AYRA

21 0 0
                                        


Terlahir di usia 27 minggu, dengan bobot 1,4 kilogram, membuat bayi mungil itu harus berjuang keras untuk dapat tetap hidup. Sebagai anak pertama yang dinantikan, kondisinya benar-benar membuat kedua orang tuanya bersedih.

"Bayi kita lemah sekali, Pa. Mama tidak yakin dia bisa bertahan."

Seorang perempuan muda terlihat menangis di depan ruangan berpembatas kaca. Terdapat beberapa 'incubator' di sana. Tidak hanya satu, ada dua bayi lain dengan kondisi yang sama dengan bayi mereka. Terlahir sebelum waktunya. Prematur.

"Mama harus optimis. Dokter akan membantu menangani bayi kita. Semua akan baik-baik saja."

"Tapi, Pa-"

Gilang yang sejak tadi berada di sisinya meletakkan ujung telunjuk ke bibir Diana. Wanita itu pun terdiam.

"Ayo kembali ke kamar. Mama harus banyak istirahat."

Ia lalu mendorong kursi roda Diana, menuju ruangan yang berbeda, namun masih berdekatan dengan ruangan tadi.

Mereka memasuki ruangan bercat hijau muda, dengan hembusan pendingin udara yang begitu terasa. Dihentikannya benda beroda itu tepat di sisi tempat tidur berlapis seprai warna senada dengan tirai dan dinding kamar. Ia mengangkat Diana perlahan, lalu meletakkan botol infus pada tiang yang berada di sisi kanan.

"Mama istirahat ya. Papa mau jemput Ibu di rumah. Ibu sudah tidak sabar mau melihat cucunya."

"Iya, Pa."

Setelah menyelimuti Diana, Gilang pun berlalu.

***

Gilang kembali ke rumah sakit dengan membawa seorang wanita paruh baya. Ia ibunya Diana.

"Assalamualaikum"

"Wa 'alaikum salam. Mari masuk, Bu."

Diana terlihat senang melihat ibunya datang, namun sejurus kemudian raut mukanya berubah. Ia menangis.

"Lah, dijenguk ibu kamu kok malah nangis? Harusnya kan bahagia, sudah menjadi wanita seutuhnya."

"T- t- tapi, Bu ..." Diana terbata-bata, "bayi itu lahir sebelum waktunya," ia menangis sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.

"Insya Allah, dia bisa bertahan. Laki-laki atau perempuan?"

"Perempuan, Bu."

Diana masih sesenggukan. Gilang mencoba menenangkan. Diambilnya segelas air putih yang sedari tadi terletak di atas nakas.

"Rencananya mau dikasih nama apa?"

"Ayra, Bu." Gilang meletakkan kembali gelas yang kini kosong, "Diana sangat menyukai nama itu. Ia sudah menyiapkannya jauh-jauh hari."

"Benar, Nak?" Wanita itu memastikan.

"Iya, Bu." Diana mengangguk perlahan.

***

Ayra tumbuh begitu cepat. Usianya lima bulan sudah. Namun ada hal yang membuat Diana sedikit heran. Setiap kali ia mengajak Ayra berbicara, bayi mungil itu tidak pernah merespon.

Sore ini ia berencana mengajak Gilang ke dokter, memastikan kondisi Ayra.

Dokter yang akan didatangi sore ini adalah dokter Darwin, seorang spesialis anak yang terkenal di kota ini. Tangannya dingin. Dengan izin Allah, banyak bayi dan anak yang terselamatkan.

Setelah mengantre sekitar lima belas menit, tibalah giliran Ayra untuk diperiksa.

"Selamat sore, Dok."

Inspiring StoryHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora