Starting Conversation

26 2 12
                                        

Sejuknya cuaca di pagi hari, tetesan embun dan bau menyengat dari tanah yang terkena hujan semalam. Ya petrichor, bau yang sangat aku sukai.

Seperti biasanya, aku bangun dengan wajah berantakan dan rambut yang kusut, bahkan untuk melihat ke arah cerminpun rasanya enggan ku lakukan, karna aku tau pasti disana nampak jelas penampakan yang tak enak ditangkap mata.

Hari libur seperti ini aku selalu bangun lebih siang dari biasanya, namun jam yang terpasang pada dinding kamar masih menunjuk angka enam.

"Ah, Males banget" kalimat pertamaku yang terucap dengan sigap merentangkan tangan, menggeliat.

Oh ya, umurku masih 12 tahun dengan status pelajar di Sekolah Dasar salah satu Kabupaten Beras Pandan, Cianjur. Ya, tempat yang sejuk dan masih tak terjamah oleh berbagai kendaraan-kendaraan penghasil polusi dan gedung-gedung tinggi pencakar langit

Di akhir semester genap ini, dimana aku berharap cemas atas kelulusanku. Tapi rasanya hari libur ini terlalu membosankan, hanya untuk menunggu kelulusan tiba. Setiap hari aku menghabiskan waktu di dalam kamar dan online di salah satu sosial media, facebook.

Triing.

Suara chat masuk terdengar. Terlihat notifikasi yang memunculkan satu nama asing bagiku.

Nathan : "Hi.."

"Siapa dia? Aku tidak mengenalnya sama sekali" Otakku mulai bekerja keras untuk mengingat apakah aku mengenalnya.
Memang salah satu kekuranganku yaitu susah mengingat orang-orang baru serta jalanan yang asing bagiku, suatu keajaiban jika aku mengingatnya pada waktu pertama bertemu atau pertama aku lalui.

Putri : "Iya kenapa?", jawab singkatku.

Nathan : "Lo anak SDN Cendekia ya?"

Setelah otakku bekerja, aku sama sekali tidak mengenalnya. Bahkan bagaimana dia bisa tau identitasku, padahal aku tidak mencantumkannya di profile media sosial itu, hanyalah sebuah animasi wanita berhijab yang terpasang dengan kualitas foto amat buruk.
"Apakah dia keturunan cenayang?" Pikirku.

Putri : "Iya, emang kenapa? Ada perlu apa?"

Yaa, aku memang gadis yang susah bersosialisasi apalagi harus berbicara dengan lawan jenis. Kaku.

Nathan : "May I know your mobile number?"

Putri : "Untuk?"

Nathan : "Untuk gue lah"

Putri : "Buat apa maksudnya?", jawabku dengan sedikit gemas.

Nathan : "Ya buat SMS lah, masa buat nyantet lu. Lagian nyantet pake no hp doang mana bisa, tapi kalo lu kirim foto buat gue santet juga gapapa dah, gue save dengan senang hati"

"Lah ini anak ko rese banget, lagian emang masih zamannya SMS-an gitu ya?", sindirku.

Putri : "Rese lu"

Nathan : "Mana?"

Putri : "Jangan lu santet ya apalagi lu sebarin, tapi kayanya lu tipe anak yang mau masuk sekolah di SMP Nusa Bangsa terus neror siswa lain buat nyari temen baru"

Nathan : "Berisik lu, mana? Lama amat basa basinya", jawabnya kesal.

Putri : "Haha benerkan tebakan gue? Nih 08576545xxxx. Awas lu ya, kalo gue nyeri-nyeri badan berarti lu yang santet, kek tusuk-tusukin jarum ke boneka. Gue santet balik lu ya kalo kejadian."

Nathan : "Dahlah, cerewet amat lu."

Dih, makhluk aneh.


Thanks for u who want to read ma story wkwkw, stay waiting yaa :)

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 29, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Hold on hardWhere stories live. Discover now