Cit cuit
Suara burung dan gemericik air menemani siang yang terik. Bias-bias cahaya matahari yang merangsek diantara dedaunan pohon menambah asri suasana khidmat yang sunyi di hutan Asfariosta.
Ditepi sungai berarus pelan itu, tengah duduk seorang pemuda bersurai putih bak susu sembari membaca buku tebal di pangkuannya, dengan setengah mengantuk.
Sudah 6 jam ini ia berada disana, menghabiskan waktu dalam sunyi seolah larut dalam kesunyian itu sendiri, dan seolah tidak ingin tergiur dengan keindahan dan keramahan kota Eden dibalik hutan.
Srakk
Halaman terakhir di buka, dan sebuah tangan dengan lengan baju berwarna hitam menahan tangan seputih porselen.
"Kalo udah baca buku, ga akan denger apapun, ya?" Sinis suara baritone membuat iris sewarna langit bergulir ke arah sumber suara, lalu kembali menatap buku yang tengah dibacanya. Sementara si Surai hitam menatap pemuda dihadapannya jengkel sebelum menjatuhkan sebuah jitakan di kepala putih itu. "Gabriel! Ayah manggil!"
Mendengar kata 'Ayah' sontak membuat kepala putih menengok cepat dengan tatapan 'serius lu!?' kepada yang lebih tua-Azazel-. Buku di tutup cepat-cepat, kemudian ditenteng di tangan kanan.
"Hari ini apa?" Tanya pemuda yang dipanggil Gabriel pada pemuda serba hitam di sampingnya.
"Sayur Jamur Saus Tiram." Jawab Azazel sembari mengangkat ibu jari tangan kanannya.
"Ayah pro"
Lalu mereka melesat melintasi langit Eden menuju ke sebuah rumah bertingkat di sisi kota Eden, rumah mereka, rumah para Archangel.
ESTÁS LEYENDO
Story Of Archangel
HumorBerisi cerita tentang para Archangel dengan sedikit kerecehan di dalamnya
