Bukan pernikahan seperti ini yang Keisya harapkan. Semuanya jauh dari ekspetasi ketika kedua orang tuanya menjodohkannya dengan anak penerus perusahaan ternama.
Keisya ingin menentangnya, tetapi apa boleh buat ketika ayahnya ternyata memiliki penya...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Benda pipih itu berdering ketika Keisya sedang mengikat tali sepatu. Dengan cepat ia mengambil ponsel tersebut lalu membukanya
Perempuan itu berdecih mengetahui siapa yang memenuhi pemberitahuan ponselnya. Sederet pesan masuk dari sahabat sejak kecilnya terpampang dari atas hingga bawah layar, seseorang menyuruhnya untuk cepat keluar dari rumah.
Keisya memutuskan untuk tidak membalasnya ketika ia menengok ke arah jendela, di sana sudah terlihat Felix dengan kendaraan beroda dua yang sudah terparkir di depan pagar rumahnya. Kemudian, perempuan itu segera menyalimi kedua orang tuanya.
Ketika membuka pintu, ia mendapati Felix sedang menunduk sembari memainkan ponsel dan berdiri di sandaran motornya. Merasa sang tuan rumah sudah menampakkan presensinya, Felix mendongak dengan wajah antara cemberut dan kesal karena pesannya tidak di balas dan ia menunggu terlalu lama.
"Lama banget, mending gua disuruh masuk, kasih minum atau apa kek, lah ini enggak," protesnya ketika Keisya sudah berdiri di hadapannya.
"Ya sorry, tadi gue udah siap, jadi ngapain nyuruh lo masuk," jawabnya sembari tertawa. Sedang Felix hanya bisa mengelus dada mencoba untuk bersabar setiap kali Keisya mem-bully dirinya.
Keisya dan Felix sudah bersahabat sejak kecil. Ayah mereka berteman sejak sekolah menengah pertama kemudian sempat hilang kontak. Barulah ketika anak-anak mereka sudah duduk di bangku sekolah dasar, mereka dipertemukan kembali di sekolah yang sama hingga sekarang.
Menurut Keisya, walau si Felix itu si pemuda keturunan China yang nyebelin dan ngeselin banget. Namun, dia adalah tempat semua curhatan perempuan itu ketika ia sedang galau. Felix akan setia mendengarkannya walau berakhir pemuda itu mengejeknya dan mengadukan hal tersebut pada ibunya.
Menurut Felix, Keisya itu galak, terkadang cengeng dan sedikit ketus jika ia tidak menyukai seseorang. Walau begitu, hanya Felix yang bertahan jika berhadapan dengan sikap galak sahabatnya itu. Jika Keisya marah pada dirinya, tinggal dibelikan Cakwe satu bungkus besar dan thaitea rasa matcha yang biasa keliling di depan kompleks perumahan mereka. Dalam sekejap, perempuan itu langsung menerimanya dengan mata berbinar.
"Oke, sebagai gantinya lo juga udah numpang motor gua, nanti traktir gua di kantin jurusan lo. Nggak ada penolakan!" kata Felix final.
Belum sempat Keisya menyanggah, pemuda itu sudah lebih dulu naik ke atas motor lalu memberikan helm pada Keisya. Perempuan itu buru-buru naik karena Felix sudah menarik gas motornya.
"Woi, tungguin!"
***
Jarak dari rumah ke kampus hanya setengah jam. Begitu Keisya dan Felix sampai, perempuan itu harus jalan terlebih dahulu untuk sampai di gedung kelasnya karena Felix memarkirkan motornya di parkiran paling depan fakultas. Mereka berdua satu Fakultas Ilmu Komunikasi, tetapi beda jurusan. Gedung jurusan yang Keisya tempati berada di paling ujung.