I want to disappear forever
Let’s make a door
It’s in your heart
Open the door and this place will wait
Magic Shop
—BTS, Magic Shop
.
.
.
Ramai.
Kata yang pas untuk menggambarkan suasana sehari-hari bandara Incheon.
Seorang gadis berambut pendek sebahu merapatkan sweater berwarna cokelat yang ia kenakan.
Dinginnya udara musim gugur di Seoul ternyata mampu membuat tubuhnya merasakan dingin.
Tangan kecilnya menarik sebuah koper berukuran sedang menuju tempat dimana taksi pesanan papanya berada.
Pandangannya lurus kedepan. Tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri, dan tentu saja seperti biasanya, tidak ada lengkungan senyum yang terukir dibibirnya.
Seorang pria yang mengenakan jas dan sepatu pantofel berlari kearahnya dengan raut wajah panik.
"Shaby, kamu darimana saja? Papa cari kamu daritadi. Kamu ini buat Papa panik saja." Ucap pria itu sembari mengusap puncak kepala putrinya.
Gadis itu menoleh, tentu saja, dengan tanpa ekspresi sambil berucap datar. "Papa lama."
"Maafkan Papa ya, sayang, Papa kan musti ngurus barang-barang keperluan kita dulu."
Gadis itu hanya diam. Mata bulat dan jernihnya kembali menatap lurus kedepan.
"Yasudah ayo, Nak, taksinya sudah menunggu," Pria itu mengambil alih koper yang tadi ditarik oleh putrinya.
Gadis berkulit kuning langsat namun terlihat pucat itu bernama Shabrina, namun orang-orang yang mengenalnya memanggilnya dengan nama Shaby.
Nama yang cantik seperti dirinya. Namun sayangnya tidak secantik takdirnya.
Didalam mobil Shaby menatap keluar jendela. Ia melihat pohon-pohon disekitar jalan dengan daun yang berwarna kuning dan oranye.
Hari Wiradihardja—papa Shaby, menolehkan kepalanya kesamping, menatap putrinya yang sedaritadi hanya diam.
Dadanya selalu terasa sesak jika mengingat semua hal yang telah terjadi pada putrinya itu.
Ia menghela napas perlahan, dan berdoa didalam hatinya. Semoga Seoul dapat menyembuhkan luka di hidup Shaby, dan membuatnya melupakan kejadian-kejadian itu. Ia ingin sekali melihat putrinya kembali tersenyum.
Pria itu mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan kecil putrinya yang selalu tenggelam didalam sweater yang dikenakannya.
"Papa yakin, kamu akan segera sembuh, Nak," Bisik Hari pelan.
✨✨✨
"Soobin-a!"
"Choi Soobin!"
Orang yang dipanggil sedari tadi hanya meringkuk diatas tempat tidurnya.
Sudah menjadi kesehariannya mendengar suara menakjubkan Eommanya setiap pagi.
YOU ARE READING
Magic Island
FanfictionSeoul. Kota yang akan menjadi 'pelarian' dari segala omong kosong di hidupku. Sampai aku lupa kapan terakhir kalinya aku tertawa. Ya, setiap hari, hidupku hanya diisi oleh obat penenang dan psikolog yang ucapannya selalu sama sampai membuatku benar...
