Hari ini aku mulai me-recall memori putih abu-abuku , tepatnya kembali ditahun 2011 di awal semester genap kala itu. Dari dua ratus sekian total siswa dijurusanku, hanya ada 6 perempuan. Entah apa yang kami pikirkan kala SMP dan memutuskan melanjutkan studi ke SMK dengan jurusan Teknik Instalasi Listrik. Pemandangan baru dan aneh buat aku kala itu. Tepat pukul 06.30 kami semua dikumpulkan di lapangan basket yang besarnya tak seberapa itu, karena harus menampung 660 siswa baru. Baju putih biru, dengan muka polos separo tengil-tengil bayi, sudah memenuhi lapangan basket sekolah baruku kala itu.
Aku dengan jilbab putih tanpa menggunakan dalaman jilbab, sepatu basket warna unggu hitam, dan jemper warna merah. Duduk dibarisan paling belakang, sambil mengamati pemandangan aneh yang sebelumnya aku belum pernah merasakan ini. Pagi itu aku tersadar aku sedang didalam sarang para mafia-mafia muda. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah grombolan mhakhluk berkumis dan berpenis. Dan hanya ada segelintir perempuan-perempuan yang duduk bergerombol di sebelah barat. Dalam hatiku bergumam "Sial mulai hari ini sampai tiga tahun kedepan, aku akan menghabiskan waktu dengan para mafia yang haus perempuan ini" ya benar saja, karena aku bersekolah di STM yang spesies perempuan itu langka banget didalem dan jelas bakalan jadi primadona.
Senior pendamping kelasku mulai membacakan presensi kami, dan kami diminta baris sesuai urutan presensi. Kecuali untuk perempuan akan diletakan di barisan paling depan, karena spesies kami ini emang langka banget. Dan benar saja, dalam satu kelasku cuman ada dua perempuan dari total 36 siswa dikelas. Jelas banget komposisi begini, pasti dua perempuan ini bakal dijadiin sekertaris kelas sama bendahara kelas, tanpa proses demokrasipun sudah jelas berdasarkan hasil musyawarah tetaplah kami yang minoritas ini tidak bisa berbuat banyak.
Akhirnya usai sudah MOS ( Masa Orientasi SISWA) yang lumayan melelahkan, karena harus ikut banyak kegiatan. Apalagi tiap sore hari kita harus ikut baris berbaris selama tiga hari. Dan aku masih belum bisa beradaptasi dengan baik di sekolahku. Butuh mental yang kuat buat jalan dengan nyaman dan percaya diri ditengah-tengah para mafia ini. Jadi pusat perhatian pasti, jadi bahan perbincangan apalagi. Ditambah aku ini punya cirri khas yang cukup menonjol yaitu perepmuan dengan tubuh mini, suara besar, cerewet dan banyak tingkah. Bayangkan saja baru dua hari sekolah udah ada banyak sms dengan nomer asing diponselku. Entah dari temen sekelaslah,sejurusanlah, seangkatan sampai kakak kelas tiba-tiba sms aku. Ini kayanya gak cuman aku aja yang ngalamin, tapi teman perempuanku yang lainya juga mengalami hal yang sama.
Oh ya singkat cerita, seharusnya dikelasku cuman ada 2 perempuan. Tapi temanku kusuma dari kelas listrik tiga merasa keberatan kalau dia jadi satu-satunya perempuan dikelas, dan meminta ke guru BK untuk pindah kelas bersama teman perempuan lainya. Karena ada satu perempuan juga di kelas listrik satu, maka dua perempuan itu dijadikan satu dikelasku. Jadi sekarang ada 4 perempuan dikelasku, dan dua laki-laki ditukar ke kelas kusuma dan safitri. Akhirnya aku punya geng juga dikelas haha... setidaknya kusuma dan safitri ini bisa menambah rasa percaya diriku ketika bersama-sama 32 laki-laki dikelas.
Butuh waktu yang cukup lama buat adaptasi di STM, bayangin aja. Sebulan awal masuk sekolah aku dan temen-temen perempuanku harus kumpul dulu didepan gerbang buat jalan bareng masuk ke kelas kita masing-masing, biar lebih pede aja lewat krumunan laki-laki yang sesekali iseng siul-siul atau manggil-manggil nama kita. Setidaknya rasa malunya kebagilah haha...
Normalnya remaja SMA yang merasakan jatuh cinta. Akupun juga begitu, baru sebulan sekolah malah udah pacaran sama temen seangkatan tapi beda prodi. Namanya juga perempuan STM cari pacar mah gampang, tapi bukan berarti perempuan gampangan. Panggil aja pacarku ini Amar, remaja umur 16 tahun dengan badan berisi, tinggi sekitar 166cm ,kulit sawo langsat, hobi futsal. Kisahku sama Amar bukan kisah yang menyenangkan, tapi ya cukup menarik buat aku bahas.
Aku sama Amar pacaran dua bulan, putus gara-gara aku ketahuan pulang sekolah boncengan sama cowok lain. Iya aku diputusin sama Amar dengan sebelumnya drama dulu selama tiga hari gak smsan,telponan dan berusaha menghindar kalau ketemu disekolahan. Padahal kelasku dan dia hanya terbatas taman saja, tapi dia berusaha menghindar dari aku. Nyesel sih gak waktu putus dari dia, cuman ngerasa aneh aja. Masa iya Amar orangnya secemburu itu sampai kita putus? Padahal dia tau aku sama temen laki-laki lainya seperti apa.
Yah dan benar saja dugaanku. Seminggu pasca aku putus dari Amar, Yoka anak kelas X otomotif memberitahu kalau Amar udah punya pacar baru, dia tau dari Facebook Amar.
"Sa , mantanmu udah punya cewek lagi. Kamu gak mau gitu pacaran lagi sama yang lain?" goda Yoka padaku, karena aku tau Yoka punya rasa denganku
"tau dari mana yok?" jawabku santai
"ini lho di FBnya Amar, masa kamu gk tau sih?" jawab yoka sambil menyodorkan ponselnya, sehingga aku bisa membaca jelas profil FB Amar.
"Sialan selama ini aku ditipu dia, FBku diblokir biar gak ketahuan kalok aku ini sebenernya selingkuhan dia. Kacau benar ini cowok" . sebenernya aku dalam hati udah maki-maki, misuh-misuh gak karuan ke Amar, tapi liat sikon masih disekolah dan didepan Yoka aku juga gak enak. Ya benar, aku selama dua bulan jadi selingkuhan Amar yang bodohnya aku gak tau. Jadi selama ini dia udah punya pacar dan udah pacaran jalan empat bulan. Benar-benar kurang ajar laki satu itu. Empat bulan dia pacaran dua bulanya dibuat selingkuh sama aku. Awalnya aku emang curiga sama Amar, tapi dia ini pinter banget bohongnya. Dari awal FBku udah diblokir sama dia, dan dia ngakunya gak punya FB karena aku search FBnya juga gak ada. Ya iyalah gak bakal muncul akun dia, orang akunku dia blokir, bego banget aku. Yang kedua, Amar punya dua hp yang satu untuk komunikasi sama aku, satu lagi sama ceweknya. Yang ketiga ini paling kacau sih menurutku, padahal aku ini selingkuhannya tapi dia kenalin aku ke mamanya, sempet diajak kerumahnya tapi aku nolak. Gara-gara aku dikenalin ke orang tuanya, aku jadi gak kepikiran kalau aku ini selingkuhan dia. Ya orang dia berani ngenalin aku ke mamanya, dan kadang mamanya tanya Amar dimana sama aku. Amar juga sering kerumah waktu pacaran sama aku, ya intinya hubungan kita baik-baik aja walaupun aku ngerasa ada yang aneh dan ngerasa ada yang disembunyiin Amar dari aku.
Ya tuhan aku beneran ngerasa bodoh banget jadi perempuan ,ngerasa jahat sama perempuan lain, ngerasa bersalah banget. Gak kebayang gimana rasanya jadi pacar Amar yang diselingkuhi dua bulan, andaikan aku waktu itu gak keburu-buru nerima Amar, gak bakal begini ceritanya. Ini beneran nunjukin kalau perempuan itu selalu jadi objek. Ya objek kekerasan tepatnya, kenapa sih laki-laki dengan enaknya memilih untuk selingkuh? Kenapa Amar gak coba jujur dari awal kalau dia punya pacar? Kenapa dia milih buat nyakitin dua perempuan sekaligus? Artinya dia gak pernah bersyukur sama apa yang udah dia pilih selama ini. Amar bukan laki-laki yang baik aku tau itu, dan dia sama sekali bukan laki-laki yang pemberani. Amar adalah laki-laki pecundang yang selalu sembunyi dari masalahnya.
Singkat cerita, aku menghubungi Amar dan bilang "Mar makasih ya udah jadiin aku selingkuhan selama dua bulan. Oh ya keputusanmu sangat tepat untuk memutuskan hubungan ini, itu artinya kamu sadar mana yang lebih baik buat kamu. Inget jangan sia-siain lagi perempuan baik pilihanmu itu" . Amar gak jawab apa-apa dia cuman diam. Dan sampai kita luluspun Amar masih diam dan malu buat menyapaku.Gara-gara Amar aku jadi banyak belajar soal kehati-hatian, rasa percaya, dan kejujuran. Oh ya satu lagi. FYI aku dan pacar Amar sempat berkomunikasi dan akhirnya kita sama-sama memaafkan, dan menjadi teman baik sampai sekarang. Menurutku aku dan pacar Amar sama-sama bisa menyelesaikan masalah dan duduk bercerita bersama secara dewasa, ya padahal usia kami sama-sama masih 16 tahun. Tapi aku melihat sosok perempuan kuat dan besar hati di dalam diri pacar Amar.
YOU ARE READING
MY MARCH
RomanceSelamat datang di drama kehidupan kami, ya aku Sasa dan Adam. Dua makhluk ciptaan tuhan ini akan membagikan sepenggal kisahnya selama enam tahun bersama. Drama kehidupan dua remaja yang sedang belajar mengerti apa arti kehidupan sebenarnya, yang sed...
