Overture

12 0 0
                                        


"An orchestral composition forming the prelude or introduction to an opera, oratorio, etc."

Giorgia


Aku menggoreskan penaku di atas kertas kosong itu. Opera baru, opera baru. Ya, aku mencoba untuk menulis opera dimana opera sudah tidak jaman lagi. Karena itu sekarang susah untuk mencari partner untuk menulis libretti opera!

Bosan, aku memutar badanku dengan kursi ini, melihat kondisi asramaku yang cukup menyedihkan. Ada dua Kasur, salah satunya adalah kasurku, yang pastinya berantakan. Dua lemari, salah satunya kosong, dan satu piano digital di pojok kamar dekat pintu. Ya, pada dasarnya perabotan disini masing-masing ada sepasang, termasuk meja dan kursi untuk belajar. Ini sudah berbulan-bulan sejak terakhir kalinya aku mempunyai teman sekamar.

Teman sekamarku yang sebelumnya, Luisa, sebut saja Lui, meninggal di sebuah kecelakaan mobil. Dia berada di dalam mobil antar jemputnya, dan remnya blong, menjatuhkan mobil itu menuju dasar jurang. Padahal dia baru menang kompetisi cello. Namanya juga nasib, kita tidak tahu kapan ajal menjemput dan itu adalah fakta.

Ini sudah jam makan malam. Jangan kira asrama ini seperti sekolah asrama yang menyediakan makanan, dan semua kebutuhan dasarmu. Asrama ini pada dasarnya hanyalah apartemen milik sekolah yang memiliki harga sewa terjangkau untuk siswa di konservatori music sebelah. Ada asrama perempuan dan laki-laki, satu kamar untuk dua orang, ada dapur umum, tempat mesin cuci, ruang latihan, dan common room di mana semua warga asrama bisa bersantai atau nonton piala dunia bareng-bareng.

Karena sudah waktunya makan, aku mengambil sandwich tuna yang kubeli di mini market terdekat, mungkin Seven Eleven, entahlah. Sandwich tuna itu aku hangatkan di microwave selama beberapa menit. Sambil menunggu, aku ngobrol sebentar dengan salah satu teman dekatku, Giuseppa, juga dari Italia, sama sepertiku. Sekedar informasi, konservatori musik di Vienna ini memiliki murid dari seluruh penjuru Eropa, jangan kaget.

"Masih sendirian, Gio?" Tanya Giuseppa, dengan tangannya memegang sebotol bir.

"Tentu tidak, kan ada pacarku, Joseph—"

"Bukan dalam konteks itu, bodoh," gerutu Giuseppa, yang kemudian menyesap birnya. "Teman sekamar."

"Ah... belum. Masih sendiri dan jomblo dalam bidang itu."

"Ya kali gak jomblo. Masuk konservatori ini saja susah setengah ampun, ya kan?"

"Entahlah," aku mengangkat bahu. "Oi boleh minta birnya?"

"Ini bir Belanda, bukan yang biasanya di Oktoberfest. Yakin?"

"Ya yakinlah! I just want to drink my pain away!" Tanganku berusaha meraih bir Giuseppa dari tangannya yang gesit itu.

Aku menyerah, tidak jadi mengambil bir Giuseppa. Ah ya, sandwichnya.

"Guys! Vi har en situasjon her! Noen har nettopp blitt drept..." Eli, seorang siswi asal Norwegia itu, dengan napas terengah-engah dan muka pucat, barusan berteriak dalam Bahasa yang asing di telingaku.

"Oi, apa yang terjadi—" sebelum aku menyelesaikan kalimatku, dia sudah jatuh pingsan.

Carl berada di common room juga saat itu, dan mukanya tak kalah pucat dari Eli. Sepertinya dia paham apa yang Eli katakan. Walaupun raut mukanya berkata "Aku belum paham benar situasinya." Bodoh memang, tapi apa boleh buat, jadi aku hendak menanyakan apa yang Eli katakan pada kami semua dalam bahasa alien itu. Namun sepertinya aku benar-benar di kacangi.

"Jean, bawa Eli ke UKS! Beritahu kondisi ini ke Herr Hermann, suruh dia panggil polisi kemari. Cepat!" Carl dengan sigap berteriak kepada Jean mengenai apa yang harus dilakukan.

Woi. Woi! Polisi! Se-serius apa keadaan ini sampai bawa-bawa pihak berwajib ke asrama!?

"Carl, apa-apaan sampai panggil polisi segala!" Aku hendak mengomeli Carl dengan sejuta ocehan, tapi tak sanggup. "Apa pula yang dikatakan Eli barusan!? Bahasanya gak jelas!"

"Tentu saja kamu gak familier, Gio! Dia tadi ngomong pakai bahasa Norwegia! Itu wajar, karena dia sendiri panik." Balas Carl.

"Lah kamu kan orang Denmark, mana ngerti Norwegia?"

"Mirip, Gio. Bahasanya mirip."

"Oke, emangnya Eli ngomong apa barusan?"

Bibirnya gemetaran, tapi Carl pada akhirnya membiarkan kalimat Eli keluar dari mulutnya.

"Kita mempunyai situasi genting di sini. Seseorang baru saja terbunuh."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 17, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

RequiemStories to obsess over. Discover now