Hari Pertama

342 32 2
                                        

Disclaimer :

Post Me Nots
(FF NaruSasu vers.)
© raiTonight29

.

.

.

.


Kali pertama Jimin melihatnya adalah di malam berhujan setelah ia selesai latihan dengan grup bandnya.

Ia harus berteduh di bawah sebuah kafe kecil dekat studio, karena jika ia memaksa untuk menerobos hujan dia akan merusak gitar akustiknya. Dengan kotak gitar yang terus menabrak paha dan bokongnya, ia menunduk di bawah atap depan dan mengibaskan dirinya mencoba mengenyahkan air hujan yg menempel padanya.

Setelah Jimin memutuskan bahwa ia harus menunggu sampai badai reda, Jimin berjalan memasuki kafe, mengerang pelan saat menemukan tempat itu hampir penuh. Tidak heran, apalagi jika mengingat hujan di balik tembok berwarna putih susu tempatnya berada kini memang sangat deras.

Semua sofa yang kelihatannya nyaman sudah penuh diduduki, hanya ada beberapa kursi kosong yang tersebar di seluruh area; dan melihat banyaknya antrian di konter, sepertinya kursi-kursi itu juga akan segera habis ditempati orang-orang yang sedang mengantri itu.

Jimin mengubah posisi gitarnya agar lebih nyaman di bahu, lalu bergerak memutari meja hingga dia sampai di akhir antrian, mendengungkan lagu dengan suara pelan. Salah satu teman se-band-nya telah menyanyikan lagu ini selama latihan beberapa jam lalu dan ini membuat lagunya terus terngiang di telinga Jimin. Tapi tak masalah. Toh lagunya bagus. Jimin bertekad akan membuka YouTube malam ini dan mencarinya untuk mendengarkan lebih jauh, berharap mereka bisa membuat salah satu cover-nya nanti.


Jimin memesan sebuah Caramel Macchiato ukuran besar (setelah merayu sebentar gadis periang yang berada di balik meja konter) dan mulai mencari tempat yang kosong. Ia akhirnya menemukan salah satu tempat di bagian belakang kafe, di sudut gelap yang tidak benar-benar tersembunyi tapi cukup privat untuk seorang lelaki berambut hitam seumurannya yang sedang duduk dengan earphone di telinganya. Ada secangkir kopi kosong dan roti bagel yang sudah dimakan separuh di masing-masing sisi laptop orang asing itu.

Jimin tersenyum sebelum ia cepat-cepat bergerak ke arah kursi yang kosong, mendekati tempat orang asing tersebut. Baguslah kalau dia punya teman. Akan aneh rasanya kalau Jimin duduk di kursi yang kosong seperti itu sendirian. Apalagi untuk seorang Park Jimin, yang pada dasarnya Jimin memang tipe orang sosial dan tidak pernah menghindari percakapan. Malah, biasanya, dialah yang selalu memulai duluan. Apalagi jika mereka sama-sama punya ketertarikan terhadap pembuatan musik atau musik secara umum, bisa-bisa Jimin mengobrol dengan orang tersebut sampai mereka berpisah lagi atau bosan dengannya.

Saat ia berada tepat di depan meja, ia bergerak menunjuk ke arah perabot mahogani itu dan bertanya dengan sopan,

"Apa kursi ini sudah ada yang punya?"


Jimin menunggu dengan sabar saat lelaki bermata obsidian itu memindahkan pandangannya dari layar laptop dan mengangkat satu alis dengan elegan ke arahnya, tidak berniat untuk membuka earphone yang masih berada di telinganya. Satu tangannya berada di dagu menutupi bibir dan salah satu sisi wajahnya, sementara sikunya bersandar di atas permukaan meja yang berwarna cokelat gelap. Satu jari tangannya yang lain sedang bergerak di touchpad laptop-nya sementara ia terlihat melirik sejenak pada apapun yang sedang ia kerjakan, sebelum menatap pada Jimin lagi, alisnya masih terangkat dalam tanya.

Jimin bergerak menunjuk pada lelaki itu, memberi isyarat untuk mencabut earphonenya, sebuah gerakan yang membuatnya terlihat seakan sedang menarik sebuah tutup kerah kemeja dari lehernya, dan membuat orang asing ini mengangkat alisnya yang lain serta menyeringai di balik tangannya.

Post Me NotsWhere stories live. Discover now