Aku percaya apapun yang baik pasti akan ditemukan. Itu hanya soal waktu. Kuharap inilah masanya, ketika terdengar dua suara manusia saling berteriak tak lama setelah cahaya masuk menyinari tempat yang biasanya gulita.
"Sialan, separuh kaki gue kerendam lumpur!"
Sejak tersesat di tempat ini, aku tidak pernah melihat manusia. Hanya air, lumpur dan ribuan sampah sejauh mata memandang. Sangat sedikit cahaya yang masuk sehingga bakteri berkembang dengan sangat pesat menyantap makanan mereka yang berlimpah. Dalam beberapa waktu, sisa permen, nasi, mie, daging berganti wujud. Sialnya mereka menyisakan bau busuk yang sangat menyengat.
Aku terus berdoa akan datangnya hari penuh keajaiban, ketika seseorang datang mengangkat dan menempatkanku di tempat yang seharusnya.
Terdengar sesuatu bergesekan dengan sampah dan lumpur. Ia menimbulkan irama yang menyalakan harapan. Angkat aku, tolonglah!!
"Buset! Banyak banget botol, plastik, paku, recehan. Pantas saja banjir!"
Lelaki satunya lagi terkekeh. Katanya, "ini Jakarta, Bro!"
Suara gesekan itu terdengar berulang kali.
"Buset! Tikus!"
Lelaki satunya tertawa.
"Biasakan dirimu, mungkin besok lu akan ketemu ular, kalajengking atau buaya."
"Gini amat ya, cari makan. Coba gue punya sawah di kampung jadi ngga harus jadi tukang gali selokan!"
Jangankan manusia, aku pun tak sudi di sini.
"Ya, demi kawin sama Munaroh gue jalanin kerja beginian!"
Hatiku mengiba. Aku tak perlu berada di etalase mewah atau bertemu lagi dengan Ros, wanita yang lupa melepasku saat mandi sehingga nasibku berakhir di sini.
Sepertinya aku harus mengubah doa. Tuhan, buat dia menemukanku! Aku ingin jadi cincin kawinnya. Tuhan, kabulkanlah!
Semoga ia orang baik. Orang baik akan bertemu benda baik.
"Apa ini?" Ia memungut dan mengamatiku dengan seksama. Tak lama, wajahnya gembira.
"Cincin!" serunya, "Munaroh, tunggu aku
