Jam dinding di tembok biru itu menunjukkan pukul dua di malam yang sedang hujan hari ini. Tapi perempuan itu masih berkutat dengan buku tebal dihadapannya, berhubungan dengan deretan angka dalam rumus-rumus yang mungkin tak ia pahami dari beberapa jam yang lalu.
Bukannya apa, jika bukan karena teman sekelas barunya itu ialah rival terkuat di sekolahnya, ia mungkin tak akan berusaha sekeras ini. Namun siapa sangka, ia tak pernah tau bahwa ia akan terjebak dalam sesuatu bersamanya.
Sesuatu yang akan membuat kisah hitam putih silih berganti didalam hidupnya.
YOU ARE READING
Aquila
Teen FictionSiapa sangka, seorang Aquila yang cuek, terjebak oleh tantangan si perfeksionis, Altair. Berawal dari pertemuan pertama mereka yang tak terduga, siapa sangka, dalam waktu satu minggu, Aquila bahkan dibuat bingung dengan perasaannya sendiri. Apa yang...
