"Sa.. Nisa bangun!" Ucap seorang wanita bermukena putih sambil mengguncang bahu Nisa.
"hmm..mh"
"Nisaaa..!"
Orang yang dipanggil malah membalikkan tubuhnya.
"Sa... Astagfirullah, udah jam enam!"
Deg.
Orang yang dipanggil Nisa seketika membuka matanya.
"Aaaah... Mamaaaa!!"
Nisa segera menyingkap selimutnya dan bergegas berlari ke kamar mandi.
"Sa, Shalat shubuh dulu!" teriak mamanya.
"Entaran aja, telat nih!"
Nisa segera mandi secepat kilat karna takut terlambat ke sekolah.
Setelah selesai, Nisa berlari kecil ke kamar sambil mengenakan handuk.
"Sa, jangan lupa shalat shubuh dulu!" Mamanya kembali mengingatkan.
"Hmm..mh"
Dikamar, Nisa segera melaksanakan shalat shubuh yang entah masih bisa atau tidak karna matahari telah tampak. Tak sampai 5 menit ia menyelesaikan shalat kilatnya, malah waktu yang dihabiskan di depan cermin jauh lebih lama dibanding shalatnya tadi.
"Ma, Nisa berangkat"
"Makan dulu gih, mama siapin roti tuh"
"Makan di jalan aja deh,
uang jajan?" Pintanya sambil menjulurkan tangan.
Setelah diberi uang dan berpamitan, dengan setengah berlari Nisa menghampiri tukang ojek.
"Bang, ke gang depan ya!"
"Siap neng!"
Sebenarnya Nisa tergesa-gesa bukan karna terlambat, tapi karna Aldo telah menunggunya di gang rumahnya. Karna jaraknya lumayan jauh dan Nisa tak ingin dijemput di depan rumah, Aldo dengan setia menunggunya di depan gang.
"Nih bang, makasih." Nisa memberi selembar uang lima ribu dan langsung berlari menghampiri Aldo yang telah menunggu lama.
"Lama banget sih?" Ucap lelaki bernama Aldo
"Hehe.. Kesiangan"
"Kalo kesiangan lagi aku gak mau jemput ya" Ucap Aldo sambil menyalakan motornya.
"Ish gitu!"
***
Nisa POV
Berdua di motor bersama Aldo memang selalu menyenangkan, eh kecuali kalau dia lagi marah pasti ngebut sampai bikin merinding. Aku dan Aldo adalah teman sekelas, kami berpacaran dari kelas satu SMA dan sekarang tinggal setahun lagi kami menunggu kelulusan. Awalnya Aldo adalah teman pertamaku dikelas, disaat tidak ada orang yang mengajakku bicara dia yang selalu mulai bertanya padaku mesti aku selalu menjawab dengan ketus.
Lama kelamaan kami mulai dekat sebagai teman, ia selalu mengantarku dan menemaniku menunggu angkutan karna ketika itu Aldo belum membawa motor. Bagiku Aldo adalah orang yang selalu ada kapanpun aku butuhkan, selalu mendengarkan keluhan-keluhanku, dan selalu menghiburku ketika aku sedang sedih atau tidak mood, Aldo juga selalu sabar dengan sikapku yang moody. Ah beruntungnya aku bisa bersama Aldo.
Tak sampai 20 menit akhirnya kami sampai di sekolah dan di sapa oleh satpam di depan gerbang. Kami berjalan bersisian menuju kelas dan langsung disambut oleh obrolan dan tawa teman-teman baik kami.
Oya, kami bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan dan karna jurusan kami baru ada satu kelas kami semua tak pernah berganti teman sekelas. Namun kami tak pernah merasa bosan, semakin lama justru semakin terasa seperti keluarga.
Hal inilah yang membuatku lebih senang berada di sekolah daripada di rumah. Apalagi setahun belakangan suasana rumahku terasa sangat jauh berbeda semenjak kedua adik laki-lakiku belajar mengaji di rumah seorang kenalan omku. Malah setiap sabtu Mama juga ikut-ikutan belajar mengaji bersama istri dari guru ngaji adik-adikku itu. Nah dari situ banyak yang berubah dari Mama terutama soal pakaian. Mama yang tadinya modis dan pakai jilbab ala sosialita berubah 180 derajat, setiap hari pakaiannya selalu seperti mau pengajian. Gamis dan jilbab panjang nan lebar menjadi pakaian wajibnya saat keluar rumah.
Jujur aku risih melihat perubahan keluargaku, mulai dari mama lalu papa yang jadi berjenggot dan celananya selalu seperti orang kebanjiran, bahkan adik-adikku juga ikut pakai celana ngatung diatas mata kaki. Ah, aku jadi seperti anak dari planet lain jika bersama mereka. Jangankan pakai jilbab panjang, jilbab yang pendek saja hanya aku kenakan di hari Jumat.
Tapi untunglah aku selalu merasa normal jika sedang bersama teman-temanku, mereka yang selalu membuatku tertawa dan melupakan keadaan keluargaku. Rasanya aku tak ingin cepat-cepat lulus dan berpisah dengan mereka.
***
YOU ARE READING
Petrichor.
SpiritualPetrichor, The wonderful smell in the air after it's been raining. Untukmu yang merasa hidup ini penuh dengan ujian, percayalah tak akan ada pelangi sebelum hujan.
