New York, Amerika
Di bawah cahaya bulan purnama di antara gelap malam. Dentingan sendok dan garpu yang bergesekan di atas piring menggema di sebuah ruang makan milik pengusaha ternama di Amerika, Steefan John. Seorang pria asal Amerika yang berumur sekitar enam puluh-an tengah menikmati hidangan malam bersama keluarga kecilnya. Giesella Maria, anak semata wayangnya dari istri pertamanya, Anastasia. Yura, wanita bermata sipit dan berkulit putih menjadi istri kedua Steefan.
Keheningan melanda keluarga kecil itu. Tidak ada satu pun yang berbicara. Steefan merasa ada keganjalan pada putri semata wayangnya. Biasanya Giesel selalu merengek minta sekolah setiap kali ayahnya pulang ke rumah. Namun, malam itu Giesel hanya diam tak bersuara.
"Giesel, are you okey?" tanya Steefan, memecah keheningan.
"No!" ucap Giesel sambil terisak.
Melihat air mata Giesel menetes, Steefan segera beranjak mendekati putrinya lalu memeluknya. Yura bangkit dari duduknya dan menghampiri mereka berdua.
"Apa kau tidak ingat, Steef?" tanya Yura.
"Apa?"
"Whoaa, Giesel lihatlah, ayahmu sendiri bahkan tidak tau besok ulang tahunmu yang ke-tujuh belas" ucap Yura, membuat Giesel melepaskan pelukan ayahnya.
Giesel berlari menuju kamarnya. Ketika Steefan hendak menyusul putrinya, Yura menahannnya dan mengisyaratkan agar tidak menyusul Giesel.
"Biarkan dia sendiri" ucap Yura.
***
Steefan merutuki dirinya. Bagaimana ia bisa lupa tanggal kelahiran putrinya? Mungkin karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya sampai tidak memmperhatikan putrinya. Besok sweet seventeen Giesel, bahkan besok keberangkatan dirinya ke Indonesia dan tidak bisa digantikan oleh siapa pun. Ia memejamkan mata sejenak, menghirup angin malam. Sepasang tangan melingkar di perutnya.
"Tenangkan pikiranmu"
"Bagaimana aku bisa tenang jika besok aku pergi ke Indonesia, sedangkan aku meninggalkan putriku di perayaan sweet seventeen-nya"
"Pergilah, urusan Giesel biar aku yang mengurusnya" ucap Yura.
"Baiklah, aku titip Giesel. Malam ini aku akan ke bandara, tolong siapkan barang-barangku"
Yura beranjak dari balkon menuju kamar untuk menyiapkan segala kebutuhan Steefan dari berkas-berkas penting, pakaian dll.
Steefan melangkah menuju kamar Giesel dengan hati-hati agar tidak membangunkannya. Ia mencium kening putrinya lalu meletakan gift box di atas nakas. Ia menoleh ke ambang pintu. Terdapat Yura yang mengisyaratkannya agar bersegera pergi sebelum Giesel terbangun. Steefan beranjak dari kamar Giesel. Ia berjalan di belakang Yura, mengikuti langkah Yura menuju depan rumah. Mobil Steefan sudah terparkir di halaman. Asistennya sudah menunggunya di luar mobil sambil membukakan pintu mobil untuk Steefan.
"Aku titip putriku, mungkin aku akan lama di Indonesia. Jangan biarkan dia keluar rumah sendirian" ucap Steefan sebelum masuk ke mobilnya.
Yura melambaikan tangannya saat mobil Steefan telah hilang dari pandangannya. Ia segera masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju ruang bawah tanah. Ia mengambil sebuah gift box yang sudah disiapkan untuk hadiah sweet seventeen Giesel dan membawanya ke kamar Giesel. Yura meletakan gift box miliknya di atas nakas bersebelahan dengan kotak hadiah dari Steefan. Ia melirik wajah Giesel yang tertidur dan melambaikan tangannya ke wajah Giesel untuk memastikan bahwa Giesel tetap tenang dalam tidurnya. Melihat Giesel tertidur sangat nyenyak, Yura segera mengambil gift box dari Steefan, lalu membawanya ke tempat pembuangan sampah. Ia merogoh saku piyamanya dan mengeluarkan korek api. Ia menyalakan korek api itu dan melemparnya ke tempat sampah. Api berkobar membakar gift box itu beserta sampah lainnya. Setelah api membakar habis sampah-sampah itu, ia segera kembali ke kamarnya dan melanjutkan tidur dengan penuh ketenangan.
.
.
.
TO BE CONTINUE...
VOCÊ ESTÁ LENDO
Secret Of Friend
Mistério / Suspense#3 in stepmother [6/04/20] SENDIRI... Itulah yang dirasakan Giesel selama tinggal bersama ayah dan ibu tirinya setelah kepergian ibu kandungnya. Tanpa teman. Setelah bertahun-tahun tinggal bersama ibu tirinya, ia baru merasakan banyak kejadian aneh...
