CONFESSION

29 1 3
                                        

Jungkook menghembuskan napas panjang. matanya terarah pada seseorang yang tepat berada di seberang, sedang tersenyum lebar memandanginya.

Bisa-bisanya nyengir dengan tampang polos seperti itu, setelah kemarin menㅡaish, lupakan!

Tak habis pikir mengapa instruktur olahraga mau membimbing enam puluh siswa sekaligus dalam kurun dua jam. Sebenarnya Jungkook juga tidak akan mempermasalahkan hal ini, jika saja bukan kelas Taehyung yang di-merger dengan kelasnya dalam pelajaran ini. Jika saja dengan kelas Hwang Minhyun, ia yakin akan sangat senang melihat raut tampan lelaki itu.

Tapi kelas abangnya? Oh, seperti tak cukup saja waktu yang mereka habiskan berdua. Setelah di rumah, Jungkook tak berharap bisa lebih banyak lagi waktunya tersita oleh Kim Taehyung.

"Kau nanti jaga Taehyung Hyung saja, dia pemain yang kuat."

Jungkook mendengar bisik-bisik Mingyu di sela penuturan Instruktur Min mengenai dribble bola yang benar. Ya, kelasnya dan kelas Taehyung akan ditandingkan dalam liga persahabatan dadakan. Jika kalau kelas Jungkook menang, mereka akan merasakan kebanggan karena telah unggul dari para senior. Tapi kelas Taehyung, apa yang diharapkan? Menang tak bangga, kalah berujung malu.

"Lalu tugasmu apa?" kali ini yang Jungkook dengar adalah suara Yugyeom.

"Shooting guard, tentu saja. Dan kau," Mingyu menuding Jungkook. "Lakukan apapun yang bisa menyita perhatian hyung-mu itu, oke?"

"Aku tak ingin main," timpal Jungkook simpel dan menghasilkan sumpah serapah mengerikan dari mulut Mingyu.

Tim basket kelas mereka memang tak pernah berubah; Mingyu sebagai kapten, Yugyeom yang bisa dibilang ahli melakukan apapun, Seokmin si ketua kelas yang merasa perlu andil banyak dalam mengharumkan nama kelas, Jaehyun si idola para cewek, Minghao murid pindahan yang sudah begitu mendominasi dan Jungkook selalu sebagai pelengkap yang bahkan jarang sekali menerima operan.

Jadi, untuk apa bermain? Selain itu dia juga yakin kalau kelas Taehyung cukup brutal. Dan tak mau menambah kekhawatiran papanya karena mendapat lebam lagi. Terakhir kali, lebam di sikutnya benar-benar terlihat mengkhawatirkan dan Jungkook harus membuat janji kalau dia tidak akan mendapat lebam lagi, atau jatah makannya dikurangi selama seminggu. "Ajak Bambam saja, dia lumayan."

"Dia cadangan." Mingyu bersikeras.

"Kalau begitu buat dia jadi pemain inti." Jungkook berdiri, karena instruktur sudah selesai memberikan penjelasan dan memaksa untuk segera menyerahkan daftar nama pemain dalam lima menit.

Jungkook baru akan melangkah, tapi Mingyu menahan. "Pokoknya, kau main." tatapannya serius, kemudian berpaling pada orang di belakang Jungkook. "Yugyeom, bantu aku membuat daftar pemain. Dan masukan Jungkook sebagai pemain inti."

"Beres."

Jika mematahkan hidung Kim Mingyu bisa membuatnya terlepas dari grup inti basket kelas, Jungkook akan melakukannya. Tapi si Kim Mingyu ini, sekali dia membuat keputusan, badai salju Antartika pun tidak akan sanggup membuatnya berubah pikiran.

Berusaha menelan amarahnya bulat-bulat dan menghindarkan Kim Mingyu dari semburan ludah yang sudah terkumpul di ujung mulut, Jungkook berbalik memandang ke seberang. Suasana hatinya malah bertambah buruk ketika melihat abang tololnya itu membentuk tanda hati yang sangat besar untuknya. Dan terlihat sedang berusaha menyampaikan sesuatu. Dari gerak bibirnya, Jungkook bisa tahu kalau Taehyung sedang menyemangati.

Peduli setan. Melihat Taehyung berdiri di sini dalam balutan kaos olahraga putih dan training merah saja sudah membuat Jungkook muak setengah mati. Jadi harus sesemangat apa Jeon Jungkook sekarang?


Slice Of Life - Confession (Taekook)Stories to obsess over. Discover now