(28) Terima Kasih, Emi...

29.7K 1.9K 61
                                    

Assalamualaikuuuum!!
Maaf ya.. saya baru nongol. hehehe
Terima kasih bagi yang masih setia ama Pero-Emi. untuk yang setia ngevote, kasih komen yang bikin saya mesam-mesem macam orang gila. Pokoknya terima kasih pake banyaaaaak banget!!

Just info : Part ini bukan ending. masih ada 1 Bab lagi dan Epilog. Semoga kalian masih sabar menunggu ya..

Happy reading!!|
Love,

bebyZee

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Vivian memandang Emily dengan penuh prihatin. Sejak muncul di kantor dan membuat geger seisi kantor dengan jilbab dan pakaian tertutup yang membalut tubuhnya Vivian tahu ada yang tak beres dengan sahabatnya. Bukan, bukan tentang keputusan sahabatnya yang telah menutup auratnya tapi tentang sikap sahabatnya yang masih dirundung rasa murung.

                "Emi.. kau mendengarku?" tanya Vivian saat menyadari penjelasan yang ia lontarkan seperti angin lalu bagi sahabatnya itu.

                "Eh.. apa Vi?"

                "Sudahlah, lupakan saja," sahut Vivian memilih untuk berjalan ke sudut Hall dimana mereka melakukan persiapan untuk acara pernikahan yang memakai jasa mereka sebagai event organizer.

                "Vi, jangan marah dong! Kamu tadi ngomong apa sih?" tanya Emily mendesak Vivian. Vivian pun menoleh dengan gerakan lambat karena terhambat perutnya yang kian membuncit.

                "Aku tadi tanya sama kamu soal dekorasi yang ini, kira-kira kapan sampai?" Vivian menunjuk foto di agendanya. Tema pernikahan yang diangkat kali ini adalah bergaya eropa. Butuh beberapa bunga dan dekorasi yang tidak biasa untuk membuat pesta berjalan lancar.

                Emily membuka gadgetnya dan memastikannya sebelum menjawab pertanyaan Vivian.

                "Sudah kok! Satu jam lagi akan dateng lagi kena macet soalnya," jawab Emily. Vivian tersenyum lalu berjalan mendekati Emily.

                "Kau masih memikirkan kakakku?" tanya Vivian. Emily terkejut mendengar pertanyaan Vivian yang tiba-tiba beralih ke topik lain.

                "Aku tidak memikirkan Vero," kilah Emily yang mengalihkan tatapannya kea rah gadgetnya. Vivian menghela nafas putus asa karena hubungan Vero dan Emily sampai saat ini tidak berkembang sama sekali. Cenderung stuck karena Vero saat ini sedang sibuk-sibuknya mengurus kantor setelah kondisi sang Ibu yang mulai membaik.

                "Apa aku harus menikah dengannya Vi?" tanya Emily tiba-tiba membuat Vivian menatap sahabatnya itu dengan tegas.

                "Harus, kalau perlu aku paksa!" sahut Vivian menegaskan keinginannya.  Emily terlihat menundukkan wajahnya. Entah pasrah atau justru bingung menghadapi todongan menikah dari Vivian.

                "Kalau kau tidak mau juga, aku terpaksa harus mencari Pria yang mau menikahimu, aku sebagai adik dari Pria paling brengsek di muka bumi ini harus bertanggung jawab atas kelangsungan hidupmu selanjutnya," ujar Vivian dengan nada emosi yang menggebu-gebu.  Emily masih terdiam bingung harus berkomentar seperti apa.

                'Andai kamu tahu Vi.. Vero bahkan sudah bertanggung jawab dengan melamarku.' Batin Emily. Tanpa menyahuti ucapan Vivian ia pergi meninggalkan adik dari pria yang mengisi hatinya itu.

Emily berjalan ke sisi lain Hall. Ia memperhatikan setiap posisi meja dan bangku yang sedang di tata oleh para staffnya. Sejak pertemuan terakhirnya di rumah sakit beberapa minggu yang lalu. Baik Vero maupun Emily tidak saling berkomunikasi dalam jenis apapun. Keduanya memutuskan untuk memikirkan semuanya baik-baik. Emily tahu ia telah menyiksa Vero dengan menggantung lamaran pria itu cukup lama. Tapi Emily tidak ingin menerima lamaran Vero begitu saja. Ia tahu Vero tulus melamarnya. Bukan karena Emily meragukan cinta Vero tapi Emily ingin memberikan kesempatan bagi Vero untuk mengurusi seluruh kegiatannya sampai pria itu bisa duduk bicara berdua dengan Emily. Dan sampai saat ini Emily belum mendapatkan kesempatan itu.

The True Desire ( Jibran Series )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang