Reflection (1)

16 1 0
                                        

     "Ta, sebenarnya ada yang mau gue omongin sama lo,"

    "Reza mau ngomong apa sama Tata?" tatapan polos dari gadis di hadapannya semakin membuat Reza mati kutu. "Sebenarnya gue mau bilang kalau gue udah lama su—"

    "Nanda" Kevin yang sudah hafal suara manja Agata langsung menghampiri gadis yang tengah berdiri di depan ruang guru.

    "Ih Nanda mah tanya kek ke Tata ada apa, ini malah cuma ngangkat alis doang" Agata berpura-pura merajuk pada sahabatnya, tetapi sosok jangkung dengan hiasan headbang di kepalanya tersebut sama sekali tidak memperdulikannya. "Lho, Nan si Reza kemana ya? Tadi kan ada disini? Ah udahlah bodo amat yang penting ada Nanda" Agata menjulurkan kedua tangannya di hadapan Kevin "Nih" sekotak susu ultra strawberry kini siap menemani pagi Agata.

    "Bukan susu Nanda, tapi Tata mau nagih janji!"

    "Janji? Janji apaan?" Agata mengikuti langkah besar Kevin menuju ke kelas mereka. "Jangan asal ngejeplak deh Ga!" Agata yang kesal langsung mencubit pinggang Kevin.

    "Tata mah nggak mungkin asal jeplak, ya kan Ntin?" Agata kembali melanjutkan perjalananya.

    "Emang cewek kepang dua tadi namanya Ntin ya?" Kevin itu mempunyai sifat susah menghafal nama orang. "Seingat gue bukan itu deh namanya dia,"

    "Emang Nanda tau dia siapa?" lamat-lamat pria itu menggelengkan kepalanya.

    "Kan waktu Tata menang main monopoli, Nanda janji mau nuruti apapun permintaan Tata"

    "Iya tapi permintaan lo tuh absurd semua wahai sahabatku yang paling jelek,"

Agata menggeleng dengan tegas. "Nggak kok Nan, permintaan Tata kan cuma pintu doang"

    "Pintu? Jangan bilang lo masih mau minta pintu kemana saja? Ya ampun Ga, doraemon tuh nggak ada di dunia nyata" Kevin menjambak rambutnya kesal karena ulah Agata yang hanya mengangguk lalu menggeleng.

    "Itu maksudnya apa?"

    "Iya Tata mau pintu kemana saja, tapi bukan mau ketemu doraemon. Soalnya Tata tau kalau doraemon tuh nggak ada,"

    "Cakep" Kevin mengacungkan jempol pada Agata. "Akhirnya lo paham juga maksud gue"

    "Iya Nan, kan doraemonnya lagi ngejengukin Kak Ros. Nanda tau kan siapa Kak Ros? Itu loh Nan akaknya Upin & Ipin," Agata cengengesan tanpa rasa bersalah. "Nah sekarang Tata mau ketemu sama BTS," nama itu seperti tidak asing di telinga Kevin.

   "Ya elah Ga, kita kan baru naik kelas 12. Nanti pas kita lulus baru dibagiin BTSnya alias Buku Tahunan Siswa," Agata yang tadi cengengesan tak jelas langsung mingkep mendengar penuturan Kevin.

    "Nanda mah u'un kayak su'un" setelah membuang susu strawberry yang telah habis, Agata memasuki ruang kelas barunya bersama dengan Kevin.

    "Haloha teman-temanku yang daebak, yang belum kenal sama Tata, kenalin nih ya nama asli Tata tuh Agata Vrecinia. Nah kalian boleh manggil Tata apaan aja tapi jangan manggil Tata sayang ya, itu mah bukan nama lengkapnya Tata hehehe"

entah berasal darimana kekompakan anak-anak kelas 12 IPA 3 tersebut. "IYA IJAAAAH" yang justru membuat Kevin tertawa saat Agata mendengus sebal.

    "Selamat pagi anak-anak, perkenalkan nama saya Harnoko Joyo, tapi kalian bisa memanggil saya dengan Pak Har saja. Disini saya akan mengajar dibidang studi Fisika, Oke cukup sekian saya memperkenalkan diri. Sebelum kita memulai pelajaran, tolong saudara Kevin dan saudari Agata untuk tidak duduk satu meja!"

    "Maaf Pak tapi saya dan Nanda kebetulan anak tunggal jadi nggak punya saudara maupun saudari, eh tapi kalau sepupu si Nanda mah punya Pak, saya nggak punya sepupu Pak soalnya kan Ibu saya anak tunggal juga." Pak Har segera mengontrol mimik kebingungannya.

    "Agata kamu duduk sama Adelric, nah Zeta kamu duduk sama Kevin"

    "Tapi Pak, saya kan maunya duduk sama pacar saya" Zeta masih tetap keukeuh pada posisinya.

    "Nggak ada tapi-tapian Zeta! Cepat pindah!" misuh-misuh Zeta duduk di tempat Agata, sementara Agata kini sudah duduk manis di tempat Zeta.

    "Hallo Adel," Agata mencolek lengan Eric. "Adel kalau lagi tawuran seram banget deh. Jelek Tata nggak suka, Tata sukanya kalau Adel lagi diam kayak gini," Agata pikir Eric akan menggenggam tangannya, namun ringisan di wajah gadis itu sudah menunjukan seberapa sakitnya remasan tersebut. "A-aw" Agata berusaha melepaskan tangannya dari jeratan Eric.

    "Seharusnya tuh cewek manja dan nggak punya otak kayak lo dimasukin ke rumah sakit jiwa," Eric berharap gadis yang duduk di sebelahnya akan sakit hati lalu menjadi arca sekalian.

    "Perkataan Adel mah sama sekali nggak nyakiti hati Tata hehehe, tuh si Nanda yang duduk sama Zeta baru omongannya kayak semut bangkot nyelekit. Dia sahabat Tata, Del"

    "Bodo anjing" dengan suara sepelan mungkin Eric mengumpat kasar pada Agata.

    "Adel suka juga ya sama anjing? Wah sama dong kayak Tata, tapi ya Tata tuh lebih suka sama anak anjing lebih menggemaskan. Adel kok diam aja sih? Adel nggak boleh cuek sama Tata, nanti Tata nangis nih" penjelasan Fisika Pak Har saja tak digubris oleh Eric, apalagi perkataan gadis gila di sampingnya ini.

    "HUAAA... Hiks... Hiks...Hiks" tangisan Agata yang keras tersebut mengundang perhatian seluruh siswa 12 IPA 3. "Hiks... Hiks"

    "Ada apa ini Agata?" Pak Har menghampiri mejanya dan Eric.

     "Adel, eh maksud saya Eric, dia mau... Hiks...Hiks... nyium saya Pak, tapi saya nolak dan akhirnya dia remas pergelangan tangan saya" Pak Har memeriksa tangan Agata dan benar saja terdapat bekas merah disana. "Eric kamu ikut saya ke ruang BK!"

    "Pak tapi saya nggak berusaha melakukan tindakan pelecehan terhadap dia," Pak Har segera membawa Eric menuju ruang BK.

    "Kalian jangan ada yang keluar kelas, kerjakan buku paket halaman 185!" dengan kikuk mereka semua menuruti perintah Pak Har.

    "Aduh Ga lo tuh seharusnya liat gadis disamping gue udah matahin pensil gue karena ulah lo!" di tempat duduknya Kevin mengacak rambut dengan frustasi.

ReflectionWhere stories live. Discover now