Bulan ini bulan desember, dimana setiap harinya akan diwarnai dengan kristal-kristal air yang turun dari langit. Jika orang lain mendambakan hujan dalam puisinya, aku bahkan sama sekali tak menginginkannya. Aku tak suka hujan. Aku membencinya. Omong kosong jika orang lain selalu bermain kata dibalik kata-kata manis dalam rangkaian puisinya. Mereka menyukai hujan? Aku tak percaya. Mereka itu berdusta.
Banyak orang menggerutu karena baju basah terkena hujan, seperti saat ini, 15 menit yang lalu bel pulang berbunyi. Banyak anak-anak yang berlarian berlomba menembus hujan, padahal kemarin, aku membaca puisi milik salah satu dari mereka tertempel baik di mading. Dia bilang, aku menyukai hujan. Karenanya aku bisa mengenangmu. Lantas begini, jika dia benar menyukai hujan agar bisa mengenang, kenapa dia berlomba menghindarinya? Ah, apa serius dia menyukai hujan? Atau mungkin dia itu hanya menyukai momennya saja atau berusaha menarik simpati orang yang akan membaca puisinya?
Mungkin dulu, pada saat hujan turun, kebetulan kenangan itu tak sengaja terbuat. Mungkin saja, pada saat hujan turun kejadian yang selama ini tidak pernah terfikirkan tiba-tiba terjadi dan membekas betul dalam setiap ingatan. Ah sudahlah, aku sendiri tak mau berfikir pusing-pusing hanya karena hujan.
Kedua tanganku ku susupkan ke saku celana, mencari kehangatan saat dinginnya air hujan mendera. Suara halilintar menyambar lalu kemudian dihiasi dengan sedikit kemilau lampu menyorot yang berasal dari langit. Saat aku berjalan di koridor, ternyata masih banyak siswa yang berteduh di emperan, menunggu hujan reda. Aku melirik sekilas lalu memilih melaluinya saja.
Buat apa menunggu? Toh itu hanya buang-buang waktu saja 'kan? Lebih baik aku menembus hujan dan segera pulang. Aku rasa jika 15-25 menit terkena hujan tidak langsung membuatku kehilangan kebugaran tubuhku 'kan?
Aku bisa merasakan beberapa pasang mata mengekori punggungku saat ini. Aku pun tak mau memusingkan itu. aku tetap berjalan di bawah guyuran air hujan yang cukup deras.
"rangga!"
Aku tetap melanjutkan langkah kakiku. Berhenti tidak ada gunanya, dan sekali lagi. Semua itu hanya akan membuang-buang waktuku.
"Rangga, tunggu sebentar!"
Aku masih tidak memperdulikannya sampai akhirnya ada seorang gadis berdiri di depanku lalu memberiku sebuah payung. Mataku sampai menyipit menatapnya yang sekarang basah terkena hujan.
"kamu pulangnya pakai payungku saja ya?"
Aku masih diam, tak habis pikir dengan apa yang diinginkan gadis ini.
"aku tidak apa-apa. Sebentar lagi supir akan menjemputku. Kamu hati-hati ya, pulangnya?"
Sekitar 5 detik aku terdiam, dan dia masih menungguku berbicara. Karena terlalu lama menunggu, dia akhirnya memaksaku menerima payungnya kemudian dia tersenyum lebar dan berlari berteduh kembali di emperan. Gadis bodoh. Begitu menurutku.
Aku kembali berjalan dengan santai, memandang sepanjang jalanan yang dihiasi kristal-kristal air tuhan. Kaus kakiku terasa sangat basah, tentu saja, karena aku tak sedikitpun berusaha menghindar ketika sepatuku menyentuh air.
"hei, cowok angkuh."
Seketika aku terhenyak mendengar itu. ada seorang gadis pendek tiba-tiba ikut berlindung dibawah payungku. Tanpa ijin dia merengkuh lenganku yang memegangi payung. Dia sampai mendongak menatap wajahku. Benar-benar pendek.
"apa katamu?" tanyaku masih tak mengerti.
"cowok angkuh? Apalagi?" jaawabnya sambil menyengir tanpa dosa memamerkan serentetan gigi-giginya yang terlihat putih. Kedua pipinya mengembang, sudut matanya menyipit. Aku mengedip saat sadar aku terlalu meneliti setiap inchi wajah gadis pendek di sampingku ini.
YOU ARE READING
Rainia [Gadis Hujan] : Oneshoot
Short Storymengapa aku selalu menunggu datangnya rintik air hujan? Untuk apa? mengenangmu? merindukan hadirmu? atau, menunggu kedatanganmu?
![Rainia [Gadis Hujan] : Oneshoot](https://img.wattpad.com/cover/145691130-64-k819444.jpg)