"Sungguh aku bosan dengan duniaku kini sekarang sri, aku ingin mencari pekerjaan baru"
"haha, kau ini kenapa? Apa kau baru saja bertemu malaikat? Tiba-tiba kau punya pikiran seperti itu."
"tidak sri! kadang saat aku tengah bercinta dengan para lelaki hidung belang itu, Aku berpikir bagaimana perasaan pasangannya diselimuti kekhawatiran yg sedang menunggu kepulangannya dirumah."
"aku tidak bisa membayangkan jika yang sedang menunggu itu adalah aku, sri!" lanjutnya.
"kau ini kenapa sah? Apa kau sudah mulai bosan dengan pekerjaanmu ini? Jangan bilang bahwa ini akibat banyak pendatang baru diwilayah kita?"
(dengan nafas berat) "akupun tak tahu kenapa akhir-akhir ini punya pikiran seperti ini, sri!"
"sudahlah, kau kerja saja seperti biasanya. Bukankah ini sudah menjadi pilihanmu saat kau menjadi gelandangan dikota besar ini? Apa kau lupa? Air mataku sudah habis untuk menyesali pekerjaan kita ini"
"yaa, apa boleh buat. Waktu itu aku tak punya pilihan lain selain mengambil pekerjaan ini. Daripada aku mati kelaparan dijalanan"
"sekarang, lebih baik kau dandan saja, Sebentar lagi malam. Buat badanmu seharum mungkin, siapa tahu ada pria tajir tertarik padamu"
"seminggu terakhir ini, setiap lelaki yang datang kepadaku dia tidak mempunyai banyak uang. Sayang juga jika rejeki kutolak. Kuharap kau lebih beruntung malam ini"
***
Hiruk pikuk kota besar memang menawarkan berbagai hal kepada para pendatang. Namun tidak kali ini bagi kedua perempuan itu. Mereka sudah tiga tahun berada dikota, merantau jauh dari kampung. Dulu, mereka tergiur rayuan Lik giman. Katanya, kalau mereka pergi ke kota mereka akan cepat kaya. Rupanya takdir berkata lain, seminggu setelah mereka memutuskan untuk merantau dan tak kunjung dapat perkerjaan yang layak sampai uang saku mereka habis dijalanan, keduanya tetap saja tak dapat pekerjaan yang mereka harapkan dengan mengandalkan ijazah lulusan SMA.
Malam semakin larut, hilir mudik kendaraan berseliweran melintasi tempat mangkal sri dan isah. Sesekali ada yang hanya sekedar iseng bertanya soal harga, ada pula yang hanya merayu saja. Hal itu sudah umum dirasakan oleh para pemuas nafsu lelaki bejat dikawasan bekasi. Terlihat diseberang jalan, ada yang dengan senyum merekah masuk kedalam mobil merah. Sepertinya ia sedang mujur mendapat pelanggan orang kaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PELACUR TERHORMAT
Historical FictionPelacur Terhormat Gemerlapnya kota besar rupanya menyimpan sisi gelap yang amat menakutkan.
