Gelap di luar menyelimuti heningnya suasana yang hanya bersuarakan detik jarum jam dinding. Pukul 2 pagi ini aku sedang tidur yang tidak sebenarnya. Mataku terpejam, namun pikiranku masih melayang ke memori-memori beberapa jam yang lalu, sedangkan anggota tubuhku lainnya ikut bereaksi sesuai ke mana pikiranku pergi.
Malam ini penuh dengan dingin. Dan bekunya gelap tiap detik selalu mengingatkanku tentang satu nama indah, yaitu Cempaka.
Cempaka adalah nama teman sekelasku. Dia seorang perempuan dan sangat penyabar. Itu yang aku tahu tentangnya. Sedangkan yang tidak kuketahui tentangnya ialah berapa persen angka kesabarannya hingga selama 2 tahun hatinya kebal terhadap ketidakpedulian lingkungan terhadapnya.
Tiap pagi setelah bel masuk berbunyi, dia duduk di bangku pojok paling belakang. Sebenarnya itu bukan tempat yang Cempaka idam-idamkan, bukan. Dia ingin duduk di bangku deretan dan barisan tengah seperti anak-anak biasa. Namun karena keegoisan mereka-anak-anak di kelas-yang tidak sekalipun mengizinkan Cempaka duduk di situ jadilah Cempaka harus mengalah. Aku lupa aku tahu tentang asal usul tempat duduk Cempaka itu dari mana, sepertinya dari gosipan anak perempuan di kelas.
Lalu ketika guru datang, seperti biasa kami memulai ritual seperti: berdoa, mengucapkan salam, dan memulai materi pembelajaran. Ketika materi dimulai, sesekali aku melirik Cempaka yang seringkali mengucek dan menyipitkan matanya ke arah papan tulis. Matanya minus, tetapi dia tidak memakai kacamata, entah kenapa. Mungkin itulah kenapa dia ingin duduk di barisan depan tapi tidak terkabul. Tiap kali dia mengucek dan menyipitkan matanya, mataku menyorot iba padanya. Kasihan Cempaka.
Posisi tempat duduk dan matanya yang minus tanpa kacamata menjadi penghalang bagi Cempaka untuk mendapat nilai bagus terutama pelajaran Matematika, kurasa begitu. Matematika adalah pelajaran yang sangat membutuhkan papan tulis sebagai mediumnya, itu memang fakta. Nilai yang didapat Cempaka saat latihan soal biasa tidak lebih dari 60. Tapi anehnya, ketika ulangan nilainya selalu di atas 80. Menakjubkan, bukan?
Nilai ulangan Cempaka yang cukup bagus itu justru menciptakan belati lagi yang siap menusuk dadanya. Anak-anak di kelas sering menuduh Cempaka dengan alasan posisi duduk Cempaka yang sangat strategis untuk menyontek ketika ulangan. Aku melihat Cempaka melawan tuduhan itu. Tetapi percuma, perlawanannya akan selalu kalah karena hampir anak-anak perempuan sekelas yang menuduhnya.
Aku?
Bagaimana sikapku melihat Cempaka dituduh seperti itu setiap kali menerima hasil ulangan Matematika?
Pernah sekali aku coba membela Cempaka dengan mengatakan, "Lo pada jangan nuduh orang sembarang kayak gitu. Kalian punya bukti apa kalau Cempaka beneran nyontek, ha?"
Aku kira dengan memberikan pertanyaan balik seperti itu mereka akan diam dan tidak berani lagi menuduh Cempaka, ternyata justru kebalikannya. Salah satu dari gerombolan perempuan itu menjawab, "Ada. Kata siapa ga ada bukti? Gue sama Andre nemuin buku tulis di kolong meja Cempaka pas pulang sekolah di hari...hari apa ya itu gue lupa. Selasa, deh, kayanya. Iya, Selasa! Lo pasti masih inget kan Selasa 2 minggu yang lalu itu ulangan Mat?"
Aku membalas, "Lo jangan nyiptain fitnah lagi, Al, dosa tau ga. Inget neraka, lu!"
Alya membalas lagi, "Terserah! Orang sekelas udah tau semua, lo aja yang ketinggalan berita."
Saat itu aku sudah kehabisan akal lagi membela Cempaka dengan bagaimana. Setelah dituduh dan dikata-katain oleh anak perempuan sekelas, Cempaka biasanya menunduk dan menenggelamkan wajahnya di dalam lipatan tangannya.
Aku seorang laki-laki dan yang aku ketahui pasti tentang diriku ialah hatiku tidak mudah tersentuh dalam hal apapun sehingga tak sedikit orang yang mengatakan aku sebagai cowok dengan hati ter-batu. Sepertinya gelar manisku itu harus kulepas sendiri atas nama Cempaka. Sstt...tapi jangan beritahu siapa-siapa tentang itu, nanti aku diejek sama mereka.
YOU ARE READING
Bias Cempaka
Short StoryJika pukul 2 pagi bisa bercerita apa adanya, kenapa aku harus terlelap?
