Prolog

35 8 5
                                        

Prolog
.
.
.
.

"Hahaha..., anak itu hanya tameng yang ku persiapkan nanti. Ave akan mati ditangannya." telpon itu dibanting, serta diiringi tawa misterius yang menggema di sekitar ruang kerja yang temaram itu.

Pria yang berusia pertengahan 40-an itu membalik kursi. Marcello Maxwell, tampaklah aura penuh intimidasi. Disertai seringai lebar di sudut bibirnya. Netra coklat kelam itu memancarkan sorot penuh kebencian serta dipenuhi dendam.

"Setelah Azka, kau selanjutnya Ave." tawanya semakin menggema penuh dengan dendam yang menggelora.

Tanpa disadari olehnya, sosok wanita melemas diluar pintu ruang kerjanya. Wanita yang sarat akan keibuan dalam sorot matanya yang teduh. Sorot mata yang kini dipenuhi bulir air mata.

Dengan gontai wanita itu berjalan, menuju sebuah ruangan di sudut lorong mansionnya. Lalu, menerobos masuk tanpa permisi. Karena, pintunya memang tidak pernah dikunci.

"Mom..." suara lembut seorang pria itu memecah keheningan. Menembus netra sang ibu yang kini memerah, tangan kokohnya memegang bahu yang bergetar milik sang ibu.

"Dad mendidikmu terlalu keras, kumohon pergilah." ada getar yang tertahan di ujung kalimatnya.

"Bukankah mom bilang itu demi kebaikanku. Lalu sekarang, kenapa mom menyuruhku pergi. Apa aku salah?" netra birunya menatap netra hijau emerald sang Ibu. Berusaha menemukan kebenarannya disana.

"Ku mohon Jo. Ambil ini, pergilah jauh jangan membawa apapun." Stacey memberikan segepok uang yang ia ambil dari sakunya.

Dengan bingung, Joazka mengambil uang itu. "Tapi mom, setidaknya kau memberiku alasan kenapa aku harus pergi." suaranya mulai bergetar. Lalu, berjalan membelakangi sang Ibu.

"Alasan itu ada saat kau kembali nanti, percayalah. Demi kebaikanmu dan juga mom."

"Lalu, Nathan? Kenapa dia bersamamu?" tanya nya bingung.

"Dia masih kecil, kumohon pergilah." kakinya melemas, luruh bersimpuh dibawah putranya.

"Mom..." dengan cepat ia bersimpuh memeluk ibunya.

"Kumohon... Sekarang!" tangisannya mulai pecah.

"Baiklah, jika itu yang mom inginkan. Aku pergi, aku berjanji akan kembali."

Tanpa berbalik lagi, remaja 17 tahun itu keluar ruangan. Meninggalkan sang Ibu yang menangis.

"Maafkan aku, hanya ini yang bisa kulakukan untuk buah hati kita, Ben." gumamnya lirih.
.
.
.
.
.
.
.
.
Next? Butuh vommentnya nih 😂😂

JoanathanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang