PLOLOG

10 6 0
                                        

Bocah berambut coklat itu memainkan bola plastik berwarna biru di teras rumah. Bola yang ia beli dengan uang pemberian neneknya.

Bocah lelaki yang belum genap 5 tahun itu melemparkan bola biru itu kesembarang tempat.  Dan bola itu menggelinding ke sela sela pagar dan berhenti di depan pagar tetangganya.

Bocah itu celingukan saat di depan pagar rumah tetangga.  Setelah itu ia memungut bolanya. Saat ia akan kembali ke rumahnya, ia melihat bocah seusianya bermain di teras rumah dengan boneka bonekanya yang diaja berbicara.

Sejenak ada keinginan untuk memanggilnya dan ia ajak bermain bersama, namun ia urungkan ketika mendengar suara ibunya yang mencarinya.

€°€°€°€

Keesokan harinya, bocah berambut coklat itu, bermain di lapangan di samping rumahnya. Ia bermain bola biru kemarin lagi.

Sendirian.

Saat ia sudah bosan, ia duduk di bawah pohon yang ada di pinggir lapangan.

Bocah itu mengeluarkan spidol permanen yang ia ambil di meja kerja ayahnya. Nakal memang, tapi mau bagaimana lagi, namanya bocah berumur 4 tahun.

Ia menelusuri bola miliknya. Ia melihat lihat dimana ia akan menamai bola miliknya. Setelah menemukan tempat yang pas, ia membuka tutup spidol dan mulai menulis namanya.

'Augen'

Ia menulisnya dengan gaya miliknya sendiri. Yahh... Walau tidak bisa dibaca tapi setidaknya hanya Augen sendiri yang tahu.

Setelah selesai dengan urusanya. Augen mendengar gelak tawa bocah perempuan. Ia menoleh dan melihat bocah yang kemarin ia lihat di teras rumah depan rumahnya.

Gadis dengan wajah timur tengah dengan warna kulit sawo matang. Manis.

Bocah gadis itu mengayuh sepeda roda tiganya dengan bahagia. Tidak menyadari ada Augen di sana.

Saat ia akan ke tempat ayunan yang ada di sebrang Augen. Si gadis mengayuh sepedanya dengan kecepatan penuh, tidak tahu di sana ada cekungan dalam yang biasa di buat burung mandi saat cekungan itu tergenang air.

Brukk!

Si bocah gadis itu tersungkur dengan sepeda roda tiga miliknya yang oleng di sampingnya.

Augen berlari ke arah si gadis yang wajahny sudah belepotan lumpur,. Ia menjulurkan tanganya ke arah gadis itu. Si gadis mendongak.

Augen terseyum manis. Si gadis menerima uluran Augen. Setelah ia berdiri, tiba-tiba ia menangis dengan kerasnya. Augen sempat kaget.

Jujur ia bingung harus apa. Lalu ada tindakan yang terlintas di otaknya.

Ia memeluk gadis itu dan mengelus punggungnya.

"Cup cup. Gak boleh nangis. Nanti tambah jelek lhoo," Augen mencoba menghibur. Namun yang ada, si gadis makin keras tangisanya.

Augen tersenyum kecut mengetahui ucapanya salah.

"E-eh, udah dong nangisnya, nanti nggak cantik lhoo," kali ini Augen memperbaiki kalimatnya. Ia melepas pelukanya dan menatap wajah belepotan lumpur di depanya.

"Mana yang cakit?" oke, jujur Augen masih cadel.

Si gadis menunjuk lututnya. Berdarah. Augen yang melihat itu, langsung berjongkok. Melihat lukanya.

Kemudian Augen memutar arah jongkoknya menjadi memunggungi gadis kecil itu.

"Ayo, aku gendong campai lumah kamu. Kan kaki kamu cakit," Augen bertingkah bak pahlawan. Si gadis menurut dan mulai melingkarkan tanganya ke leher Augen dan Augen memegangi kaki si gadis.

"Nanti sepeda aku gimana?" tanya si gadis yang ternyata sudah fasih bicara.

"Aku ambil cetelah aku antal ke lumah mu," Augen mulai berjalan ke arah rumah si gadis.

Setelah sampai di di depan rumah, si gadis berteriak.

"Bunda!" panggil si gadis.

Beberapa detik kemudian, muncul lah wanita paruh baya. Ia membukakan pagar dan melihat anaknya belepotan lumpur dan wajah menangis.

"Ya ampun Dela, kamu habis ngapain?" tanya bundanya Dela.

"Jatuh bun. Sakiit," bundanya Dela melirik kearah lutut Dela. Ia langsung menyahut Dela dari gendongan Augen. Augen sedikit terhuyung. Untung bisa menyeimbangkan badannya lagi.

"Emm Dela," panggil Augen.

"Iya?" Dela menoleh ke arah Augen.

Augen mengeluarkan bola biru miliknya.

"Buat Dela," ucap Augen seraya memberikan bolanya pada Dela.

"Dela juga deh," Dela meraih gelang miliknya. Ia melepaskan gantungan berbentuk pegasus dari gelangnya dan memberikanya pada Augen.

"Makasih," ucap Dela tulus sambil tersenyum.

"Cama-cama," jujur Augen tersipu karena senyuman Dela.

Dela dan bundanya memasuki rumahnya, meninggalkan Augen yang mematung di depan pagar rumah Dela yang setengah terbuka.

------
Vote dan komenya....

Amor, Zecyx

InveelingStories to obsess over. Discover now