Prolog

194 9 0
                                        

Pulau Artemis, atau yang lebih dikenal sebagai kediaman raja iblis, dulunya merupakan sebuah negeri yang damai.

Bagian utara Artemis yang berbatasan dengan laut menciptakan hamparan garis pantai yang luas nan indah. Diselingi oleh deretan pepohonan rimbun dan angin sejuk, juga lautan biru yang tenang, deretan pesisir di pulau tersebut seolah dapat menyejukkan jiwa siapapun yang memandangnya. Masuk ke selatan, rangkaian pegunungan, hutan, dan sungai-sungai yang mengalir diantaranya menciptakan suasana alami yang menenangkan. Dan jauh di selatan, terdapat sebuah kota sibuk lagi ramai, Loch. Meski ada banyak sekali penduduk di ibukota, namun hampir tak pernah terjadi keributan di Loch. Hal ini dikarenakan penduduk Loch - dan pulau Artemis pada umumnya - merupakan orang-orang baik dan beradab.

Dengan semua keindahan alam dan keramahan penduduknya, Artemis boleh dibilang sebagai surga dunia. Meski demikian, surga itu hancur kala raja kegelapan datang sepuluh tahun lalu. Membawa pasukan kegelapan yang tak terhitung jumlahnya, lambat laun semua keindahan Artemis musnah. Dan hanya dalam waktu kurang dari setahun, apa yang tersisa dari Artemis hanyalah kehancuran kesedihan. Sungai-sungai yang awalnya mengalir indah, kini mengering tak bersisa. Deretan pepohonan yang rimbun kini mati atau beracun. Langit menjadi gelap gulita sepanjang hari, sehingga kerajaan ini tak ubahnya seperti neraka. Tak ada lagi keindahan yang tampak darinya.

Penduduk Artemis yang dulunya hidup damai, kini harus merasakan beratnya hidup sebagai budak dan bekerja paksa tanpa bayaran. Ya. Tak banyak pilihan di Artemis : hidup menjadi budak atau mati. Dan jika penduduk memilih untuk mati, tentu saja raja kegelapan takkan peduli. Bahkan kalaupun seandainya seluruh manusia Artemis tewas, raja kegelapan sama sekali takkan kehilangan apapun. Keputusannya untu membiarkan manusia hidup tidak lain hanya karena kesenangannya melihat manusia menderita.

Namun keputusan itulah yang merupakan blunder terbesarnya. Muak dengan penderitaan yang ada, penduduk Artemis bangkit dan melakukan perlawanan. Dipimpin oleh seorang mantan ksatria bernama Elsen Sternz, masyarakat Artemis mulai angkat senjata dan melakukan perlawanan di mana-mana. Pasukan kegelapan yang hanya mengandalkan kekuatan fisik, nyatanya tak mampu membendung pasukan rakyat Artemis yang mengandalkan kecerdikan dan kepiawaian mereka dalam mengatur strategi. Berbekal semangat tinggi dan keyakinan akan kemenangan, pasukan rakyat Artemis mulai meraih kemenangan.

Perlahan, hari demi hari, perlawanan mereka membuahkan hasil...

***

"Haah...haah...dasar iblis!"

Napas Lunaria tersengal. Menggenggam dua bilah pedang kembar, ia kembali menyiapkan kuda-kuda untuk menahan serangan musuh. Tangannya gemetar hebat. Bisa dirasanya aliran darah yang berdesir hebat, menandakan dirinya berada pada posisi on fire.

Lima Orc Warlord berdiri dihadapannya. Kekar nan kokoh. Tangan-tangan mereka yang berotot tebal bak besi menggenggam kapak yang luar biasa besar. Seberapa besar? Cukup untuk merobohkan sebuah gubuk dengan sekali tebas.

Jujur saja, makhluk-makhluk itu bukanlah musuh yang seimbang untuk dilawan seorang diri. Bahkan dengan kekuatan yang dimilikinya, Lunaria tahu bahwa ia takkan mampu mengimbangi para Orc tersebut. Nyatanya, butuh beberapa orang untuk merobohkan sesosok Orc Warlord, dan entah kutukan apa yang membuat dirinya didatangi lima Orc Warlord sekaligus.

Sorot mata Lunaria kemudian berpindah kepada sosok-sosok yang terbujur kaku di sekelilingnya. Beberapa rekannya tampak jatuh tak bernyawa : seorang pemanah, seorang penyihir, dan beberapa petarung. Meski demikian, Lunaria telah bersumpah bahwa ia akan terus mempertahankan diri hingga akhir. Jika ia tak bisa menang melawan iblis-iblis ini, maka mati lebih baik baginya. Begitu yang ia pikirkan.

"Grr!"

Suara khas dari para Orc Warlord ini terdengar bagai bel kematian di telinga Lunaria. Dengan sorot mata memincing, ia memperhatikan dengan seksama gerakan para Orc Warlord yang mulai mengepung dirinya depan belakang.

Artemis OnlineHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora