Di Rembang Malam

19 1 6
                                        

Sofa merah serta darah yang sudah mengering di kepalan tangan. Aku merebahkan badan menuju rembang malam dengan hati getir penuh duka, sengsara dan hilang akal pula. Ada bagian pecahan-pecahan yang berserakan di seluruh penjuru waktu yaitu hati yang jatuh penuh kekecewaan. Asap yang mengudara memenuhi setiap ruangan lantaran amarah membara di tungku pembakaran hingga menggelora. Mataku bengkak sebab air bah yang tak mampu kubendung, bandang mendobrak.
Ketika hati dan pikiran tak mampu berkompromi lagi, kematian menjadi sesuatu yang kuharapkan lebih dari harapan-harapan anak rubah yang berlarian kesana kemari menikmati kehidupan. Aral melintang bagiku, lantatan getir memenuhi jiwa.
Aku tatap langit-langit dengan mata merah menyala seraya berdoa dengan gemetar, "Lebih baik mati tapi hidup, daripada hidup tapi mati. Kematian bagi kedua orang tuaku"
Pikiran irasonal berkecamuk, serta sang setan terus berbisik di daun telingaku. Aku memejamkan mata, letih.
***
Di rembang petang telepon masuk padaku lalu kuterima dengan terburu-buru, "Jangan setuju!! Katakan tidak setuju!!" Ia berkata dengan keras.
Bingung dengan perkataannya, "Jangan setuju? Maksudnya pak?" Aku berjalan keluar rumah.
Ayahku menghardik, "Katakan tidak setuju!! Kau pura-pura tidak tahu" ia berhenti sejenak, "Ibumu menikah lagi!!"
Mendengar itu badanku bergetar layaknya sangkakala yang ditiup malaikat Isropil untuk mengabarkan akhir dari segalanya.
"Apa? Ibu menikah lagi?!"
"Jadi kau tidak tahu? Cepat ke rumah ibumu! Katakan kau tidak setuju!!" Seru ayahku dengan keras.

Lekas kupergi menaiki motorku berkendara secepat angin, tak peduli akan keselamatan diri sendiri seperti dikejar sang malaikat maut yang siap-siap mencabut nyawaku kapan saja.
Perasaan kuatir mengudara bertebaran dihempas angin, kemudian kalut menyelimuti pikiranku. Kuatir pengikraran ijab kabul telah sah.
Ba'da isya aku tiba di rumah ibu. Aku masuk dengan membuka pintu terburu-buru. Aku mengerling, sudah banyak sanak saudara berkumpul lalu salah seorang saudaraku berdiri dan memelukku ia berkata dengan lembut, "Cepat masuk ke ruang keluarga!"
Kuberjalan dengan langkah yang ragu-ragu kubuka pintu perlahan kulihat kakakku, ia sudah ada di sini cukup lama. Ada paman dan bibiku, ustadz, penghulu, dan RT sebagai saksi, serta calon suami ibuku yang enek kulihat wajahnya dan ingin cepat kupukul saja. Semua memandangku kecuali ibuku yang sedang menutup mukanya dengan kedua tangan, ia sedang menangis tersedu-sedu. Kemudian seorang ustadz menyuruhku lekas duduk, "Silahkan duduk. Ini anak yang bungsu?"
Pamanku mengiyakan. Gemetar aku lekas duduk dan menundukan kepala, rambut panjangku terurai menutupi wajah.
Penghulu itu memulai, "Jadi begini nak, ibumu hendak menikah" ia berhenti lalu melanjutkan, "Setelah berbicara lama dengan ibumu juga pamanmu. Apa setuju dan ridho ibumu menikah dengan saudara Asep ini?"
Pamanku melanjutkan, "Sebelumnya ibumu bilang kalian sudah merestui jauh hari."
Mendengar itu sontak aku kaget dan berkata terbata-bata, "Ibu belum pernah bicara soal menikah, bahkan bila bicara saya tidak akan merestuinya."
Ibuku menangis lebih tersedu mendengar pernyataanku, tangisannya membikin diriku merinding hingga semakin gemetar tubuhku laksana gempa bumi yang hendak memporak-porandakan seisi hati.
Pamanku terkejut pula mendengar ucapanku dengan suara keras sedikit marah ia berkata, "Ahh jadi ibumu belum bicara? Untung saja paman belum merestui" ia menggelengkan kepala lalu melanjutkan, "Makanya kalian ke sini buat memastikan. Apa benar kalian merestui tapi nyatanya tidak."
Paman memandang ibuku ia lalu berkata, "Sebaiknya kalian bicara dulu bertiga di belakang."

Di dapur, ibuku berbicara perihal restu. Ia memohon kepadaku, bahkan setiap tetes air matanya membuat hatiku sedikit ragu. Membuat bangunan tinggi menjulang hampir roboh, pendirianku sedikit goyah oleh ratap tangisnya.
Kakakku hanya diam sebab ia sudah dengan tegas menolak pernikahan ibuku di jauh hari. Sebelumnya ibuku pernah bercerita soal pernikahannya dengan kakakku.
"De, restui ibu!" Ia memegang tanganku erat. Aku diam.
"De, ibu mohon. Restui ibu!"
"Tapi bagaimana bapak?" Kupandang matanya dalam.
Air mukanya berubah seketika kemudian membuang muka.
"Bu, bagaimana bapak?"
"Sudah jangan bicarakan bapakmu!! Ini urusan ibu!!" Suaranya berat dan wajahnya menunjukan kemarahan.
Ia melanjutkan, "Restui saja cepat! Mereka sudah menunggu terlalu lama."
Kaget mendengar ucapannya, membikin hatiku seperti dicabik-cabik. Perangai ibuku yang lemah lembut sontak membuatku bertanya-tanya mengenai tabiat ibuku yang menjadi seperti ini.
Kurasa benar nyatanya bahwa nafsu wanita 9 kali lebih besar daripada akal sehatnya.
Kata-katanya menyulut sumbu di hati dan mukaku menjadi merah padam kemudian kukatakan padanya dengan membentak, "Aku tidak akan merestui!!"
Ia menjatuhkan badannya di lantai dan menangis sekeras-kerasnya dan memohon layaknya anak kecil menginginkan sesuatu, namun di sisi lain seperti setan sedang merasuki ibuku. Meringis seraya mengolok-olok diriku.
Kakakku lantas memeluk ibu dan ia berkata, "Sudah bu. Istigfar!" Ia mengusap-usap punggung ibuku lalu melanjutkan, "Jangan begini bu! Istigfar!"
Aku beristagfar dengan suara yang lirih juga merintih, "Astagfirullāh al-'azīm!! Astagfirullāh al-'azīm!!" Kemudian air mata perlahan membasahi kedua pipiku.
Ibuku memohon kembali dengan suara gemetar, "Tolong restui ibu. Mohon nak, ibu mohon!"
Aku tak menghiraukannya dan tetap melanjutkan beristigfar. Lantas ia berdiri dan menepis tangan kakakku dan membentak, "Sudah jangan beristigfar!! Ibu tidak sedang kesetanan, ibu masih sadar!!" Matanya merah dan napasnya berat ia melanjutkan, "Lebih baik ibu mati jika kalian tidak merestui!! Ibu akan kembali kedalam daripada memohon kepada kalian!!" Ibuku berjalan cepat membanting pintu dapur meninggalkan kami berdua.
Jatuh segala kasih di hatiku pecahannya melukai setiap kepercayaanku padanya. Aku memeluk kakakku hingga punggungnya menyandar ke dinding  dan menangis di bahunya. Kuhempaskan tiga kali tinju pada dinding hingga darah mengucur di kepalan tanganku dan semakin erat ku memeluk kakakku hingga ia ikut menangis seraya mengusap-usap kepalaku.
Bila saat itu ada orang yang bertanya siapa orang yang paling membuatmu sakit? Jawabannya ialah ibuku. Bahkan dari semua orang yang pernah menyakitiku hanya ibuku yang membikin aku menangis merintih kesakitan.
Aku melepaskan pelukan dan tangisanku mulai mereda lalu aku duduk di kursi seraya melamun. Pikiranku kosong, hatiku hampa seperti semua telah dirampas oleh tangan-tangan kesengsaraan.
Kudengar suara pamanku keras membentak-bentak di ruang keluarga namun tak begitu jelas kudengar.
Beberapa saat kemudian paman dan bibi datang menghampiriku, ia mengelus-elus punggungku.
Mereka bicara supaya aku sabar namun aku tak mendengarkan mereka. Pamanku kemudian mengajakku kembali ke ruang keluarga.
Ibuku masih tetap menangis, aku merasa jengkel melihatnya. Akhirnya pernikahan ibuku dibatalkan. Penghulu, pak RT, ustadz, dan sanak saudaraku lekas pulang. Hanya tinggal calon suami ibuku, paman dan bibi.
Aku dan kakakku menghampiri calon suami ibuku dan mengajaknya mengobrol di luar namun aku duduk berjauhan dan tak tahu jelas apa yang kakakku bicarakan dengannya kemudian kakakku masuk ke dalam rumah. Aku menghampirinya menatap sinis dan berkata, "Sebaiknya kau segera pergi dan jangan dekati ibuku lagi!!"
Semua telah pergi meninggalkan rumah dan tinggal kami bertiga, ibuku dan kakakku.
Tak terasa waktu sudah menunjukan angka sebelas, aku rebahkan badan di sofa merah di ruang keluarga. Ibuku menghidangkan makanan yang tadinya untuk perasmanan pernikahan, "Makan dulu. Kalian pasti lapar" ia langsung masuk ke kamarnya.
Aku bahkan tidak melirik makanan itu sedikitpun. Aku melamun menatap langit-langit dengan nyeri bengkak di tangan.
Sepintas ada pikiran dan bisikan-bisikan yang mengganggu, aku berdoa kepada Tuhan. Bahkan doa yang kupanjatkan ialah sesuatu yang tak pantas untuk dikatakan sebagai doa.
Parau suaraku, berteriak pun tak bisa. Minuman keras dan obat-obatan terlarang kupikir akan menjadi konsumsiku kelak. Aku ingin tenang bersama khayalan dan kecanduan.
Kudengar suara seseorang menangis dan denting piring karena sendok. Ketika kulihat kakakku sedang makan hidangan perasmanan seraya menangis, ia makan dengan lahap layaknya penuh nafsu makan.
Aku bangun kemudian ikut makan bersamanya seraya menangis, dalam lubuk hatiku aku berjanji.
Takkan sedikitpun aku menyentuh dan menenggak barang haram itu dalam duka pasti ada suka dan bagaimana nasib di sekitarku. Bila aku mati dengan keadaan hilang akal, bagaimana keadaan kakakku setelah itu? Semakin berat penderitaannya. Bagaimana ayahku? Bagaimana ibuku? Bagaimana dengan Tuhan?
Ibuku darahnya mengalir dengan hangat dan jemarinya pernah menenun kasih di hatiku.
Aku takkan pernah bisa membencinya. Biarlah setan mendapatkan mahkotanya dari sang iblis waktu lalu tetapi jangan sampai setan memisahkan anak dari induknya. Tak ada kata maaf terucap malam itu di antara kita.
Kubalik sendok dan minum.
Letih kupejamkan mata di sofa merah, bersamaan perasaan yang sedikit membaik.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 22, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

ORIENTASI LOGIKA Di Rembang MalamStories to obsess over. Discover now