Seoul
Sebuah kost-kost an yang hanya berisi tiga gadis. Keramaian dari ruangan itu hanya diisi beberapa gadis itu. Sebuah ruangan yang tak terlalu sempit dan tak terlalu besar.
Ruangan yang berisi canda tawa dan kebahagiaan. Mereka hanyalah gadis biasa dari kota lain dan datang ke Seoul untuk melanjutkan sekolahnya di SOPA.
Canda tawa mereka menggema di dalam ruang sempit itu.
"Oh iya... Kenapa kau tak ikut orang tua mu?? Bukankah kau orang Korea? " tanya gadis berambut lurus itu.
"Mmm... Aku sudah pindah ke USA tapi aku ingin bersekolah disini... Jadi aku disini juga harus di kost-kostan. " jelas gadis paling imut diantara mereka.
"Oo.. Kau dari luar negeri... Tapi kau lancar juga ya... " ucap gadis paling imut itu.
"Kau mau kuambilkan minum? " ucap gadis USA itu.
"Mmm.... Air putih saja... " ucap gadis yang sedari tadi tak ikut bicara. Ia hanya duduk dan tertawa dengan candaan mereka berdua.
"Kau kenapa? Kenapa hanya diam? " tanya gadis imut itu.
"Mmm... Aku... Hanya... "
"Ini... " ucap gadis USA itu menyodorkan segelas air putih biasa.
"Kenapa kau tak buat rumah saja disini? Kau kan sudah dua tahun disini terus? " tanya gadis pendiam itu.
"Aku? Aku tak mau membebani mereka... Bahkan semua kehidupanku harus kuurus sendiri. " jelasnya.
Kini mereka berdua mengangguk mengerti. Mereka pun kembali bercanda seperti tadi.
oOo
Aku kini duduk di bangku kelas. Kini kelas sudah mulai terisi, meski hanya aku dan dua sahabatku.
Aku berjalan pergi bersama dua sahabatku untuk ke perpustakaan. Aku akan mengambil buku sastra, karena besok akan ada pelajaran sastra.
Mereka berdua hanya duduk di depan perpustakaan. Sedangkan aku? Aku mencarikan buku untuk mereka. Karena aku baik hati tentunya.
Aku melihat buku sastra di rak atas. Namun aku yakin aku tak bisa menggapainya. Aku terus berjinjit dan melompat hingga semua buku-buku terjatuh ke lantai.
"Aisshh jinjja... Mwoya ige..?! " gerutu ku kesal.
Tanpa kupedulikan buku di lantai, aku terus berusaha mengambil buku yang berada di rak atas itu.
"Ya! " panggil seseorang dengan suara beratnya. Aku dengan cepat menengok ke arah suara itu berasal.
"Kau menjatuhkannya... " ucap lelaki itu.
"Arrasseo... Wae? " tanyaku agak menantang. Namun aku kembali fokus untuk mengambil buku sastra itu.
"Tckk... Kau ini... " ucapnya sembari berjalan ke arahku dan mengambil buku yang ku cari.
"Ige.. " ucap lelaki itu memberikan sebuah buku sastra yang ku cari-cari.
"Ah... Mmm... Gomawoyo... Geunde, aku butuh dua lagi... " ucapku menunduk malu dan bersalah.
Entahlah, aku merasa bersalah karena ku berpikir dia akan memarahiku karena semua buku yang berantakan ini.
"Ini... " ucapnya memeberikan dua buku lagi padaku.
ESTÁS LEYENDO
Why
FanfictionSebuah cinta dan persahabatan. Sebuah pengorbanan untuk persahabatan dan juga cinta. Namun... Apa yang akan kita utamakan? Cinta? Ataukah persahabatan itu?
