Siapa ini??

445 32 14
                                        

Sepulang sekolah sampai dirumah Stefi langsung duduk diruang tamu.
Dia membuka tas sekolah dan mengambil sebuah kertas kecil yang ada didalamnya setelah itu dia merogoh ponsel yang ada disaku kemeja sekolah yang sedang dikenakannya.
Sebenarnya ponsel itu sudah dalam keadaan tidak menyala tapi karena dia sudah tidak sabaran maka dipaksanyalah untuk menyala dan benar saja ponsel itu memunculkan pemberitahuan untuk di charge tapi Stefi mengabaikannya, tangan kanannya memegang handphone tangan kirinya memegang kertas, sementara mulutnya komat kamit menyebutkan angka yang tertulis dalam kertas itu, jari jempolnya menekan keyboard pada layar ponsel mengikuti angka yang disebutkannya sendiri.

Selesai mengetik dia memastikan lagi bahwa sederet angka yang diketiknya sesuai yang ada tertulis dikertas tersebut lalu dia menekan gambar telefon yang ada dilayar handphone itu kemudian diarahkanlah ketelinganya.

Beberapa saat kemudian suara sambungan terdengar ditelinganya.
"wah tersambung"
Senyuman bahagia Stefi mengembang ketika mendengar suara sambungan itu.

Butuh beberapa kali suara sambungan itu berbunyi dan..

"halo"

Mendengar suara dari yang mengangkat panggilannya itu tiba-tiba saja kegugupan melanda dirinya "ha.. halo"

"halo.. ini siapa?"

"ha halo.. aku.. aku.. emm.. anu.. aku.."
Suaranya jadi terbata-bata sangking gugup.
"aaarrrgg.. apaan sih aku ini" batinnya, dia merutuki dirinya sendiri karena baru via phone saja dirinya sudah lebay begini.

"maaf.. Suaramu tidak jelas, siapa ya??"

"......."

"halo"

"........"

"halow.. masih ada orang disana?"

"........." Stefi sengaja daritadi diam, dia mengabaikan pertanyaan dari orang tersebut karena indera pendengarannya sedang fokus ke suara orang itu, pikirannya sedang mencerna siapakah sebenarnya pemilik suara itu.

"halo.." panggil orang itu lagi.

"........."

Stefi masih diam, menurutnya suara lawan bicaranya itu berbeda dengan suara seseorang yang ingin dia hubungi namun dia sendiri masih belum yakin.

"ah.. mungkin perasaanku saja" batinnya.

"ini siapa kok diam, niat nelfon gak sih, aku matiin nih?" ancam orang itu sepertinya dia kesal karena Stefi tak kunjung menjawab pertanyaannya.

"umm.. tunggu..tunggu. Aku Stefi"
Seakan mengerti dengan perasaan lawan bicaranya itu, Stefi mengeluarkan suara lagi sejak kediamannya, mungkin dengan mendengar namanya orang itu bisa tahu bahwa Stefi lah yang menelfonnya dan bisa cepat mengetahui apakah dia orang yang Stefi maksud atau bukan.

"Stefi?" tanya lawan bicara Stefi dengan nada yang terdengar bingung.

"Iya, aku Stefi" jawab Stefi.

"Stefi yang mana ya?" tanya orang itu lagi.

"kita sering ketemuan kok disekolah, kamu gak ingat?" balas Stefi.

Ada jeda disana..
Sepertinya orang diseberang itu sedang berpikir.

"umm.. seingat saya, saya tidak ada teman yang bernama Stefi disekolah."
Itulah jawaban yang terdengar oleh Stefi setelah menunggu jeda dari lawan bicaranya itu.

"........."

Mendengar penuturan orang itu Stefi terdiam lagi dan kali ini dia bingung mau ngomong apalagi.

"halo??"
Panggilan orang itu sukses membuat Stefi tersadar dari kebingungannya.

"iya halo, ini Salsa bukan?" tanya Stefi to the point.
Ya, dari awal seseorang yang ingin dihubungi Stefi itu bernama Salsa.

"Salsa?" tanya lawan bicara Stefi dan lagi lagi dengan nada bingung.

"iya, kamu Salsa atau bukan?" tanya Stefi lagi memastikan.

"sepertinya anda keliru, namaku bukan Salsa." jawabnya.

"Bukan Salsa? Lalu, kamu siapa?" tanya Stefi penasaran.

"pokoknya saya bukan Salsa dan saya juga gak kenal sama yang namanya Salsa, begitupun dengan anda yang namanya Stefi." jelas orang itu dengan nada kesal.

Mendengar jawaban dari orang itu Stefi hanya bisa menghembuskan nafas kasar, pikirannya jadi kalut.

"jadi instingku m memang tidak salah dia bukan Salsa, huffftt.." batin Stefi.

"maaf kalau begitu, berarti saya salah sambung dan maaf sudah menganggu waktu anda."

Saat hendak menjauhi ponsel dari telinganya dan berniat mengakhiri pembicaraan namun.. "kok anda bisa tahu nomor saya, dapat darimana?" sebuah pertanyaan lagi terlontar dari lawan bicaranya itu sehingga mengurungkan niat Stefi untuk mematikan telfonnya.

"dari teman saya, dia yang kasih nomor ini ke saya" jawab Stefi.

"siapa nama teman anda?" tanya orang itu lagi.

"namanya Marin" jawab Stefi.

"oh anda mau menipu saya ya?"

"Hah? Maksudnya apa ya?"
Stefi terdengar shock dengan pertanyaan yang bernada tuduhan itu.

"anda mau menipu saya kan dengan berpura-pura salah sambung, iya kan??" lanjutnya masih dengan nada menuduh.

"maaf ya.. saya sama sekali enggak menipu anda niatpun gak ada, saya perjelas lagi ya.. dari awal saya menelfon anda karena saya mengira anda teman saya yang bernama Salsa karena teman saya yang bernama Marin itu yang berikan nomor ini ke saya dan kalau anda merasa bukan teman saya yang bernama Salsa, sudah saya bilang kan berarti saya yang salah sambung dan saya juga sudah meminta maaf kepada anda" jelas Stefi dengan sekali tarikan nafas dan tanpa menunggu sahutan dari lawan bicaranya itu Stefi langsung menekan tombol merah diponselnya, menandakan dia mengakhiri pembicaraan mereka secara sepihak.









***************

>>>>>






Maaf bila ada salah dalam penulisan soalnya aku baru belajar menulis cerita.

Semoga kalian suka ya dengan cerita ini.

Minta vote n comment 🌟📝
Thanks before 😊😊
God bless you all 😇😇

S dan SPovești de care să fii obsedat. Descoperă acum