"Hei, apa kalian tahu jika hari ini putra walikota ditemukan tidak bernyawa?"
"Benarkah?"
"Rumornya mengatakan surat misterius itu yang menjadi penyebab utamanya."
"Anak walikota yang tewas itukan terkenal dengan sikapnya yang sopan dan rendah hati."
"Dia dikabarkan bunuh diri di kediamannya."
"Ada surat aneh ditemukan di dekat mayatnya."
"Kira-kira apa motif kematiannya, ya?"
"Sayang sekali padahal dia anak yang tampan dan berprestasi."
"Walikota sangat terpukul dengan kematiannya."
Alea melewati setiap murid yang bercakap-cakap tentang kematian putra ketiga walikota yang saat ini sedang ramai dibicarakan. Gadis itu memilih mengabaikan mereka dan masuk ke ruang kelasnya. Dalam ruang kelas pun, pendengaran Alea tak luput dari berita itu.
Alea memilih duduk di sudut ruangan dekat jendela. Ia mengalihkan pandangan ke arah luar. Matanya menatap lurus ke arah bukit depan sekolahnya. Bukit itu ditumbuhi berbagai pepohonan yang lebat. Tak ada yang istimewa dari bukit yang bernama Neil itu. Setidaknya menurut Alea, memandang bukit itu jauh lebih baik ketimbang mendengarkan pembicaraan orang asing di sekitarnya.
Matahari beranjak naik hingga posisinya tepat di atas kepala. Jam sudah menunjukkan waktu istirahat. Alea mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Satu per satu murid kelasnya mulai bergerombol sesuai kelompok mereka masing-masing. Ada yang tertawa bersama, makan siang bersama, ataupun bergosip.
Alea tidak beranjak dari tempat duduknya. Ia masih senantiasa menatap bukit Neil dari kejauhan. Pena yang digengam tangan kanannya sesekali ia mainkan. Hanya ini aktivitas yang dilakukannya saat istirahat.
"Hidupnya setelah kematian bahkan tidak berubah sama sekali."
Sejak masih kanak-kanak, Alea memang tak memiliki kenalan atau bahkan teman. Tak ada satu pun anak seusia Alea yang mau berteman dengannya. Itu karena nama belakang yang disandangnya, Vanswart. Ada rumor yang mengatakan jika Alea anak kandung dari pengkhianat kerajaan, Mikhail Vanswart.
Alea tak menyangkal atapun menerima rumor itu. Sekali lagi, ia memilih mengabaikan semua pendapat orang tentang dirinya. Karena menurut Alea, dalam dunianya hanya ada dirinya dan orang asing. Tak ada teman, sahabat, dan keluarga dalam kamusnya itu.
Kehidupannya yang baru tak banyak membawa perubahan signifikan baginya. Alea masih menikmati kesediriannya. Kecuali ada seseorang yang datang dan mulai menganggu hidupnya.
"Al, aku datang lagi ke kelasmu," seru seseorang. Kemudian orang itu memeluk Alea erat. Alea berusaha keras melepas pelukannya.
"Hentikan, Ly!" seru Alea pelan. Ia tak ingin menarik perhatian orang-orang yang masih menetap di kelasnya.
"Apa kau tidak merindukanku?" tanya Lyra dengan suara dibuat-buat. Mendengar pertanyaan Lyra itu, Alea menatapnya tajam.
"Ayolah, Al! Kita makan bersama," bujuk Lyra ketika ia melihat Alea mulai tak menggubrisnya lagi.
"Ayo, ayo, ayo!" ucapnya manja. Alea masih terus mengabaikan Lyra yang kini mulai berulah.
"Ayolah Al, apa kau tidak mau dengar pengalamanku malam ini?" bujuk Lyra lagi. Kali ini, suaranya sedikit lebih keras.
"Tidak, tidak tertarik," balas Alea datar.
"Benarkah? Padahal kemarin aku sempat melihatnya tak bernyawa lagi." Nada bicara Lyra semakin keras.
YOU ARE READING
The Letter of Life
Fantasy[Fantasy & Mystery] Ketika kehidupan ditentukan oleh sebuah surat. Jika seseorang menemukan surat ini di dalam kotak suratnya maka sudah dipastikan hidupnya akan segera berakhir. Tahun demi tahun teror surat kematian ini memakan korban. Tak pernah...
