Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

[1]

13 2 0
                                        

Rama

Aku mengenalnya di tahun keduaku Sekolah Menengah Pertama. Ketika itu dia menyelamatkan Atika, temannya yang baru saja dipermalukan di kantin sekolah karena penolakan cinta dari kakak kelas. Tanpa suara dia membelah kerumunan, memaksa Atika untuk berdiri dari duduknya, dan meninggalkan tiga lembar uang lima ribuan sebelum keluar dari kantin.

Setelahnya, pertemuanku dengannya hanya saat kelas pemadatan Jum’at-Sabtu di semester akhir kelas IX. Dia tak banyak menarik perhatian. Bukan termasuk anak terpintar di sekolah. Kehidupan SMP-nya terlihat datar hingga rasanya mudah untuk melupakan sosoknya.

Tidak berbeda jauh denganku. Tidak banyak orang menaruh perhatian padaku selama masa itu. Mungkin, itulah mengapa kita tak saling tertarik. Bahkan, hingga empat bulan pernikahan kami.

Aku ragu dia mengenaliku pada masa itu. Aku saja bisa tahu keberadaanya di sekolah kami karena aksi heroiknya yang sesungguhnya menuai cibiran warga sekolah. Dia mungkin tidak mengetahui ada lelaki sepertiku di sekolah yang sama dengannya. Atau, kalaupun dia tahu hanya sebatas namaku saja yang sering di sebut di awal absensi kelas pemadatan.

Di empat bulan pernikahanku dengannya, tidak ada yang berbeda. Dia menjalani kehidupannya, begitu juga denganku. Yang aku tahu, dia adalah wanita mandiri yang bodo amat terhadap banyak hal. Dia sangat rapi dan terorganisir, hal ini tampak dari kondisi rumah sebelum dan setelah kedatangannya. Dia bisa berantakan hanya saat mengerjakan tugas kuliahnya atau saat mencoba resep baru, lalu tak seberapa lama tempat itu akan kembali serapi sedia kala.

Aku selalu tertarik dengan cara dia mengkomunikasikan segala sesuatunya denganku. Lembaran kalender di pintu lemari pendingin itu selalu baru setiap awal minggu. Ada nama menu makan pada setiap tanggalnya dan catatan kecil berisi bahan utama. Aku hanya perlu membaca dan menambah catatan untuk sesuatu yang tidak aku sukai atau menu yang ingin aku tambahkan. Tapi, selama ini aku jarang melakukan itu. Aku bukan orang yang pilih-pilih makanan. Aku justru selalu penasaran dengan cita rasa masakan yang dibuatnya, terutama nama-nama menu baru yang belum pernah aku coba sebelumnya.

Di sisi kanan kalender meja di meja kerjaku—aku tak sadar pernah membelinya dan menaruhnya disitu—ada post it kuning dengan ukuran lebih kecil dari yang tertempel di lemari pendingin. Di sana tertulis bahwa akhir minggu ini ada acara tujuh bulanan Mira. Yang berarti, pertemuan ku dengan keluarganya untuk pertama kali setelah pernikahan kami.

Aku sudah megenal beberapa saudaranya, terutama yang segenerasi denganku. Bang Anshor, menantu Om Bagas, kakaknya Mama, memeluku layaknya dua sahabat yang sudah lama tak bersua saat pertama kali kita berhadapan. 

“Hati-hati, kudu kuat hati jadi menantu keluarga ini,” bisiknya saat itu.

Mengingatnya membuatku merasa mulas. Entah mengapa aku sudah merasa gugup walau acara masih lima hari lagi. Mengusir perasaan gelisah itu aku mengambil handphone dan bertanya langsung saja pada Bang Anshor apa maksud perkataanya.

Bang, ada waktu sblm hari sabtu g? Byk yg mau aku tanyain

Aku tahu ini sedikit kekanak-kanakan, tapi sepertinya Bang Anshor bisa kasih tahu lebih banyak tentang keluarganya ketimbang aku tanya sendiri pada Arimbi. Kami hampir tak pernah saling bicara. Dia masih sangat tertutup tentang dirinya, apalagi terkait keluarganya. Dan, aku hanya tak ingin membuatnya semakin tak nyaman berada di sisiku.  

ConformityCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang