Meus Aeterna

27 4 0
                                        

~ Substansi ~

Substansi; n  1 watak yang sebenarnya
dari sesuatu; isi; pokok; inti

Siang ini panas, gerah rasanya. Tangan kirimu terulur menjangkau kipas rotan yang selalu kau gunakan tiap harinya saat suhu mulai meninggi.

Mencoba meminimalisir rasa panas pada tubuhmu, juga hatimu. Mungkin saja ini semua hanya mimpi, atau kurangnya ketajaman pada bola matamu, efek samping dari penyesalan yang sungguh ironi. Sekali lagi, kau coba tarik nafas, mengumpulkan seluruh fokus mu.

Tangan mu kembali mencoba meraih selembar Ivory yang kau terima dua puluh tiga menit yang lalu dari seorang lelaki yang mengaku sebagai kurir.

Matamu kembali tertuju pada rangkaian kata yang tercetak pada permukaan kertas licin itu. Lensa coklat pada bola mata mu kian menajam, terus mencoba kembali memahami kata demi kata yang tertera, seolah memang sulit dipahami.

' Leny Pramudya'

&

'Arraf Gustivana'

T

ernyata masih sama, tulisan itu masih terbingkai rapi, terlihat sama sedari tadi saat kau melihatnya pertama kali.

Dua nama itu, yang seolah selalu menyiksa batin mu tanpa henti, pemikiranmu tidak peduli pada kata lainnya, pemikiranmu hanya tertuju pada kedua nama itu, pun lain dengan hatimu yang hanya tertuju pada satu nama, yang tak sadar telah kau ucapkan  lirih.

' Arraf.. '

Wajahmu tak ada perubahan, lain dengan hatimu. Aku yakin kini hatimu meraung raung tak terima, aku bahkan tak segan untuk tersenyum remeh padamu sekarang ini.

Tanganmu mulai mengepal tanda marah, mungkin menyesali perbuatanmu beberapa bulan lalu yang kini berbuah karma.

Dulu, kau menuduhnya, tanpa mendengarkan penjelasannya. Dulu kau mempermalukannya, membuatnya terlihat amat hina.

Kau menyiksa batin nya secara perlahan, terus menerus, tanpa belas kasih barang sedikit. Dan kau meruntuhkan segunung rasa cinta yang susah payah dia bangun, hanya untukmu.

Ingatan mu melayang kembali, melayang pasti dengan tujuan masa lalu. Masa dimana kau memutuskan semuanya.

Tepat sembilan puluh tiga hari yang lalu kau berkata

"Akhiri saja semua ini" saat itu kau dengan angkuh nya berkata demikian, tanpa perduli pada hati seorang pria dihadapan mu yang telah kau anggap pengkhianat.

Pria itu lalu membalas perkataan mu. "Tolong dengarkan aku, sekali saja, aku mohon"

Kepalamu mulai menengadah menunjukkan mimik tidak suka pada pria dihadapan mu "Kau sungguh begitu menyedihkan, Arraf"

"apa kau sebegitu murka nya padaku?, Bahkan untuk memandangku saja begitu sulit kau lakukan"

"kau bukan lagi Arraf yang dulu ku kenal, kau begitu menjijikan sekarang, kau tau?, Kau bahkan tidak lagi pantas untuk mendapatkan sedikitpun kebahagiaan, aku kecewa padamu Arraf"

Arraf mulai menghembuskan nafas kasar, mencoba mengontrol emosinya. Bingung bagaimana lagi caranya untuk membuat Yoland-nya percaya kembali.
Kau kembali mencoba untuk memulai perdebatan, pun arraf hanya menyimak tiap kata pedas yang dilontarkan wanita dihadapannya. Yang bahkan sudah melewati batas kesabaran Arraf.

Lalu, semua percakapan yang terjadi siang itu berakhir dengan Arraf yang meninggalkanmu seorang diri. Tidak lagi memiliki kesabaran menghadapi pongah nya dirimu, karena sekuatnya lelaki, mereka juga pasti memiliki batas.

Dan Arraf sudah merasa cukup, dengan semua pengorbanan nya, kepeduliannya, yang kau balas dengan penghinaan tanpa batas.

Tess

Air mata mu meluruh bebas untuk pertama kalinya, kau terdiam cukup lama, membiarkan detik melambat, selaju air mata yang meluruh begitu saja.

Kini tak ada lagi Yoland Edelweis berwajah datar dengan kata kata pedas, yang ada hanya Yoland yang bertingkah memalukan dengan menangisi perbuatannya sendiri dimasa lalu.

Karena sepenuhnya kau sadar, saat kali pertama kau mengambil keputusan tanpa pertimbangan, sejak hari itu juga kau telah lebih dekat dengan kahilangan, dan kau harus terima bahwa kali ini adalah titik tertinggi puncak sebuah rasa sakit dalam hidup mu.

Pupus sudah harapan yang selalu kau rapalkan tiap harinya dalam sujud mu di sepertiga malam. Harapan untuk hidup bersama lelaki pujaan mu yang kini malah akan bersanding dengan wanita lain.

Kau mulai mengutuk dirimu sendiri, menyumpah serapahi dirimu sendiri karena begitu memalukan, sampai sampai kebahagiaan pun terasa enggan tuk berdiam lama disisi mu, seolah kau memang tidak ditakdirkan merasa hidup dalam kehidupan ini.

Di dunia ini kau sendiri, awalnya semua baik baik saja sebab ada seorang pria yang begitu tulus padamu, kau tidak pernah merasa hampa, duniamu seolah berwarna kuning, biru, bahkan merah menyala. Menandakan gradasi yang begitu berwarna dalam hidupmu.

Tapi itu dulu, sebelum sembilan puluh tiga hari yang lalu, sebelum kau memutuskan semuanya, semua yang kau anggap benar, yang kini malah berbuah kepahitan. Kau pun mulai menyadari bahwa karma memang benar adanya.

Seluruh tubuhmu memberontak, menyesali semuanya. Tanganmu menyapu kasar permukaan meja yang sebelumnya tersusun rapi berbagai keperluan seorang wanita yang kini berserakan memenuhi lantai kamar mu. Kau marah, kesal, jengkel pada dirimu sendiri yang dulu menyia-nyiakan seorang yang ternyata begitu mendominasi hidupmu.

Kesakitan, kepedihan, penyesalan menghantam kuat tepat pada titik jantung mu. Kekalutan pun kepedihan yang kau simpan mencuat tak ada habisnya. Waktu mu bersamanya telah mencapai pada titik kulminasi. Kau dengannya harus berpisah tanpa pernah mengucapkan selamat tinggal sebagai dua orang yang saling mencintai.

Pemikiranmu bahkan kini bersikap lancang dengan kembali memutar memori tentang segala hal yang berkaitan dengan pria itu, dan sialnya kau malah menikmati.

Dan lebih bodoh nya lagi sekarang ini kau bahkan benar benar merindukannya, merindukan seseorang yang kini malah berpaling pada sosok yang sebentar lagi akan bersanding dengannya, dan tidak akan pernah memperdulikan mu lagi. Sungguh, kau sungguh menyedihkan.

Cepat atau lambat kau harus menerima kekalahan. Menyimpan rasa cinta mu sendiri, membunuhnya perlahan, meletakkannya pada ruang sudut paling gelap dalam hatimu, lantas membiarkan pedihnya abadi tanpa batas waktu.

Kini kau mulai sadar, bahwa sejak dulu kau selalu ditinggalkan. Kau mulai sadar bahwa kau hanya seorang figuran, kau bukan tokoh utama yang sebenarnya.

~ END ~

Thank you so much for u guys😘

I hope you like it

And don't forget to vote and comment this chapter😉😉

' SUBSTANSI ' #oneshootwattyHistórias para pegar e não largar. Descubra agora