Kata Sandi
Oleh : Eva Sri Rahayu
"Kenapa kita harus ke sini?" tanya Reyhan dengan nada heran tapi tetap dingin.
"Kan kita udah lama gak pernah ke taman bermain," jawabku dengan nada ceria, sambil menarik tangannya, mengajaknya mendekat ke area kincir angin. "Aku ingin naik ini ya," ucapku lagi, sembari menunjuk kincir angin.
Reyhan mengangguk, lalu membeli karcis untuk masuk. Dengan setengah berlari dan tertawa, aku masuk duluan dan duduk di salah satu kincir besar yang memuat dua orang. Reyhan mengikuti, lalu duduk di sebelahku masih dengan ekspresi datar.
"Woaaaa hahahahaha," tawaku sambil memeluk tangannya erat. Reyhan balas menggenggam erat tanganku. Terasa hangat, persis seperti dulu, tangan yang menenangkanku.
Dua tahun lalu, kami jadian di dalam kincir ini. Sebenarnya aku takut ketinggian, tapi karena Reyhan yang mengajakku naik kincir angin ini, aku memaksakan diri. Saat kincir mulai berputar, aku menutup mata, memegang tempat duduk dengan ketakutan. Reyhan melihat itu, dipegangnya tanganku, lalu dia berkata, "Jangan takut, kan ada aku." Mendengar itu, perlahan aku memberanikan diri membuka mata, dan apa yang aku lihat benar-benar menakjubkan. Pemandangan nampak berbeda jika dilihat dari atas.
"Vera, mau jadi kekasihku?" tanyanya waktu itu.
"Mau," jawabku di telinganya.
Reyhan, pangeran yang menghilangkan ketakutanku pada ketinggian, dan menggantinya menjadi ketakutan akan kehilangannya.
"Masih inget nggak, dua tahun lalu di sini?" tanyaku.
Reyhan tidak menjawab, hanya matanya menatapku lekat. Aku membalasnya dengan senyum lebar. Kincir kami telah sampai di bawah, pintunya perlahan terbuka. Aku menariknya keluar.
"Hmm sekarang, kita main lempar bola yuk," ajakku.
Mendengar itu, mata Reyhan membulat. Tanpa mendapat persetujuannya, aku berlari ke stan permainan bola, membeli karcis, lalu memberikan bola pada Reyhan. Dia menerimanya dengan lemah.
"Aku mau hadiah boneka teddy bear, ya!" teriakku antusias.
Lagi-lagi Reyhan menatapku heran, tapi tanpa banyak tanya, dia memasukan bola-bola itu. Reyhan memang keren, tidak ada satu bola pun yang meleset. Dengan tersenyum puas, aku menerima boneka teddy bear hadiah permainan itu.
"Terima kasih ya dua tahun lalu juga, kamu ngasih aku hadiah teddy bear," ucapku manja.
"Vera, kamu kenapa?" tanyanya dengan nada getir. Ekspresi wajah Reyhan yang sedari tadi dingin berubah menjadi khawatir. Perubahannya itu sepertinya karena dia menyadari, urutan kejadian malam ini, persis seperti urutan dua tahun lalu.
"Kenapa? Memang salah kalau aku pengin punya boneka teddy bear lagi? Yang dulu kan udah aku kasiin ke Sany," kataku sambil menatapnya dalam. Reyhan memalingkan muka, kentara sekali risih dengan perkataanku. Lalu ingatanku kembali ke waktu itu.
***
"Ini sahabat baruku, Reyhan. Namanya Sany, cantik kan?" kataku bangga, saat Reyhan datang siang itu ke kafe tempat aku dan Reyhan biasa berkencan.
Sedetik aku menangkap kekagetan di mata Reyhan dan Sany, lalu mereka tampak kikuk.
"Reyhan," ucap Reyhan sambil menyodorkan tangannya pada Sany. Tampak biasa saja. Mungkin tadi aku salah lihat. Sany yang sedari tadi menunduk, menerima uluran tangan Reyhan. Namun, aku melihat tangannya agak gemetar.
"Ini loh, Sany yang aku ceritain tempo hari nolong aku waktu kehujanan--"
"Karena kamu mau ikutan tes interview, lalu Sany ngasih payungnya untuk kamu pakai, padahal dia sendiri nggak bawa payung lagi, dan rela kehujanan. Gitu kan? Kamu udah cerita lebih dari sepuluh kali," Reyhan memotong kata-kataku sembari tangannya mengacak-acak rambutku sayang. Aku pura-pura cemberut, lalu menggelayut manja pada tangan Reyhan, saat dia sudah duduk di sebelahku.
