"Aku butuh penjelasan kamu mih" kata pria separuh baya itu dengan nada yang cukup tinggi.
"Kamu mau penjelasan yang gimana hah?" Balas wanita yang ditanya pria tersebut dengan tidak kalah dengan nada bicara pria itu.
"Kamu selingkuhkan di belakang aku, siapa pria itu?" Kali ini pria tersebut berkata dengan nada rendah penuh ke frustasian
"Itu karena kamu luan yang selingkuh pih, aku cuma lakuin apa yang kamu lakuin" jawab wanita itu masih dengan nada tingginya.
"Kamu beraninya" kata pria tersebut sambil mengangkat tangannya berniat menampar wanita tersebut.
"Cukup pih, mih apa gak bisa di rumah ini ada ketenangan sedikitpun hah?" Kali ini gue udah gak tahan sama kelakuan ortu gue.
"Kalian gak malu apa sama aku dan yuta, apa lagi saat ini yuta lagi sakit. Kalian gak mikirin keadaan sikis yuta hah? Lanjut gue bermonolog dan cukup membuat ortu gue sedikit tertohok dan pergi meninggal kan kekacauan yang telah mereka perbuat.
Gue pun membereskan semua kekacauan yang ortu gue perbuat, gue mengumpulkan serpihan kaca yang berserakan di lantai, dan gue pun menemukan bingkai foto yang patah dan melihat foto keluar gue yang terlihat bahagia bahkan bang Yuto masih tersenyum dengan bahagiannya disitu, tanpa sadar air mata gue jatuh tanpa bisa di bendung lagi.
Setelah semua beres gue merasa sangat kelelahan dan ingin langsung tidur rasanya, gue pun berjalan menaiki tangga dan melihat sekilas ke kamar Yuta dan setelah gue yakin dia baik-baik aja gue pun menuju kamar gue.
***
"Yura, lo gak sarapan" tanya seorang anak lelaki yang sedang mempersiapkan sarapan.
"Yuta lo udah gapapa?" Tanya gue cemas karena semalam yuta demam tinggi.
"Nggak tuh, gue udah gapapa" kata anak itu berbohong, karena sebenarnya dia sangat kesakitan terlebih hatinya.
"Kalau gitu lo kok gak sekolah" tanya gue karena harusnya kalau udah gak sakit yuta itu sekolah karena saat ini dia udah kelas 3 SMP dan mempersiapkan diri buat masuk SMA favorite.
"Gue masih lemes pen istirahat, lo aja yang ke sekolah" katanya mengelak tapi itu sejujurnya yang dirasakan yuta.
"Alibi aja lo yut" kata gue yang merampas roti yang akan yuta makan dan memasukkannya sekaligus ke mulut gue dan sedikit meneguk susu coklat yang ada di meja.
"Untung lo kakak kembar gue, kalau nggak gue udah ilfeel sama lo dan amuk lo" kata yuta yang emang benar gue dan yuta itu kembar.
"Gue caw dulu ya bhay" kata gue dan berlari menuju bus jemputan yang sudah menunggu di luar.
3 tahun sudah berlalu semenjak ortu gue bertengkar hebat dan selama itu juga kita semua jarang ngumpul karena terkadang hanya papih yang datang atau hanya mamih yang nginap, rumah kami udah kayak tempat persinggahan aja buat ortu gue.
Semasa SMA gue dan Yuta pisah sekolah karena gue masuk SMA favorite sedangkan Yuta tidak karena dia sering bolos jadi sekolah yang bereputasi tinggi ragu menerimanya namun Yuta memiliki otak yang cemerlang dan membuatnya bisa masuk satu kampus dengan gue namun beda fakultas doang.
Pulang kampus gue mampir ke cafe buat ngisi waktu luang habis dirumah juga gak ada orang paling Yuta ngumpul bareng teman gemotnya dan akan balik kalau udah tengah malem.
Sayang aku janji gak lama lagi aku bakal cerai dari mas Damar.
"Kayak kenal sama suara ini" batin gue dan karena penasaran gue menoleh ke arah meja belakang gue dan menemukan mamih gue sedang asyik dengan selingkuhannya.
"Mamih" teriak gue penuh penekanan yang berhasil membuat mamih gue kalang kabut.
"Yura kamu salah pa_" kata wanita itu terhenti karena Yura langsung menginstrupsinya
"Yura kecewa sama mamih" kata gue dan berlalu dari cafe tersebut tanpa mendengarkan panggilan mamih.
Gue berjongkok dan terisak sejadi jadinya di halte bus yang membuat orang memperhatikan gue dengan heran.
"Kenapa mamih tega, apa salah papih, kenapa hidup sungguh berat buat gue" kata gue sambil berjongkok dan membenamkan muka gue di antara lengan gue.
***
"Lo kenapa baru pulang" tanya pria itu
"Kenapa mata lo sembab" tanya pria itu sekali lagi
Gue diam dan hanya bisa terisak sehingga membuat pria itu menjadi ketakutan dan mendekati gue
"Lo kenapa Yura" tanyanya lagi sambil memegang bahu gue.
"Gue rindu bang Yuto" bohong gue karena gue gak mau Yuta benci mamih
"Lo kalau rindu bang Yuto ya biasa aja dong jangan sampai buat gue jantungan" kata Yuta sambil menoyor kepala gue.
"Besok kita kunjungi bang Yuto yah kan udah lama juga kita gak kesana"
"Liat besok deh gue gak janji, lo tau kan besok malam gue ada balapan"
"Kan balapannya malam yut"
"Tapi gue nyusun strateginya mulai sore yur" kata yuta kembali menoyor kepala gue
"Enak aja lo pikir gue o’on apa, mana ada balapan pake strategi" kali ini gue balik noyor pala yuta
"Lo sih gak tau apa-apa dasar yur yur" kata yuta sambil menepuk nepuk halus pala gue
"Lo kata gue sayur" kata gue manyun
"Emang lo mirip sayur, lepes gak berbodi dan ijo" kata yuta sambil lari takut gue toyor palanya
"Dasar yuta ba****t" teriak gue gak terima.
Ini cerita aku yang paling ngebingungin karena buatnya ngasal dan terkesan asal jadi, tapi aku harap kalian gak kecewa dengan cerita ini.
many love @Peretas
