Dua gadis yang duduk paling belakang di kelas asyik cekikikan. Daripada membuang-buang waktu dengan mendengarkan Pak Sabar menceritakan masa lalu yang membosankan dan seperti orang gagal move on, lebih baik mereka mengambil foto teman-temannya yang tengah tertidur ditambah filter Snapchat yang lucu, pikir mereka.
Seperti namanya, Pak Sabar memang sabar. Beliau tahu apabila hampir seluruh muridnya tidak mendengarkan penjelasannya. Akan tetapi, beliau tidak mau makan gaji buta. Pak Sabar tetap menjelaskan materi-materi. Lagipula, murid-murid yang duduk di barisan terdepan tetap mendengarkannya, kok.
"Anjir! Hidungnya jadi kelihatan penyek, gitu!" Gadis itu memukul paha gadis yang duduk di sebelahnya itu sembari menahan tawa. Gadis di sebelahnya tertawa sebentar, lalu menjawab, "Emangnya lo mancung, Van?"
"Dih, yang pasti Vanessa lebih mancung daripada lo, Micin Sasa!"
"Eh, kurang ajar! Nama gue udah bagus-bagus Clarissa kok disamain sama micin .... "
KRINGGGG
"YES!"
Teriakan bahagia murid-murid kelas Vanessa otomatis terdengar usai bel pertanda pulang berdering. Secepat mungkin mereka memasukkan buku dan alat tulis mereka ke dalam tas, lalu mengucapkan salam kepada guru dan terburu-buru keluar kelas seperti di dalam kelas adalah penjara.
Vanessa dan Sasa memasukkan barang-barang mereka ke dalam tas dengan santai. Prinsip mereka adalah tidak usah terburu-buru; yang penting, tidak ada bencana alam dan perut tidak dalam keadaan kosong.
Seorang laki-laki yang berada di depan Vanessa membalikkan badannya agar menghadap Vanessa. "Vanes, lo pulang sama Bima?"
Vanessa mengangguk. "Iya, tadi gue udah janjian sama Bima. Kita rencananya mau makan juga. Lo antar Sasa aja, ya? Mau hemat uang, tuh, Sasa."
Laki-laki itu hanya "Oh" tanpa mengeluarkan suara. "Ya udah, Sa, pulang sama gue, ya."
"Makasih, Ozzi." Sasa tersenyum manis kepada laki-laki yang bernama Ozzi itu. Ozzi menjawabnya dengan anggukan kepala seraya tersenyum manis pula. Mereka berdua segera pamit kepada Vanessa. Tak lupa, Sasa melayangkan tatapan berterima kasih kepada Vanessa karena Vanessa sudah berjasa dalam misi pendekatan Sasa dengan Ozzi.
Vanessa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dan terkekeh melihat sahabatnya yang jatuh cinta dengan sahabatnya juga. Mereka bertiga memang sudah bersahabat sejak SMP kelas 7. Kini mereka sudah kelas 11 yang berarti persahabatan mereka sudah berjalan sekitar empat tahun. Maka dari itu Vanessa heran, bagaimana bisa Sasa jatuh cinta pada Ozzi setelah bersahabat selama empat tahun. Pengakuan Sasa itu baru diungkapkan kepada Vanessa kemarin malam lewat video call. Tentu saja untuk masalah cinta, Vanessa tidak bisa melarangnya. Sebab, cinta datang tanpa diundang dan tidak bisa dipaksakan.
Setelah pengakuan Sasa, Sasa meminta tolong kepada Vanessa agar Vanessa mau membantu mereka agar lebih dekat alias meminta Vanessa untuk menjadi mak comblang. Dengan senang hati, Vanessa membantu sahabatnya.
Getaran ponsel di saku rok Vanessa membuyarkan lamunan Vanessa tentang sahabatnya tersebut. Tangannya bergerak untuk mengambil benda pipih berwarna putih itu.
Bima <3
14.04
Bima <3 : aku udh nunggu di parkiran beb
14.05
Vanessa AN : bentar
Vanessa melangkahkan kakinya menuju keluar kelas. Sesekali ia tersenyum pada temannya yang menyapa dirinya tatkala berpapasan. Ketika sampai di area parkir, mata Vanessa menyapu pandangan ke segala penjuru. Akhirnya, matanya menangkap bayangan seorang laki-laki jangkung yang tengah menyandarkan punggungnya di sebuah mobil berwarna hitam. Kakinya berlari kecil menghampiri laki-laki itu.
YOU ARE READING
Balavan
Teen FictionKehidupan Vanessa selama ini tenang-tenang saja. Ditambah dengan Bima, pacarnya yang lebih tua satu tahun darinya itu, kehidupan Vanessa semakin berwarna. Perilaku dan ucapan Bima yang manis selalu mampu membuat Vanessa tersenyum bahagia. Namun, ti...
