BAB 1

54 23 13
                                        

" Jika aku pernah dituntut untuk meninggalkan sesuatu yang berharga dalam hidup, akankah semesta menggantinya dengan yang lebih berharga untukku nanti?"

(Adaptasi)

****

Vidya bangkit dari tempat tidurnya dengan malas, melangkah perlahan seraya terus menarik koper yang akan menemaninya sampai ke Indonesia. Langkahnya terasa berat ketika segudang kenangan menghampiri pikirannya. Kenangan itu seperti terus berlalu lalang di pikirannya yang berantakan.

Langkah Vidya terhenti di ambang pintu, ia memejamkan matanya sejenak, berusaha merelakan kepergiannya sendiri. Tapi ternyata berat, dalam hatinya seperti timbul dorongan kuat yang memaksa Vidya untuk tetap tinggal di Singapore.

Ia menghela nafas seraya kembali membuka mata.

Tapi matanya terlanjur basah.

Dengan cepat Vidya berlari menuju tempat tidur, melepas koper, lalu membanting sling bag-nya ke sembarang arah. Tubuh Vidya terbaring di kasur. Ia membiarkan dirinya larut dalam tangis, mencoba menenangkan pikirannya dengan air mata.

Selang beberapa menit tubuhnya kembali tegak, tersandar di takas. Vidya mengedarkan matanya yang sembab, memperhatikan seluruh yang ia lihat.

Dan untuk perpindahan ke Indonesia, sama sekali bukan bagian dari jalan pikiran Vidya. Semua itu karena Diawan -papanya Vidya. Ia memaksa keluarganya termasuk Vidya untuk tinggal di Jakarta, tempat yang tidak dikenali Vidya sama sekali. Keputusan itu membuat Vidya terpukul, ia tidak bisa memberontak atau pun sekedar menolak karena semua keputusan yang keluar dari mulut Diawan adalah mutlak.

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, ternyata sosok Rianti yang hadir di balik pintu. -Rianti, wanita paruh baya yang sudah 18 tahun menikah dengan Diawan. Melihat kehadiran Rianti di sana, sontak Vidya mengusap air mata yang tersisa di pipinya.

"Mama," lirih Vidya seraya berusaha membenarkan posisinya. Rianti menyiratkan kekhawatirannya, Vidya bisa melihat itu semua dari pancaran mata teduh Rianti.

Sebenarnya, Rianti juga sempat bertolak belakang dengan keputusan Diawan. Namun karena keputusan Diawan yang kuat, sampai akhirnya Rianti ikut memaksa Vidya pindah ke Jakarta. Mungkin bukan keputusan melainkan sebuah paksaan.

Setelah beberapa kali Rianti melangkah, akhirnya ia sampai ke pelukan anak perempuannya, "Yuk sayang!

"Kamu jangan khawatir, di Jakarta juga banyak orang-orang baik. Setiap libur panjang, kamu bisa jenguk nenek ke sini." bujuk Rianti seraya melepas pelukannya.

"Tapi ma.. Via udah nyaman disini. Via gak mau adaptasi lagi di dunia yang baru, Via males buat mulai itu semua dari awal." rengek Vidya.

Rianti mengusap puncak kepala putrinya, "Mama tunggu di luar, sebentar lagi kita terlambat." Rianti bangkit lalu pergi meninggalkan Vidya yang masih dalam posisinya.

Vidya sempat bergeming menatap hilangnya Rianti di balik pintu. Setelah itu ia bangkit, lalu merapikan kembali tempat tidurnya. Dengan perasaan yang sulit dijelaskan, Vidya terpaksa membawa tas dan kopernya keluar.

Pesawat yang mereka tumpangi terbang lancar, Vidya baru tiba di rumah barunya sore hari. Sore ini Jakarta sangat ramai, dan menurutnya tak jauh beda dengan Singapore.

PeonyWhere stories live. Discover now