"Setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing - masing, tidak ada manusia sempurna. Karena Kesempurnaan adalah Milik Allah SWT."
________________________
" Assalamu'alaikum Bunda." teriakan salam yang terdengar dari arah pintu dapur sedikit membuyarkan konsentrasi seseorang yang dipanggil 'Bunda' atau biasa disapa Ibu Layla. Wanita yang telah memiliki dua anak ini.
"Wa'alaikumsalam," ucapnya cepat sembari mengusap dada, beristighfar. Hampir saja loyang yang berisi kue brownies di tangannya terjatuh.
"Wah, Bunda bikin kue brownies lagi. Kok nggak bilang - bilang ke Kejora sih?" kata sesosok yang kini menatap penuh minat pada kue brownies coklat dipegangan Bunda.
"Mau bilang gimana, kamu aja pagi - pagi langsung kabur ikut Abang Syam." gadis yang biasa disapa Kejora ini hanya 'cengengesan' menimpali perkataan ibunya.
"Sini biar adek yang potongin kuenya bun," pinta Kejora yang telah duduk disalah satu kursi meja makan.
"Yaudah ini, Bunda mau bikin telur dadar kesukaan Abang dulu,"
Setelah menerima pisau potong dan kue brownies yang masih hangat. Kejora mulai melancarkan aksi potong memotongnya. Senyum lebar tak lepas dari wajah manis yang menampilkan lesung pipit pada sebelah kiri pipinya.
"Kata Abang, Bunda nggak perlu bikin kolak. Nanti Abang Syam bakal bawa dari Ar-Rahman."
Ar - Rahman merupakan panti asuhan yang didirikan oleh kakek Kejora 20 tahun yang lalu, yakni tepatnya pada kelahiran cucu pertama. Yusuf Al Syam, kakak dari Kejora yang kini tengah menempuh pendidikan dokter disalah satu kampus ternama di Yogyakata.
"Berarti nanti Abang pulang ba'dha Ashar dek?" pertanyaan sang bunda menghentikan kegiatan Kejora yang tengah memindahkan kue brownies potongannya ke piring.
"Kata Abang sih..." mendengar perkataan menggantung putrinya, Ibu Layla pun membalikan tubuh agar dapat melihat apa yang tengah dilakukan Kejora. Terlihat Kejora yang berdiri berdecak pinggang seakan menirukan seseorang.
"Ekhem, 'Adek pulang jangan mapir - mampir kemana - mana langsung ke rumah, nggak ada jadwal Wi-fi gratis di rumah Vika atau nonton film di rumah Syila. Inget! langsung pulang. Bantu bunda masak buat buka puasa nanti. Abang pulang kalo urusan di Ar - Rahman selesai.' Itu tuh bun kata Abang." Ibu Layla hanya tersenyum menanggapi Kejora.
"Padahal tadi kan Adek emang mau langsung pulang, tapi kalo udah minta film Dilan 1990 ke Syila. Dan numpang Wi-fi di rumah Vika buat download murrotalnya Taqy Malik, kan gak lama bun. Paling satu setengah jam doang. Iyakan bun?" cerita Kejora dengan penuh kekesalan.
"Istighfar dek, maksud Abang Syam kan baik. Coba kalo sekarang adek lagi di rumah Syila, pasti nggak cuma minta film aja, tapi sekaligus nonton filmnya. Nah, durasi filmnya paling nggak 1-2 jam kan? Belum lagi adek mampir ke rumah Vika, Bunda tau kalo Adek udah di rumah Vika pasti nggak cukup 1 jam karena Adek nanti bakal cerita ke nak Vika tentang Surah yang Adek download. Jadi, kalo dijumlah waktu semuanya berapa dong dek?"
"Tiga jam lebih bun," jawab Kejora tanpa ragu.
"Nah, kalo begitu Adek sampai rumah jam berapa?" tanya Ibu Laila lagi.
"Tadi kan dari Ar - Rahman jam 2, berarti Adek sampai jam 5 bun," kata Kejora dengan pasti.
"Astaghfirullah, Adek khilaf bun. Maafin Adek bunda." lanjut Kejora seraya berlari memeluk sang bunda setelah menyadari kesalahannya sendiri.
"Minta maafnya kok cuma ke Bunda sih dek, ke Abang enggak nih?" suara bass dari arah belakang Kejora, mengalihkan atensinya yang semula ada pada orang yang tengah dipeluknya. Ia pun membalikkan tubuh menghadap kakak laki-lakinya.
"Hehehe, Adek minta maaf bang, emm bun bang, kok rada bau gosong ya?" permintaan sekaligus pertanyaan dari Kejora membuat pandangan Ibu Layla dan Syam beralih pada bagian belakang Ibu Layla.
"Astaghfirullah, maaf Bunda Abang. Adek mau ngasih makan Kelinci di belakang rumah, Assalamu'alaikum." ujar Kejora cepat sambil berlari kearah pintu keluar dapur.
"Wa'alaikumsalam," jawab Ibu Layla dan Syam bersamaan.
"Bunda masak apa?" Syam bertanya pada sang Ibu yang sedang melihat kearah wajan dengan bingung.
"Telur dadar kesukaanmu bang," ujar Ibu Layla dengan pandangan yang masih belum teralihkan.
"Kok warnanya item ya bun," ungkap Syam sambil menjulurkan kepalanya untuk dapat melihat dengam jelas.
"Ya Allah telurnya gosong bang!" teriak Ibu Layla seraya mematikan api kompor yang menyala.
"Astaghfirullah, Kejora."
Sementara Kejora yang mendengar suara Bunda dan Abangnya hanya tertawa kecil.
"Untung tadi Kejora langsung kabur, iya kan Kelinci?"
____________________________
Purbalingga,
19 Ramadhan 1439 H
