" fiyuh! panas banget! " keluh cewek berkucir satu dengan topi adidas putih sembari mengelap keringat di pelipisnya.
Hari ini Jakarta terasa sangat panas entah ia merasakan sendiri atau orang lain juga merasakankannya. Asap kendaraan dan debu yang beterbangan menambah rasa panas ini, seperti paduan yang sangat pas.
Ia mengedarkan pandangan kesana kemari mencari sesuatu. Senyumnya merekah ketika ia menemukan apa yang dicarinya, ia melangkahkan kakinya menuju bangunan diseberang jalan dengan meja bundar dan payung besar yang menancap ditengahnya dan kursi lipat putih yang tertata rapi. Warung.
" bu! Air putih botol yang es satu! " pesannya dengan lembut dan mendapat anggulan penjual. Tak berapa lama sebuah botol dengan embun es diluarnya teracung didepannya.
" berapa? " ia mengambil alih botol.
" 3000 kak " jawab penjual yang masih muda, seumurannya mungkin.
Gadis yang dipanggil kakak itu merogoh tas kecil creamnya lalu mengeluarkan 2 lembar uang dengan total 3000 lalu menyerahkannya ke penjual.
" makasih. " ia berbalik menuju bangku yang disiapkan lalu mendudukkan diri. Membuka botol lalu menenggak isinya hingga setengah lalu menutupnya kembali.
Dia terdiam sebentar, matanya memandang lurus kedepan yang menampakkan pemandangan orang orang yang berlalu lalang, sibuk dengan urusan mereka masing masing. Menerobos sorot panas matahari. Ia mendongak menatap matahari dengan mata menyipit, menunduk kembali menatap jam putih yang sedikit tertutup oleh lengan hoodie pinknya.
Ia menghela nafas, " jam 1. Pantes aja panas banget. "
Ia mengambil handphonenya yang bergetar, sebuah notifikasi line terpampang jelas dilayar benda lonjong pipih pinknya.
Moms💕: where are u princes? Jam. segini kok belum pulang?
Me : otw pulang.
Ia menyimpan kembali benda itu dikantong hoodie nya. Ia beranjak menyebrang jalan kembali, ia memutuskan untuk naik metromini.
Sebuah metromini merah melaju kearahnya tak lupa ia mengibaskan tangannya sebagai tanda menghentikan metromini. Buru buru ia melangkah masuk.
"Aish! Salah bis gue!" Pekiknya melihat keadaan bis super duper ramai bin sumpek. Ditambah lagi dengan aroma keringat yang menyambut indra penciumannya.
"Sabar ini cuman sebentar doang kok, cuman beberapa menit. Sabar. " Batinnya seolah pasrah pada keadaan.
5 menit disini serasa 5 jam, badannya yang kecil terpaksa terombang ambing kedepan dan kebelakan seperti gantungan kunci. Pandangannya mengedar mengamati para penumpang bis, kebanyakan dari mereka memilih berdiri sama sepertinya karena harus mengalah untuk para wanita hamil, nenek nenek, ibu ibu. Namun pandangannya berhenti pada seorang cowok berjaker hoodie hitam dengan kudung yang menutupi wajahnya. Tertidur, dengan earphone putih yang tersumpal dikedua telinganya.
Dahinya berkerut entah mengapa ia sangat kesal dengan laki laki ini, sikapnya yang masa bodo dengan keadaan dan tak mau mengalah, masa ada cewek yang terombang ambing bukannya ngalah malah diem diem bae. Ngalah ngapa!
" ini orang hatinya digadai in atau apa sih? Nggak tau apa ada cewek didepannya bukannya ngalah malah molor! " ia mengamati cowok itu dengan tatapan sinis bin tajam bak pisau yang baru diasah.
YOU ARE READING
Be Mine?
Teen FictionMasa masa SMA adalah masa yang ditunggu tunggu oleh para anak muda. Masa dimana mereka merasakan falling in love yang lebih greget. Sama halnya dengan Adriene Rasi Langit, gadis bertubuh mungil dengan mata abu abu kehijauan nya itu melangkahkan kak...
