa-basi? Langsung kuhentakkan diriku pada dirinya sembari melucutkan benda kesayanganku untuk membuat kembang api. Gadis itu hanya dapat berteriak.
Teriakan yang merdu membuatku semakin menginginkannya.
Setelah aku puas menungganginya, aku biarkan ia sesenggukan di pojok ruangan. Aku tidak memberikannya baju karena masih ingin menonton pertunjukan kembang api pada langitku yang tidak lagi sepi.
Ruangan ini terasa pengap dan lembab. Tanpa aku keluarkan dia, aku berpakaian yang pantas dan berjalan ke pasar.
Kurasa tidak lucu jika akhirnya langitku tidak dapat menampilkan galaksi-galaksi tersembunyi. Aku tak ubahnya anak laki-laki yang menyukai kejutan.
Aku membeli obat-obatan herbal agar dapat aku balurkan ke atas kulitnya, menghilangkan galaksi dan bintang-bintang yang telah kubuat dengan susah payah.
Setelah aku membeli obat-obatan, aku juga membelikan gadisku makanan bergizi agar ia senantiasa sehat, dan dapat menyuguhkanku pertunjukan kembang api seperti sediakala.
Kulihat orang berkerumun di suatu sudut pasar. Dengan penasaran, aku mendekati mereka. Tampak mereka mengelilingi seorang bapak yang memegang koran di tangannya. Berita utama berbunyi
PENCULIKAN SEORANG GADIS MASIH MISTERIUS
Kukira keluarga gadisku di rumah tidak mempunyai kekuatan untuk mengungkapkan hilangnya putri kecil mereka ke media. Nyatanya, ayahnya adalah seorang kepala redaksi koran utama di negeri ini, dan membuat berita remeh seperti itu menjadi berita utama di koran merupakan hal mudah baginya.
Bila aku meminta uang banyak sebagai tebusan atas gadisku, tentu keluarganya akan memberiku dengan senang hati. Namun gadisku tidak dapat ditukar dengan uang sebanyak apapun! Jika aku dapat membeli langit Dubai, pasti tidak akan menjadi latar kembang api seindah tubuh gadisku.
Aku terlalu terfokus pada keindahannya sampai aku lupa akan namanya.
Kuputuskan untuk berjalan pulang setelah mendapatkan semua yang aku butuhkan di pasar.
Gadisku tidak beranjak dari posisinya saat aku memasuki ruangan. Aku ulurkan tanganku untuk memeluknya namun ia tepis dengan kasar. Agar ia tahu aku mempunyai itikad baik, aku mencelupkan jemari ke dalam wadah obat herbal, kemudian mengoleskan sedikit di telapak tangannya.
Pandangannya nanar menatap mataku. Aku berpura-pura tak acuh dan mengoleskan sedikit demi sedikit obat ke tiap jengkal tubuhnya. Apakah boleh mengoleskan obat itu ke dalam liangnya yang cedera? Kurasa tidak.
Roti yang sudah kubeli kutata dengan rapi di piring seng satu-satunya yang kupunya di rumah reyot itu. Kemudian aku mencuil roti sedikit dan aku berikan kepadanya.
Untuk pertama kalinya, ia mau sesuatu dariku. Tangannya yang suci merenggut roti yang kuberikan. Roti tersebut kini berpindah ke dalam rongga mulutnya.
Kuingin ia selamanya hidup untukku, hidup denganku, menjadi pertunjukan kembang api abadi.
-Bersambung-
KAMU SEDANG MEMBACA
72 JAM [COMPLETED]
Fanfiction[DISCLAIMER] Naruto © Masashi Kishimoto Saya tidak mengambil keuntungan dari fanfiksi ini. Cover by @hanaamj Rate : M Peringatan : Konten eksplisit Memuat unsur sadisme dan masokisme Merah itu sakit. Merah itu nikmat. Tunggulah sampai kau juga m...
![72 JAM [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/154823524-64-k801589.jpg)