Prolog

12 2 1
                                        

"Pa, Papa? Papa denger Via? Pa! Papa!!!"

Suara teriakan yang terdengar bercampur dengan sorak sorai lalu lintas. Teriakan, air mata, tak membuat pria tua yang dipanggil 'papa' terbangun. Berlari. Berteriak meminta bantuan, namun tak ada seorangpun yang datang membantu. Gelap, sepi, Thavia takut dengan kondisi yang sedang melandanya sekarang. Malam mulai larut, jalanan yang tadinya ramai sudah mulai sepi, bahkan hanya ada truk truk pengangkut barang yang terkadang lewat.

Mendekati sang ayah, memeluknya, meminta kepada Sang Maha Kuasa agar sekali saja memberikan kesempatan untuk tetap bersamanya. Namun, sampai pagi menjelangpun sang ayah tak kunjung bangun.

Tiin.. Tiin.. Seorang turun dari mobil berjalan mendekati Thavia dan sang Ayah. Mendapati dua manusia dengan keadaan yang tidak bisa dibilang baik.
"Hei" serunya seraya mengguncang tubuh Thavia. Panggilan ketiga Thavia terbangun, masih belum sadar dengan keadaan sekitar.
"Apa yang terjadi?" tanya seseorang yang sudah berjongkok dihadapannya.
Mengucek matanya diapun menjawab.

"Tolong.. Ayah saya.." ucapnya yang langsung sesenggukan. Bersyukur didatangkan seorang yang ingin membantunya.

.....

Inside UsStories to obsess over. Discover now