1

30 8 0
                                        

Jam menunjukkan pukul 9 malam,tapi hujan yang mengguyur kota Bandung,masih saja belum reda.dinginnya suasana hujan di malam hari tak membuat adit ingin segera beranjak dari tempat duduknya,dia sedang duduk di balkon kamarnya dengan secangkir kopi kesukaannya.

tak peduli dengan rasa dingin yang terus menusuk tubuhnya,mata adit masih tetap menatap ke arah jalanan ramai dengan tatapan kosong.

sepi,itulah yang setiap hari adit rasakan.dalam rumah yang begitu besar,hanya ada dirinya dan pembantu rumah tangga di dalamnya.

ayah dan ibunya begitu sibuk,hingga adit sendiri lupa bahwa ternyata dia masih mempunyai kedua orang tua,orang tua yang bahkan tak pernah menanyakan keadaan anaknya itu.adit sudah biasa berada dalam suasana rumah seperti ini.

sudah hampir 17 tahun dia hidup di dunia,namun rasanya dia tak pernah sekalipun melihat kedua orang tuanya berada di dalam rumah sehari saja untuk menemaninya,mereka terlalu sibuk untuk meluangkan waktunya sedikit untuk adit.

adit selalu merenungkan,kenapa nasibnya harus seperti ini,kenapa harus dia?kenapa bukan orang lain?pertanyaan-pertanyaan yang hadir dalam pikirannya seolah membuat air matanya tiba-tiba jatuh tanpa ia sadari,hingga ada sebuah ketukan pintu yang menyadarkannya,
tok tok tok

"Masuk" jawab adit sembari mengusap air matanya,bi siti pun membuka pintu kamar adit dan langsung menghampiri adit yang sedang berada di balkon,"ini mas rujaknya" kata bi siti sambil meletakan rujak di atas meja. "Makasih bi" jawab adit dengan nada yang lemah namun menampilkan senyuman. "Sama-sama,loh mas adit kenapa?ko kayanya habis nangis?" tanya bi siti saat melihat mata adit yang sembab, "bi,apa bibi yakin kalo aku bukan anak bibi?apa aku beneran anak mamah?tapi kalo emang aku anak mamah,terus kenapa justru bibi yang ngurus aku dari kecil?sedangkan mamah?papah?mereka bahkan ga pernah nanyain tentang keadaan aku bi" tanya adit dengan penuh tanda tanya dan tatapan yang begitu menyakitkan.

"Sabar ya mas,ibu sama bapa itu sebenarnya sayang banget sama mas adit,mereka sibuk kerja kaya gini juga buat mas adit ko" jawab bi siti sambil mengelus pundak adit yang mulai naik turun."tapi aku ga butuh ini semua bi,aku ga butuh semua harta ini,aku cuma butuh kasih sayang mereka,waktu mereka,udah itu aja,apa aku salah jika aku ingin merasakan kasih sayang orangtuaku sendiri?apa itu salah bi?" adit tak mampu lagi menahan air matanya untuk keluar,ia menangis sambil memeluk bi siti.ya,karna adit memang sangat dekat dengan bi siti,bahkan adit sudah menganggap bi siti adalah ibunya sendiri.bi siti hanya bisa menenangkan adit tapi ia tidak bisa berkata apapun.

di balik sipatnya yg keras dan bandel adit mempunya sipat lembut.adit juga bukan tipe lelaki yang mudah mengeluarkan air matanya,tapi saat iya mengingat akan kedua orangtuanya yang tidak pernah mempunyai waktu untuknya,entah mengapa air matanya selalu ingin keluar.

Hai guys,gimana cerita aku yang super duper amburadul ini?maklum ya,namanya juga pemula.oh iya,jangan lupa vote dan komen ya guys.biar aku bisa perbaiki cerita aku ini.

Why Must Me?Where stories live. Discover now