Aku memetik gitar asal, menimbulkan bunyi fals yang tidak mengenakkan.
Aku menghela nafas. Laki-laki diseberangku melepas kacamatanya. Hendak berbicara.
"Jangan paksakan."
Ku letakkan gitar sembarangan dan beranjak ke kamar. Ia selalu mengatakan itu. Aku sudah cukup bosan mendengarnya. Taruhan, ia akan mengomeliku lagi.
"Lara"
aku hanya menoleh. Menunggunya untuk berbicara. Ia menatapku kasihan. Menutup pintu dan duduk disampingku.
"Jangan kasihani aku."
Ia menggenggam erat buku yang ia pegang. Menatapku tulus. Matanya selalu memancarkan yang sesungguhnya, membuatku selalu percaya padanya.
Bulir air mata turun tanpa kusadari. Membuat lelaki di hadapanku reflek menghapusnya.
Ia merengkuhkan pelukannya. Semakin deraslah air mataku. Ia mengeratkan pelukan, mengecup keningku berkali-kali.
"Jangan khawatir, aku selalu bersamamu"
Kalimatnya begitu menenangkan. Bebanku terasa lebih ringan. Ia mengecup kepalaku sekali lagi.
"I love you"
