1

7 0 0
                                        

Sudut ruangan yang penuh dengan tumpukan buku itu tampak sunyi dan sepi, tak terlihat aktivitas di dalamnya. Terlihat seorang pria muda duduk di sudut ruangan di antara rak-rak yang dipenuhi buku-buku sastra. Dialah Kala, mahasiswa jurusan seni musik di sebuah Universitas terkemuka didaerahnya.

Mulutnya tampak komat-kamit merapalkan sesuatu yang ada di pikirannya. Terjadi diskusi antara pikiran dan hatinya yang menggiring penanya untuk menuliskan sesuatu di sebuah buku. Dengan tenang dan tentram sambil mendengarkan musik klasik favoritnya lewat headset yang tertempel di telinganya. Air keringat mulai membasahi peningnya, namun penanya masih terus menari di tiap lembaran kertas. Di lembarannya, ia menulis puisi dan hanya beberapa kata.

Hujan Bulan Maret
begitu menawan dengan rintiknya
yang menyelipkan kenangan
di setiap baitnya,
Besarnya rasa rindu yang sendu
seakan menenggelamkan lara
dan harus segera terpenuhi semua
tentang rasa rindunya.


Beberapa jam kemudian, suara langkah kaki mulai terdengar kecil di ruangan perpustakaan. Suara tersebut terdengar semakin besar dan semakin mendekat. Dua sosok lelaki itu perlahan mulai mendekatinya. Mengintai pelan-pelan, dan...

“Kala!...”.

Raut wajah Kala masih saja polos sambil mengoreskan penanya di kertas meski kedua temannya ingin mengejutkannya.

“Wah sepertinya ada yang gak beres dengan si Kala”, ucap Fauzi.

“Sepertinya begitu Zi”, jawab Dimas.

Fauzi menerawang sekeliling badan Kala seperti ada yang tidak beres, dan ternyata,

“Pantesan kamu budeg Kal-kal, telingamu di sumpel sama headset”, ucap Fauzi heran.

Kemudian Fauzi melepas headset yang tertempel di telingan Kala, dan duduk di samping Kala.

“Kala!”, teriak Fajar.

“Setannn!”, Kala terkejut melihat tampangnya Fauzi yang melongo tepat di sampingnya.

“Setan, setan. Elu tuh yang setan!”,

“Lihat rambutmu Zi kayak di film jam 12 malam kemarin”,

“Lu kali genderuwonya teriak-teriak gak jelas di siang bolong. Gini-gini juga mahasiswa seni, peang!”,

“Sudah-sudah jangan berisik, ini perpustakaan bro bukan pasar loak”, Dimas menengahi Kala dan Fauzi.

Kala langsung membereskan dan memasukkan buku-buku dan alat tulisnya ke dalam tasnya.

“Tumben ke perpustakaan nih, biasanya hanya jenguk doang”, Kala tertawa kecil.

“Lah, ya terserah akulah mau ke perpus apa ngak. Apalagi sekarang lebih simple dengan e-book. Tidak perlu capek-capek datang ke perpustakaan”, jawab Fauzi.

“Ya gak bisa begitu Zi meski sekarang sudah ada e-book. Perpustakaan itu tetaplah gudangnya ilmu dan jantungnya akademik”, jawab Dimas menyelah.

“Terserah deh. Ikut aja apa kata filsuf kita”,

“Yeay aku dipanggil filsuf sama Pak Ustadz”, jawab Dimas girang.

“Woi jangan debat disini. Sebenarnya ada hal apa kalian menjenguk saya?”, ucap Kala bingung.

“Ayo sekarang kembali ke kelas. Kamu gak inget ya sekarang ada ujian violin solo?”, kata Dimas.

“Ya ampun aku lupa! Iya, ayo sekarang kita ke kelas bro”, sahut Kala sambil menarik tangan Fauzi dan Dimas berjalan ke luar ruangan.

Kala, Fauzi, dan Dimas berlari menuju ke gedung kesenian kampus untuk mengikuti Ujian Violin Solo yang di ampu oleh Pak Gilin, Dosen Violinnya. Melintasi ruang dan gedung antar jurusan dan fakultas untuk kembali menuju ke gedung kesenian. Jarak dari perpustakaan ke gedung kesenian tempat Kala berkuliah cukup jauh sehingga harus melalui beberapa gedung fakultas di Universitasnya. Perpustakaan selalu menjadi tempat persinggahan Kala di saat jenuh di kelas dan sebagai tempat mencari inspirasi karyanya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 07, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Kala SenjaWhere stories live. Discover now