PONDOK mereka berdiam tidaklah besar.
Hanya cukup untuk dipakai menghangatkan diri ketika hujan salju datang dan berlindung dari musim panas yang menggila. Terletak di tengah-tengah desa dengan populasi minim; hanya ada satu jalan besar penghubung ke tempat lain, sebuah klinik tua, serta kelontong kecil dengan atap yang hampir bobrok. Untuk mencapai kota, mereka perlu meminta tumpangan dari satu-satunya pemilik mobil di sana, Tuan Kwang, yang paling suka mendendangkan musik trot bahkan ketika dicap ketinggalan zaman. Tapi, mereka berdua puas.
Guanlin sendiri yang bekerja membuat pondok itu. Ia memoles permukaan lantai kayu rumah mereka dengan cat dari ekstrak kulit mapel. Katanya, supaya lebih mengilat dan Jihoon jadi gampang membersihkannya. Ia juga merancang sebuah jendela bulat di mana mereka bisa melihat keluar, pada pohon eik besar yang tumbuh tepat di halaman samping.
Jihoon akan menghitung seberapa banyak daun jatuh ketika musim gugur selagi Guanlin tersenyum sangat lembut, dengan tangan melingkar di pinggang pasangannya.
YOU ARE READING
[✔] warmest pink | Panwink
Fanfiction[MC] Boleh jadi Jihoon tidak bisa bicara dengan bahasa bunga, tapi itu tidak penting karena Guanlin akan mengajarinya tanpa bosan; arti dari masing-masing bunga yang berbeda di setiap harinya. "Bunga matahari ibarat seseorang yang tidak bisa melihat...
![[✔] warmest pink | Panwink](https://img.wattpad.com/cover/141894723-64-k616313.jpg)