"Fuck you and don't you dare to do it again."
Pintu terbanting sebelum aku sempat mengatakan satu patah kata apapun. Hatiku terasa sangat nyeri ketika berhadapan dengan fakta bahwa kekasihku merupakan seorang monster. Aku bahkan tidak pernah mengerti apa salahku sehingga ia berubah seratus delapan puluh derajat. Berbanding balik dengan dirinya dua tahun yang lalu. Ternyata usia hubungan kami yang cukup lama tidak menjamin kenyamanan yang ada.
Membersihkan luka dan menutupnya dengan plester merupakan hobiku. Hampir satu tahun terakhir aku melakukannya setiap malam. Dan bodohnya, aku tidak pernah mengeluh dan meminta bantuan kepada siapapun. Justru sebaliknya, aku merutuki diriku sendiri yang tidak pernah menjadi wanita terbaik dimatanya.
Hari ini merupakan hari pertamaku bekerja di suatu perusahaan ternama Amerika. Interview dua minggu yang lalu ternyata berbuah manis. Dengan segera aku berpakaian dan melajukan mobilku menuju kantor.
"Good morning, I'm Mezzaluna,"
Wanita resepsionis ini menyambutku dengan ramah. Ia mengantarku ke ruangan kerja yang berada di lantai dua puluh. Klasik dan mewah. Perpaduan antara hitam, putih, dan emas membuat ruangan ini semakin cantik. Terdapat pula kamar mandi serta ruang ganti pakaian di dalamnya.
"Thank you so much," Ucapku senang. Pada pekerjaan kali ini aku ditempatkan untuk menjadi pengurus keuangan. Jabatan yang cukup tinggi bagi seorang wanita yang baru lulus kuliah sepertiku.
Selama beberapa saat aku masih mengagumi betapa indahnya ruangan ini. Dengan seluruh kaca yang langsung menampilkan pemandangan Amerika semakin membuatku semangat bekerja. Call me weird, tapi ruangan ini hampir mirip seperti apartment di tengah kota.
Dua jam berlalu, aku masih sibuk dengan komputer di hadapanku. Perusahaan ini ternyata tersebar di beberapa belahan dunia. Tidak bisa membayangkan bagaimana suksesnya si empunya perusahaan. Pintu ruangan terbuka dan menampilkan sosok pria bertubuh ideal dengan balutas jas indahnya.
"Mezzaluna?"
"It's me," aku berjalan menghampirinya. "Maaf, ada apa?"
"Tidak apa-apa. Hanya sekedar mengecek pegawai baruku."
"You're the boss?"
Ia terkekeh geli. "Yes, Mezzaluna. It's Justin,"
"Nice to meet you, sir. Thank you for accepting me."
Justin—bosku, menyapu pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Ia sungguh tampan. Aku tidak akan menjadi wanita munafik yang menyembunyikan fakta jika ia memang pria sukses yang sangat tampan. Tidak bisa kupungkiri jika manik matanya cukup membuatku terpana.
"Jadi, kau lulusan UCLA?"
"Yup, benar sekali," aku tersenyum simpul. "Setahun yang lalu aku baru saja lulus."
"Kau orang Amerika asli?"
"Tentu, sejak lahir aku tinggal disini."
"Cool," pujinya. "Selamat bekerja."
Ia melenggang pergi keluar ruangan. Aku kembali menyelesaikan pekerjaanku. Waktu makan siang telah tiba, aku memilih pasta dan air mineral sebagai santapannya. Fasilitas yang diberikan kepada pegawai sangat mewah. Termasuk kantin yang lebih pantas dikatakan sebagai restoran karena banyaknya pilihan menu makanan. Pantas saja seluruh pegawai disini merasa senang.
"Hey," wanita cantik berambut blonde yang tengah membawa nampan makanannya berdiri di hadapanku. Aku tersenyum. "Bolehkah aku duduk disini?"
"Sure."
YOU ARE READING
Magnificent | Justin Bieber AU
FanfictionJustin Bieber. Pewaris tunggal Bieber Inc. yang sangat tampan hingga seluruh gadis di Los Angeles berlomba-lomba untuk mendapatkan hatinya. Bagi Justin, wanita bukan segalanya. Mezzaluna. Wanita tangguh dan cerdas yang memiliki segudang rahasia di...
