No Doubt

2.2K 25 3
                                    

No Doubt

Ketika semua terasa gelap dan keadaan menjadi sulit. Hatiku mulai bertanya-tanya.

Does he worth a fight even with all of these troubles?

~

Dor!

Aku mengelak dengan cepat bersamaan dengan suara tembakan itu. Tapi rupanya tidak cukup cepat untuk menghindari peluru sialan yang bergerak begitu cepat ke arahku.

"Shit!" Gumamku kepada diriku sendiri. Aku tak perlu melihat lenganku untuk tahu bahwa jaket kulit kesayanganku ini telah robek. Begitu juga dengan kulit lengan kananku yang sekarang tengah meneteskan darah.

Peluru itu hanya menyerempet kulitku tapi sudah harus membuatku menahan rintihan kesakitan seperti ini. Dan ironisnya peluru itu datang dari pistol milikku sendiri.

Marcus tak menutupi senyum senangnya saat melihat lukaku, tapi ia memasang nada pura-pura prihatin dalam suaranya. Aku tetap memasang wajah keras, siap membunuhnya jika perlu. Padahal sebenarnya aku kesakitan setengah mati dan yang kuinginkan hanyalah segera pulang. Tapi cover sangat dinilai dalam pertarungan. Aku tak mau dianggap remeh. Setidaknya ia harus berfikir seakan aku memiliki ratusan ide untuk menangkisnya dan membuat dia yang berada dalam bahaya.

"Oh darling. Aku melukaimu ya?" Aku ingin sekali memukul keras hidung lebarnya hingga semakin tak memiliki bentuk jika saja ia tak memegang pistolku ditangan kanannya.

Malam sudah begitu larut, hari nyaris berganti. Aku pikir ini saat yang tepat menyerang seseorang, yaitu di jam tidurnya. Tapi sepertinya itu tidak berlaku pada Marcus, kepala geng 707. Serigala ini mungkin tak pernah tidur.

Aku tak melepaskan pandanganku dari wajah jelek Marcus. Bukan karena aku sangat menggemari wajah memualkan itu, hanya saja aku harus mengawasi setiap gerak-geriknya. Aku tak mau mati konyol. Aku sendiri di ruangan Marcus yang berantakan, dimarkas mereka yang begitu megah dan tak perlu kujelaskan betapa luasnya. Aku harus awas atas setiap gerak-geriknya jika tak ingin masuk dalam permainannya.

Well sebenarnya hidupku sekarang adalah sebuah permainan. Permainan maut.

"Aku terkejut dengan kedatangan gadis cantik sepertimu ke markas kami, Violet Jennesa Stuart." Ia berkata dengan nada yang bertolak belakang dari perkataannya. Ia sama sekali tak terkejut, mungkin bahkan telah menanti kedatangan kami. Caranya mengucapkan nama lengkapku membuat sekujur tubuhku merinding.

Ia memutar-mutar pistol ditangannya seakan benda itu tidak berbahaya dan bisa saja mengeluarkan peluru jika ia salah memegangnya. Ia tak lagi menodongku dengan benda itu.

"Ya, aku juga sama terkejutnya kau begitu cepat menyadari kedatanganku." Ujarku datar. Membalas cemoohnya.

Prang!

Terdengar suara kaca yang pecah.

"Dan juga teman-temanmu." Tambahnya. Ia menajamkan telinganya.

Pertempuran sengit sedang terjadi diruangan lain antara teman-temanku dan anak buah Marcus yang cinta darah. Selalu ada pertumpah darahan disetiap pertarungan mereka. Itulah yang membuat Kami begitu membenci geng 707.

Mereka kira merekalah penguasa jalanan kota ini, berbuat seenaknya pada semua orang. Mungkin begitu naif bagi anggota geng yang mencuri di kota sepertiku untuk berkata demikian kepada geng lain. Tapi kami merampok koruptor, orang terlalu kaya di kota ini, atau siapa pun yang berkecukupan. Mereka toh tak akan keberatan jika kami mengambil harta mereka yang jauh lebih berlimpah dari pada apa yang kami ambil. Oke mungkin mereka keberatan, tapi ayolah mereka harus berbagi dengan segala kelebihan mereka. Dan perlu kau ketahui bahwa kami tidak membunuh siapa pun. Tidak. Nyawa tetaplah milik tuhan. Kami tidak menggangu yang satu itu.

No Doubt - Justin Bieber Fanfiction (ff/bls Bahasa indonesia) One ShotWhere stories live. Discover now