Di satu titik di lapangan luas terbuka itu diletakkan sebuah alat berbentuk kotak setinggi lutut orang dewasa dan di atasnya terpasang silinder logam yang cukup tinggi dengan diameter 20 cm, seperti pegangan sapu yang ditusukkan ke dalam kardus. Beberapa belas meter di depan alat itu, tiga tentara bersiap-siap dengan senapan Maverick Carbine masing-masing. Sementara empat pria dan satu wanita bermantel putih berdiri di belakang mereka.
Dr. Jedediah Prine mengangguk kepada Dr. Alice Womberton. Ia beserta rekan-rekannya sesama ilmuwan langsung memasang pelindung telinga.
Dr. Womberton menggerakkan jari telunjuknya di atas layar sentuh ponsel untuk mengaktifkan alat tadi. Mereka yang di situ mendengar bunyi mendengung sekilas. Bunyi itu menandakan alat sudah aktif. Namun, kelihatannya tidak ada yang berubah pada alat itu. Hanya lampu yang menyala pada panel kendali berbentuk kotak itu.
Semua pasang mata itu sepintas menyaksikan ketika menara silinder yang padat itu seakan bergoyang, bergelombang, kemudian kokoh kembali. Pemandangan sepintas itu seperti siaran televisi yang sinyalnya terganggu, tapi kemudian bagus lagi.
Ketiga tentara mengangkat senjata mereka. Mata mereka fokus pada alat itu. Senyap sesaat. "Tembak!" seru tentara paling kanan lantang. Pelatuk ditarik. Rentetan peluru meluncur mengikuti bunyi ledakan beruntun dari tiga senapan itu. Targetnya adalah alat itu.
Area sekitar alat itu bereaksi dengan memunculkan riak-riak kecil seperti batu-batu kerikil yang dilemparkan terus-menerus ke permukaan air. Peluru-peluru itu tertahan, tidak bisa menembus penghalang yang mengitari alat itu. Saat menerima impak, penghalang tak terlihat itu berubah warna menjadi biru muda transparan. Timah-timah itu berjatuhan.
Para ilmuwan yang menyaksikan di belakang tersenyum dan tertawa gembira. Alat ciptaan mereka kembali berhasil, sebuah alat yang menghasilkan medan daya, medan daya yang transparan.
Ketika para tentara berhenti menembak, alat itu masih kokoh berdiri tanpa lecet sedikit pun, tak tersentuh puluhan peluru yang menghujaninya. Lampu pada panel kendali mati. Bunyi dengung singkat itu terdengar lagi. Kali ini nada ujungnya menurun.
Bagian 2
David Abraham baru keluar dari toko malam itu membawa satu tas kertas belanjaan berwarna coklat. Ujung roti panjang menyembul dari dalam tas. Ia berjalan menuju truknya yang terparkir di seberang toko. Baru saja ia akan masuk setelah meletakkan belanjaannya ketika ia mendengar erangan wanita di ujung jalan sana. Ia menoleh, menarik napas, dan menghembuskannya sambil geleng-geleng kepala.
Wanita itu menangis ketika pria itu menjambak rambutnya. "Kau pikir kau bisa pergi begitu saja, hah?!" bentak pria itu. "Wanita sialan!" Ia mendorong kepala wanita itu.
"Maafkan aku. Aku janji... takkan melakukannya lagi," mohon wanita itu diiringi isak tangis. Riasan matanya luntur di pipi. Wajahnya terlihat berantakan.
Tak berapa lama kemudian, David sudah berdiri di dekat mereka berdua. "Ada masalah di sini?" tanyanya santai dengan tangan di samping badan.
Pria itu menoleh dengan mata melotot. "Bukan urusanmu. Pergi dari sini."
David menatap wanita itu. "Kau baik-baik saja?" Tapi, wanita itu tidak menjawab, ia hanya terisak.
"Apa pedulimu? Dia istriku!" kata pria itu pada David dengan nada tinggi.
"Dia istrimu atau samsakmu?"
"Aku yang memberinya makan. Terserah mau kuapakan dia," sahut pria itu.
"Bu, kau tidak harus menerima ini."
Merasa tidak dihiraukan, pria itu merasa jengkel. "Kau mulai membuatku kesal." Ia mendekati David dan langsung mengayunkan tinjunya ke arah wajah.
YOU ARE READING
Prime Protector 3: Acsfallion
ActionDavid Abraham diculik alien dan dijadikan subjek penelitian operasi penyatuan otak. Kejadian itu membuatnya kadang-kadang hilang kesadaran. Padahal ia dalam keadaan bangun dan ia bicara dalam bahasa asing. Keadaannya itu ternyata memberinya kelebiha...
