Fani membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Hari ini melelahkan, tapi juga mendebarkan. Besok pameran karya lukisnya akan dibuka. Semua lukisan sudah diangkut ke galeri. Besok pagi dia dibantu oleh teman-temannya akan menata galeri untuk acara pembukaan di malam hari. Selain itu masih ada beberapa hal lagi yang perlu diurus, tapi dia yakin semuanya akan berjalan dengan lancar.
Dia mengingat kembali masa kuliahnya selama hampir empat tahun di jurusan Seni Rupa. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Dia sangat bersyukur bisa menekuni hal yang disukainya.
Masa kuliahnya sangat berbeda dengan masa SMA-nya. Sebenarnya dia ingin masuk Sekolah Menengah Seni, tapi dilarang kedua orangtuanya. Saat itu mereka berkeras agar Fani masuk jurusan IPA di SMA agar bisa melanjutkan kuliah kedokteran. Fani menurut, toh dia cukup pintar untuk mengikuti pelajaran. Namun, batinnya tertekan.
Fani mendesah. Dia seharusnya tidak perlu mengingat-ingatnya lagi. Semua itu sudah berlalu. Orangtuanya akhirnya mengerti keinginan Fani dan tidak lagi memaksanya untuk menjadi dokter. Hingga sekarang Fani mengembangkan bakatnya sebaik mungkin.
Fani ingin tidur cepat malam itu supaya besok bangun dengan tubuh yang segar, tapi hingga hampir tengah malam dia belum juga bisa terlelap. Insomnianya kambuh. Dia pun bangun dan menghampiri meja belajarnya.
Buku-buku sketsa berukuran A3, A4, dan A5 tertata rapi di rak. Demikian juga dengan set pena warna, cat air, dan alat warna lainnya. Kalau sedang tidak berkarya, meja belajarnya selalu rapi. Tapi kalau sudah asyik menggambar, alat-alat gambarnya akan bertebaran menutupi meja itu.
Secara acak Fani mengambil satu buku berukuran A4 dan membukanya. Senyum pun tersungging di bibirnya saat melihat goresan pensilnya yang masih kasar semasa sekolah dulu. Gambar-gambar itu dibuatnya sewaktu masih belajar sketsa wajah. Ada seorang guru seninya di sekolah yang membimbing. Kalau dipikir-pikir lagi, masa SMA-nya tidak terlalu buruk berkat gurunya itu.
Fani terus membalik halaman-halaman buku sketsanya. Dia pernah menggambar setiap anggota keluarganya dalam berbagai pose yang paling mencirikan karakter mereka. Dia tertawa geli saat mendapati sketsa kakak perempuannya yang sedang menyanyi tampak hendak menelan microphone yang sedang dipegangnya. Sepertinya dulu dia sengaja membuatnya seperti itu. Kakaknya sangat membuatnya kesal waktu itu, terutama karena Fani selalu dibanding-bandingkan oleh orangtuanya dengan kakaknya yang sudah mengambil kuliah kedokteran dan mendapat nilai yang baik.
Sebenarnya kakaknya lebih berbakat di bidang tarik suara dan punya impian untuk jadi penyanyi internasional. Namun, tentu saja orangtuanya tidak setuju. Walaupun begitu, kakaknya bisa menyesuaikan diri dengan bidang kedokteran dan menemukan minatnya sebagai dokter kulit dan sekarang sudah membuka klinik kecantikan yang cukup sukses. Sesekali dia masih menyanyi juga.
Halaman-halaman berikutnya ada juga sketsa wajah teman-temannya dan beberapa orang sepupunya. Kening Fani berkerut di salah satu halaman. Ada gambar orang yang tidak dia kenal. Di bawah gambar itu terdapat catatan, seperti di gambar-gambar lain.
Vian, my beloved cousin
Kerutan di kening Fani semakin dalam. Seingatnya dia tidak punya sepupu bernama Vian. Tidak semua gambarnya tercantum tanggal, seperti sketsa wajah seseorang bernama Vian ini. Tapi berdasarkan gambar di halaman-halaman sebelum maupun sesudahnya yang bertanggal, gambar itu dibuatnya saat kelas XII.
Sosok Vian digambarkan tidak seekspresif objek lainnya. Raut wajahnya datar dengan tatapan mata yang tajam tapi sendu. Apa sepupu jauh? Usianya sepertinya sama dengannya.
Fani menyudahi melihat-lihat dan meletakkan buku sketsanya. Jam menunjukkan hampir pukul satu dini hari.
Akhirnya Fani bisa terlelap. Dia bermimpi tentang sketsa wajah yang dia buat. Lalu salah satunya, wajah seseorang yang bernama Vian itu tampak lebih jelas menjadi wajah aslinya. Dengan ekspresi wajahnya yang datar dan tatapan matanya yang misterius, Vian bertanya padanya,
YOU ARE READING
Kamuflase
Teen FictionFani menemukan sebuah sketsa wajah yang dia buat di buku gambarnya beberapa tahun lalu. Wajah seseorang bernama Vian yang tertulis sebagai sepupunya. Tapi, dia tidak punya sepupu bernama Vian. . . . . . . . . . Cerita ini sebenarnya dibuat untuk kom...
