Hangover

7 0 0
                                        


"Daee!! Cepet turun!!" suara perempuan berteriak membangunkanku dari tidur. Aku membuka mata sebentar, berpikir kalau barusan adalah mimpi. "Mimpi?"pikirku dalam hati. Aku tidak lagi ambil pusing, Aku kembali memejamkan mata. Rasa ngantuk masih bergelayutan di kelopak mataku.

"Daeee!!! Turuun!!!" kali ini suaranya lebih kencang dari sebelumnya. Aku kaget sampai membuka mataku lebar-lebar lalu duduk di tempat tidurku. Dadaku berdebar mendengar suara teriakan itu, seolah-olah aku mengenal suara teriakan itu. Suara yang aku takutkan dulu.

Bagian depan kepalaku terasa pusing. Rasanya seperti baru tidur siang sebentar lalu dikejutkan oleh suara petasan. Aku memegang bagian depan kepalaku, mengelus-ngelus keningku agar rasa pusingnya sedikit berkurang.

"Tunggu dulu." Kataku dalam hati ketika aku melihat karpet yang sedang aku pijak.

Aku terdiam sebentar, memikirkan tentang karpet yang sedang aku pijak. Aku mengenali karpet ini, tapi sepertinya aku tidak lagi memiliki karpet ini.

Butuh waktu beberapa detik untuk aku mengingat karpet ini. Aku langsung terperanjak begitu mengingat karpet yang sedari tadi aku pijak. Aku langsung bangkit berdiri dan menghindari karpet tersebut.

"Ini karpet kamar dulu." Kataku berbisik kepada diriku sendiri. Aku langsung melihat sekeliling ruangan dimana aku sekarang berada. Seisi ruangan penuh dengan barang-barang yang aku ingat. Barang-barang yang ada di kamarku dulu. Semua ini barang-barangku dulu.

Aku kaget, lunglai aku refleks mundur karena lemas dan bersandar di tembok. Dengan mata yang masih melihat sekeliling ruangan, aku lebih yakin kalau ini kamarku. Ya! Kamarku dulu.

Diriku lebih kaget ketika aku menengok ke kiri, ada lemari pakaian di sana, dengan cermin besar di pintunya! Aku melihat diriku di sana. Diriku yang masih remaja! Dengan kaos dan celana pendek berbahan kain yang sangat aku suka karena nyaman apabila digunakan untuk tidur.

Aku melotot melihat diriku sendiri di pantulan cermin. Tanpa sadar mulutku menganga melihat diriku yang masih remaja ada dihadapanku. Remaja yang wajahnya nampak asing bagiku. Aku mengelus-ngelus kaca cermin seolah tidak percaya kalau itu adalah pantulan dari wajahku sendiri.

"Daeeee!!" suara itu lagi! Aku langsung memalingkan pandangan dari cermin. Kalau semua ini, semua barang-barang yang ada di kamarku adalah barangku. Dan wajah yang terpantul di cermin itu adalah wajahku. Maka hanya ada satu kemungkinan seseorang yang memanggilku berkali-kali dari tadi itu.

Mama!

Aku langsung berlari keluar kamar menuju ke arah suara. Dari dalam otakku aku sebenarnya sudah langsung tau darimana suara itu biasanya berasal. Dapur! Aku langsung bergegas berlari ke arah dapur yang satu ruangan dengan ruang makan.

Ini benar-benar rumahku yang dulu. Bukan hanya kamarku, seisi ruangan dimana aku melintas memanglah rumahku dulu. Semua ini cukup memusingkan. Aku tidak tau apa yang terjadi padaku hingga tiba-tiba aku bisa terbangun di kamarku yang dulu.

Aku sampai di lantai bawah di rumahku. Ruang makan ada di sebelah kanan begitu turun dari tangga. Kali ini aku tidak lagi berlari. Tidak lagi antusias melihat siapa yang daritadi memanggil. Kini ada sedikit perasaan takut di dalam hatiku. Aku berjalan pelan-pelan memasuki ruangan makan. Aroma roti bakar yang sedikit gosong tercium. Selai coklat yang meleleh diatas roti juga harum tercium sampai ke hidung.

Sampai di ruang makan, aku terpaku melihat apa yang pertama mataku tuju di ruang makan.

"Meira?" kataku pelan, kepada seorang anak perempuan yang sedang duduk di meja makan. Melahap roti bakar yang sudah mau habis. Segelas susu tergeletak di samping piring makannya. Aku langsung mengenali dirinya, meski beberapa saat wajahnya seperti sedikit asing bagiku.

"Hm?" anak perempuan tersebut membalas dengan sedikit acuh. Dia terlihat sedikit sebal melihatku berdiri di ruang makan, menatapnya. Dia menaruh roti bakar yang baru saja digigit kembali ke piringnya. "Maaaa!! Kak Dae belum mandiiii!!!" kata dia tiba-tiba dengan mulut yang masih ada makanan.

Aku kaget dengan teriakannya. Lamunanku terpecah dari melihat wajahnya secara detail. Aku sangat yakin kalau itu adalah Meira. Adikku. Namun wajahnya masih seperti anak-anak, mungkin ini wajah Meira saat berumur 11 tahun, atau 12 tahun.

"Daee! Kamu mandi sana!" seorang wanita paruh baya keluar dari dapur, membawa lagi dua piring roti bakar panas yang asapnya masih menari-nari diatasnya.

Melihat wanita tersebut, ekspresiku tak kalah kaget ketimbang melihat Meira barusan. Dan wajah Mama pun tak kalah sebal dengan wajah Meira saat melihatku diam menatap wajahnya. Dia berjalan ke arahku, menatapku yang terdiam dengan wajah yang sebal.

"Man-dii!!" katanya kali ini di depan wajah ku, aku langsung tersadar dan berjalan kembali ke lantai atas untuk segera mandi, menuruti kata Mama. Yang aku sangat yakin itu adalah Mama. Dengan wajahnya yang masih sangat muda.

Beberapa saat ketika aku menaiki anak tangga, seorang pria keluar dari kamar di lantai bawah, sembari menggulung lengan kemejanya dia berjalan ke ruang makan. "Jangan ganggu Mamamu, Dae. Cepetan mandi sana." Katanya lebih tenang daripada Mama dan Meira.

Untuk ketiga kalinya aku terdiam. Kali ini di anak tangga. Aku terdiam setelah pria tersebut lewat, meskipun hanya beberapa saat dan hanya melihatnya dari atas, aku cukup yakin kalau itu adalah Ayah.

Pagi yang cukup memusingkan. Salah satu pengalihan yang cukup rasional untuk yang aku alami saat ini adalah kalau ini semua adalah mimpi. Pelarian ke mimpi adalah salah satu cara untuk menjelaskan hal-hal yang tidak logis ketika itu terjadi.

Untukmu yang sampai sekarang belum mengerti mengapa aku memusingkan semua ini, aku hanya akan menjelaskan satu hal kepadamu. Satu hal ini kuharap dapat membuatmu mengerti.

Aku melihat, dengan cukup yakin dan sadar, kalau rumah ini sudah dirobohkan.

Rata dengan tanah.

MASAOù les histoires vivent. Découvrez maintenant