Apa dia bisu? Tidak, dia bisa mendengar dan berbicara. Apa dia autis? Tidak, dia sama seperti manusia normal lainnya. Tak ada kelainan dalam dirinya, kecuali...'rasa sakit'.
***
Bapak masih setia di sana, mengamati pagi yang selalu bercumbu dengan mentari. Selalu begitu. Setiap kali aku mencoba untuk mengingatkan, ia tetap bersikukuh tak mau meninggalkan laut. Kadangkala duduk di pinggir laut, kadang pula ia duduk di atas perahu. Termenung.
Wajahnya sendu penuh keringat, kulitnya hitam dan kasar gegara panas terik yang menyengat. Bapak terlihat sangat tua diumurnya yang masih separuh umur Nabi. Kadang aku selalu menyuruh suamiku membujuknya untuk pulang, karena semakin larut ombak semakin meninggi. Namun, seolah mengajak batu berbicara, ia bungkam tak menjawab.
Aku menikah di usia muda, limabelas tahun. Sejak kecil, aku diasuh Mbah Sum tetangga samping rumah yang punya pemahaman luas dan dipercaya dapat meramal masa depan. Bapak, sama sekali tak menghiraukan keadaanku. Hanya sesekali datang menemuiku jika butuh sesuatu. Setelah itu, kembali ke laut mencari ikan.
Sudah bertahun-tahun, atau mungkin nyaris seumur hidup Bapak menghabiskan waktu di laut. Seperti suku Bajo yang menggantungkan hidupnya pada laut. Seakan laut adalah rumah utama baginya.
Meski senja sudah merangkak ke peraduan, tak bergerak pula ia dari tempatnya. Terlihat punggung Bapak dari kejauhan, tak satu pun nampak seekor ikan yang berhasil ditangkapnya. Ikan jenis apa sebenarnya yang Bapak cari. Orang bertanya-tanya.
Ia masih setia di atas perahu, seperti menunggu bintang berjatuhan dari altar langit saja. Dengan jawaban yang masih sama, “Bapak tak mau pulang jika belum menangkap ikan.”
“Kalau begitu mari saya bantu mencarikan ikan,” sahut suamiku.
Ia tak menjawab. Entah apa yang ada dalam pikiran Bapak selama ini. Barangkali ada sesuatu dibalik kebungkaman lelaki paruh baya itu. Barangkali pula, ada banyak rahasia yang ia sembunyikan padaku, anak satu-satunya yang ia miliki. Setiap aku bertanya, jawabannya hanya singkat, membuatku kadang merasa dongkol.
Aku yang mengandung anak pertamaku, tak tahan lagi melihatnya seperti itu. Suamiku pun sudah kehabisan kata-kata menghadapi kebungkaman Bapak. Apa yang terjadi dengannya, kami tak tahu. Bahkan para nelayan lain menganggap Bapak sudah gila, tak mau beradaptasi dengan orang-orang disekitarnya. Ia lebih dikenal sebagai manusia perahu daripada seorang nelayan.
Aku selalu saja mengeluh pada Mbah Sum tentang Bapak. Namun, baru kali ini ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Bapak kau itu, punya masalalu yang buruk, Cah. Bersama Ibu kau!” Mbah Sum berkata padaku saat bersama-sama duduk di atas amben.
“Bersama Ibu?” Aku bertanya disertai perasaan yang berdebar-debar.
“Tapi kau jangan bilang siapa-siapa. Ini rahasia yang sudah Mbah tutupi sejak lama. Mbah hanya kasihan melihatmu, Cah.”
“Aku janji Mbah. Sejak kapan aku mengingkarimu. Ceritakanlah segera, Mbah!”
Matanya berkeliaran memastikan tak ada seorang pun yang dapat mendengar pembicaraan kami. Mbah mendekatkan mulutnya ke wajahku.
“Mendiang Ibu kau dulu adalah seorang perempuan geladak!” bisikannya bagai belati menghunus jantungku. Sejak kecil aku memang tak pernah melihat rupa dan wujud Ibu yang sering disebut-sebut Mbah Sum. Namun, tiba-tiba pernyataan itu membuatku lemas. Apa yang dikatakan Mbah Sum seringkali memang benar. Perempuan geladak tak akan pernah dibiarkan hidup di suku kami. Kalau tidak disiksa, maka ia harus mati dibunuh sebagai hukuman baginya.
“Setelah kejadian itu, Bapak kau berikrar tak ingin lagi menempati rumah yang kau tinggali itu.”
Dan, Mbah Sum mulai bercerita.
***
“Jangan kau bunuh anak kita!” air matamu berguliran begitu deras menggendong anak yang masih orok.
“Anak kita? Kau bilang ini anak kita? Kalau kau tak mau serahkan anak ini padaku, maka kau juga akan mati ditanganku!” gertakku padamu.
Aku tak bisa menguasai diriku sendiri, Jum. Rasa benci yang kumiliki ternyata begitu dalam sehingga anak kau itu menjadi incaranku. Aku tak lagi mengenal rasa belas kasih sejak kau campakkan rasa cinta yang kumiliki.
“Tolong jangan lukai anak ini. Bunuhlah aku, karena ini memang kesalahanku. Tapi jangan kau bunuh anak ini,” rengekmu.
Lihatlah, betapa kau begitu menyayangi anakmu. Bahkan nyawamu sekarang kau serahkan begitu saja demi anak haram itu. Masih adakah sedikit sisa-sisa cintamu yang kau berikan padaku, Jum? Kurasa kau lebih mencintai lelaki bangsat itu.
Ya, lelaki bangsat itu, kan? Kau lupa? Baik akan kuingatkan. Saat suamimu ini mengarungi lautan demi memberimu hidup, ternyata kau malah asyik dengan lelaki lain. Menemuimu di gubuk kita. Di kamar kita. Mudah saja mendengar suara kau dan dia yang tengah bercumbu, Jum. Dan mataku nyaris buta saat aku menemukan kalian berdua di atas ranjang milik kita.
Hingga saat itu, aku tak lagi mau pulang. Mataku nanar seakan ingin mengeluarkan darah. Separuh hidupku kuhabiskan di atas perahu bersama nyanyian ombak. Sebab perahu selalu setia pada laut kemana pun ia bermuara.
Kini aku datang Jum. Saat ku dengar kau melahirkan seorang bayi perempuan. Aku yakin itu bukanlah darah dagingku. Dan kau dengan begitu lancangnya menemuiku dan berkata bayi itu adalah anak kita. Betul ingin kusumbat mulutmu.
“Maafkan aku, Mas. Ini memang salahku, tapi jangan kau luapkan amarahmu pada anak ini. Anak ini suci, Mas.”
“Tapi ini anak haram! Aku tak ingin ada anak haram yang aku pelihara di rumah ini.”
“Mas, ini anak kita! Percayalah padaku meski kali ini saja.” Kau berlutut dihadapanku dengan begitu tulusnya. Seperti tak ada tanda-tanda kebohongan pada wajahmu kali ini. Bahkan aku tak mengerti skenario apa yang kau buat. Aku merasa tak cocok untuk memainkan peranku sendiri.
Aku sudah muak mendengar ocehanmu. Sudah cukup penderitaan yang kau torehkan kesekian kalinya padaku. Tatkala belati yang sudah lama tertancap pada dinding kayu kamar kita, seketika membuatku semakin berselera untuk menancapkan pula tepat ke hatimu yang berkhianat itu.
Dengan tawa yang penuh kebencian, kucabut belati yang menempel itu. Kau yang tampak memohon terlihat seperti kambing ternak yang merengek menolak sembelihan. Seketika itu pula kau meletakkan orok di atas ranjang dan menyerahkan jiwa ragamu untuk menjadi santapanku malam itu.
“Ternyata kau sudah siap untuk mati,” kataku terkekeh.
“Bunuhlah aku. Tapi kumohon kau jangan menyentuh sedikit pun bayi ini,” jawabmu berurai air mata darah.
“Aku akan membunuhmu lebih dulu agar tak dapat melihatmu menderita akibat kematian bayimu. Itu sebuah keringanan bagi kematianmu.” Aku tertawa licik.
Aku sudah tak lagi punya hati. Semenjak dadamu tertusuk belati, saat itu aku sudah mulai gila. Ya, aku jadi orang gila yang haus darah. Kini santapanku berikutnya adalah bayi perempuanmu.
Mataku memicing, bayi itu tersenyum padaku. Dan wajahnya sangat mirip denganku, mengingatkanku pula pada senyumanmu, Jum. Kini kau telah terkapar bercucuran darah.
***
YOU ARE READING
Cerita Usang yang Tak Usai
Short Story"Mendiang Ibu kau dulu adalah seorang perempuan geladak!" bisikannya bagai belati menghunus jantungku.
