Prolog

59 9 7
                                        

"To all the passenger, here's is your captain speaking,in a few minutes we will touch down in Kualanamu International Airport. It's now 13.30 in Medan since Medan is 1 hours ahead of Malaysia. The weather's perfectly bright. Please be seated and fasten your seatbelt. "
         Di antara suara statis dari kokpit yang memberitahukan bahwa pesawat yang ia tumpangi akan segera mendarat,seorang gadis dengan rambut cokelat pendek yang duduk dibangku enam masih terlihat sibuk dalam buku-buku tebal itu yang ia bawa, seakan tidak mendengar ocehan sang pilot yang berkumandang lewat pengeras suara.
          Namanya Dhira.Gadis sederhana yang memiliki mata bulat dan cokelat, hidungnya mancung dengan ujung yang runcing, sedangkan pipihnya mungil seperti anak kecil.
          Arakan awan putih yang bergelung dilangit senja dan sinar mentari sore yang menembus masuk lewat jendela dan menyita perhatian gadis itu. Ia mengalihkan pandangan ke arah langit-langit itu. Jari-jarinya perlahan menyentuh kaca jendela di sisinya,seakan ingin menyentuh gumpalan awan yang berada disitu.
            Tanpa Dhira sadari, perlahan ia meraih sesuatu dari tasnya. Sebuah buku album dengan gambar pelangi, tertulis nama yang sudah ia berusaha untuk melupakannya. Gadis itu menyandarkan kepala.,bibirnya kemudian menghela nafas berat.
             "Album itu masih ada? "tanya suara yang berasal dari sisi kiri Dhira. Ia menoleh sedikit, mendapati kakaknya, Noah sedang menatap album dalam genggamannya.Dhira tersenyum tipis.
              "Masih belum bisa melupakannya ya? "tanya Noah lagi. Manik matanya memancarkan rasa penasaran yang besar. "Dhir, sudah 5 tahun kamu menyimpan luka itu. Lupakan saja dia."Dhira terdiam sejenak, "Saya bisa membaca itu dari mukamu. Dia sudah tiada, jangan simpan kenangan itu lagi. Itu akan menyakitimu."
             Kali ini mata gadis itu mulai berkaca-kaca, mulai teringat dengan masa-masa itu lagi. "Somethings are better left unsaid,"balas Dhira singkat.
             Kali ini ekspresi Noah berubah serius. Sorot matanya melembut saat ia menatap Dhira saraya berbisik sendu, "When the time comes, you'll see how much you regret not sayingthe things that you wanted to say to someone that means the whole world to you. Trust me. "
             Dhira memilih untuk bungkam, menutup mulutnya rapat-rapat.Dieratkannya genggaman pada album yang telah menemaninya 5 tahun setelah kepergiannya. Berat dan menyakitkan. Seakan ada luka yang kembali terbuka dan perihnya kian terasa setiap ia melihat foto-foto tersebut.
             Perlahan tapi pasti,Dhira menutup mata,membiarkan realitas meluruh selagi potongan gambar yang berasal dari masa lalu mengelilinginya. Menghantarnya ke satu masa ketika semuanya belum berubah.
-----------------------------------------------------------
The Last Day
Tolong vote dan comments jika ada kesalahan kata-kata! Cerita ini akan saya publish setiap Sabtu&Terimakasih yang telah mendukung!

The Last DayWhere stories live. Discover now