Anatasya Flower Rianda, lebih sering di panggil Flo oleh kedua orang tua, kakak laki-lakinya, serta satu sahabatnya. Namun jika di sekolah dia sering di panggil Anna oleh semua teman sekelasnya. Gadis ini merupakan blasteran Indonesia-Turki, wajah cantik,memiliki rambut panjang hitam, berkulit putih dan paling sering membuat sahabatnya kesal setengah yang mati. Walaupun memiliki wajah cantik, gadis ini tidak suka bergaul dengan teman sekelasnya karena selalu risih dengan banyak orang. Itulah yang menyebabkan dia tak memiliki teman dekat di dalam kelas. Dan hanya satu sahabat yang selalu berada didekatnya, yang selalu memarahinya setiap kali terlihat mata sembab sang gadis polos ini. Tempat dia berkeluh kesah selain kepada ibunya. Sunny Micelline Jordia, gadis blasteran Indonesia-Amerika, memiliki rambut panjang agak kemerahan, jika Ana tidak suka akan keramaian berbeda dengan sahabatnya tersebut. Micelline memang pintar bergaul, tapi tidak pernah meninggalkan Ana sendirian jika sedang bersama temannya yang lain. Micelline akan lebih memilih bersama Ana, karena dia sangat tau Ana tak akan mau bergabung dengannya jika dia sedang bersama dengan teman lain. Yah,ini lah kisah persahabatan kedua gadis 17 tahun ini.
"Floooooo...." teriak seorang siswi SMA dari pintu kelas memanggil sahabatnya.
"Astaga Micell, Lo bisa gak sih gak ngagetin kita semua?" ucap seorang siswa dari kelas tersebut. Gadis yang bernama Micell tersebut hanya bisa mengangkat tangan yang jarinya membentuk V dan menyengir.
"Sorry Roni, gue ngaku salah deh. Habis lo pada dikelas ngapain? Bukannya pada keluar. Jajan atau ngapain gitu?" Ucap Micell sambil menduduki bangku disebelah seorang gadis berikat rambut pink yang sedang membaca buku.
" Pe'a lo Cel, sekarang itu masih jam pelajaran. Mau kena marah BK kalau keluar buat jajan apa?" ucap yang lain.
" Yaelah,tinggal bilang aja kalau lu mau ketoilet." Ucap Micell enteng.
" Bukan maksud ngusir nih Cel. Lo ngapain pagi-pagi kesini? Emang guru lo kagak ada di kelas?" ucap Roni.
"Ada sih, Mr Morgan dikelas gue lagi khotbah panjang lebar. Daripada gue ngantuk dengarin dia. Mending gue cari hal yang berfaedah kan."ucap Micell.
"What? Mr Morgan dikelas lo? Terus lo keluar? Sumpah demi apa Cel? Kagak takut lo di hukum sama dia berjemur di depan bendera?" ucap seorang gadis berkacamata.
" Haha, hanya hukuman gitu mah gampang kali. Tinggal dijalanin aja Yos." Ucap Micell
" Haha, Yosi.. Yosi.. kayak lo gak tau aja kalau Micell kan model sekaligus anak badung di sekolahan ini. Mr Morgan bisa kali ditaklukin dia. Guru aja hanya bisa geleng kepala lihat dia. Apalagi yang hanya seorang Mr Morgan. Dipacarin ama Micell juga kayaknya tuh guru bisa deh " Ucap Roni.
" bener tuh.." ucap yang lain.
Gadis yang duduk disebelah Micell hanya terdiam melihat Sahabatnya tersebut yang sedari tadi bercanda gak jelas dengan teman-teman sekelasnya. Terkadang dia bingung, kenapa bisa sahabatnya ini berteman dengan teman sekelasnya, sedangkan dia susah bergaul dengan mereka. Micell yang merasa di perhatikan pun kini menoleh kearah sahabatnya tersebut.
" gue tau gue cantik. Tapi gue masih doyan cowok Ana . Jadi jangan mandangin gue kayak gitu deh. Ngeri sendiri gue bayanginnya." Ucap Micell.
" Sumpah, sampai kapan PD lo itu ilang sih Micell." Ucap Ana.
" Sampe gue bisa dapatin cowok paling tampan di dunia ini." ucap Micell ngasal.
" ckck, semoga secepatnya ya. Tapi bukannya udah dapat ya?" Jawab Ana.
" Siapa?" tanya Micell heran.
" Daren Ardiansyah?" jawab Ana.
" Stop sebutin nama cowok itu Flo." Geram Micell, yang hanya dapat tertawaan pelan dari Ana.
Sudah setengah jam Micell berada dikelas Ana yang pada saat ini tidak terdapat guru untuk mengajar. Bahkan saat ini sudah terdengar bell istirahat sekolah.
"gue kekelas dulu, mau beresin buku. Lo temenin gue ya." Ucap Micell sambil menarik tangan Ana tanpa mendapat persetujuan .
Sesampai didepan kelas XI IPA 2, Micell terdiam dan melihat kedalam kelas kosong. Ralat, bukan kosong karena didalam terdapat seorang pemuda tinggi tegap, duduk bersandar di bangku kebesarannya. Dengan diamnya Micell membuat Ana menjadi bingung akan tingkah sahabatnya tersebut. Karena tak pernah dikitpun sahabatnya tersebut takut akan guru disekolahnya. Tapi apa yang salah dengan guru muda yang sedang duduk di depan kelas yang memandang ke bangku para siswa yang sudah kosong. Guru bahasa inggris, yang sering di panggil Mr. Morgan, umur 24 tahun dan masih belum menikah. Dia mengikuti kelas akselerasi di negara Paman Sam, dan mengikuti kuliah di inggris. Dia pernah menjadi dosen pengganti di Universitas Oxford jadi sudah tak bisa diragukan lagi kemampuannya di bidang pendidikan, belum lagi dia memiliki perusahaan keluarga yang saat ini juga dia kelola. Sempurnanya Pemuda yang menjadi guru di sekolah tersebut,entah apa yang dipikirkan sehingga dia malah memilih menjadi guru SMA di indonesia.
Micell yang awalnya terdiam, langsung masuk kekelasnya dengan melepaskan tangan Ana yang dari tadi digenggamnya. Ana menjauh dari pintu kelas XI IPA 2 dan memilih menunggu Micell dibawah pohon yang berada di samping kelas sahabatnya tersebut. Membiarkan sahabatnya didalam kelas, dia tidak tau jika sahabatnya tersebut sedang mengalami perasaan yang tak karuan. Dengan terburu-buru Micell membereskan bukunya,dan mengambil dompet dari dalam tasnya.
Setelah selesai, Micell beranjak dari bangkunya. Setelah mencapai pintu kelas langkahnya terhenti.
" Jika menghindar adalah jawaban, maka cepat atau lambat bicara adalah kenyataan yang gak bisa dihindari. Stop bertingkah seperti anak-anak Cel" Ucap Morgan dengan menggunakan bahasa Inggris.
" Oh ya? Coba aja. Dan ya, Perlu diingat gue emang masih anak-anak. Ingat kalimat anda sebelumnya? Semoga anda tidak lupa. Saya permisi Mr Morgan."balas Micell, segera berlalu menemui Ana.
" Semoga semua belum terlambat." Ucap Morgan lebih kearah berbisik ke diri sendiri sambil mengusap kasar wajahnya.
Sepulang sekolah, Micell yang sudah membawa mobil kesekolah mengantar Ana pulang. Micell memang setiap hari menjemput dan mengantar Ana. Karena Ana masih tidak berani mengendarai mobilnya sendiri ke sekolah.
" Cel.." panggil Ana pada sahabatnya tersebut yang sedang fokus memegang kemudi.
" hmm.." jawab Micell tanpa menoleh.
" Gue boleh nanya sesuatu gak?"
" Apa? Lo kayak nanya kesiapa aja."
" ya gue takut aja lo tersinggung."
" Haha, selama lo gak nyinggung, gue gak akan tersinggung Flo."
" iya sih, tapi menurut gue ini agak sensitif sih buat lo."
" oh ya? Gue gak yakin. Udah sih kalau lo mau nanya, ya nanya aja Flo. Gue gak akan marah. gue janji deh."
" seriusan lo gak akan marah ya?"
" Iya Floren. Cepetan lo mau nanya apa?"
" gue sebenarnya penasaran sama yang namanya Daren Ardiansyah itu seperti apa? Yang membuat sahabat gue ini jadi seorang yang tebar pesona kecowok mana aja. Ya walaupun gue tau kalau lo gak nyaman lakuin itu. Sebenarnya dia dimana sekarang?"
" Lo mau tau dia dimana emang buat apa?"
" Gak buat apa-apa sih. Gue pengen tau aja. Cowok yang buat sahabat gue cinta setengah mati gini."
Micell yang mendengar pertanyaan Ana pun hanya terdiam dan tak mencoba menjawab pertanyaan Ana. Setelah sampai didepan rumah Anna pun Micell hanya diam saja, membuat Ana merasa tak enak hati.
"Lo marah ya ama pertanyaan gue?" tanya Ana."
" haha, gak kok. Gue ngapain marah sama pertanyaan lo. Gue bingung aja mau jawab apa." Jawaba Micell.
" Yudah kalau lo gak mau jawab gak masalah Cel. Hufft, yaudah lo mau mampir dulu gak?" tanya Ana sambil keluar dari mobil putih tersebut.
" kayaknya gak deh Flo. Gue langsung balik aja ya. Gue mau kerjain tugas matematika yang menumpuk." Ucap Micell
"haha, sejak kapan lo mikirin tugas. Lo itu pintar kali, dan lo bisa ngerjain tuh tugas hanya lima menit doank." Ucap Ana.
" haha, sebegitu pintarkah gue? udah ah, gue langsung cabut ya.. kirim salam sama om , tante, sama kak Evan." Ucap Micell.
" oke deh. Gue sampein entar. Hati-hati ya. Thank's buat tumpangannya." Ucap Ana yang hanya dijawab anggukan oleh Micell. Setelah mobil Micell berlalu, Ana hanya tersenyum.
'gue tau ada sesuatu yang lo sembunyin Cell. Gue selalu gak pernah bisa ngebongkar sisi lain dari diri lo. Tapi lo selalu berhasil membuat gue tenang disamping lo. Lo yang paling ngertiin gue, dan paling gak bisa lihat gue susah dan sedih. Tapi kenapa gue selalu gak bisa ngelakuin sebaliknya sama lo.Gue bakal tunggu lo buat cerita semua Cel. Karena gue yakin dari semua cara lo perlakuin semua orang dengan keceriaan lo, lo simpan sejuta pernyataan yang mungkin itu juga buat lo sakit.' Ucap Ana dalam hati dan memasuki rumah besar dan elite tersebut.
YOU ARE READING
SunFlower (Sahabat itu seperti?)
Teen FictionPernah gak terbayang bahwa seorang sahabat yang baik akan melakukan apapun untuk sahabatnya tersebut. Apalagi jika sahabatnya sedang dalam kesulitan dalam memilih sesuatu hal? Tapi pernah juga gak berpikir jika suatu saat, sahabat juga bisa men...
