Saat aku melihat ia terbangun dari tidur yang amat panjang. Setetes air matapun jatuh tanpa pamit dari mataku yang tak bisa lagi membendung kebahagiaan.
Sebuah harapan yang kini menjadi nyata, yang kadang harapan itu sempat pupus di tengah jalan.
“ Kau sudah sadar? “ . Seulas senyum bahagia nan tulus ku berikan kepada pemilik manik mata indah yang tengah menatapku. Tak ingin lagi rasanya mata ini beralih pandang karna takut akan kehilangan untuk ke dua kalinya nanti. Ku genggap lembut tangan itu, ku usap sayang. Namun…
“ Aa-anda siapa? Dan dimana aku sekarang? “ Tanyanya dengan raut tidak mengerti dan menjauh dari ku. Melepaskan tangannya dari genggamanku.
Hati ini rasanya seperti tersambar oleh petir di tengah badai yang dahsyat. Kalimat yang keluar dari mulut ranum nan manis itu terasa menusuk tepat ke ulu hatiku. ‘Ada apa ini? Kenapa bisa seperti ini?’.
Kini ribuan pertanyaan muncul dibenakku yang kini masih terpaku dengan pertanyaan itu.
“ Aku… tunangan mu.. “ Ucapku penuh pengharapan agar dia mengingat hal itu.
“ A.. apa?? tunanganku? Sejak kapan aku bertunangan? Anda pasti berbohong bukan? Sebaiknya anda pergi atau aku akan berteriak!! “ Bak di sambar untuk kedua kalinya. Aku merasa hati ini semakin sakit. Kedua iris mata itu menyiratkan ketidak percayaan dengan semua ucapanku tadi.
“ Apa maksudmu? Aku tidak berbohong! “ kataku lirih. “ Lihat ini! “ aku menunjukan cincin pertunangan yang aku kenakan. “ Ini cincin pertunangan kita.. Ini bukti bahwa aku tidak berbohong kepadamu! “ ucapku lagi. Kini air mata kesedihanlah yang keluar. Sebuah kebahagiaan yang tadi aku rasakan selaksa air yang menguap dan berganti dengan hujan yang amat deras.
“ Keluar!!!! Atau aku akan berteriak!!! KELUARR!!!!! “ teriaknya untuk memaksaku keluar.
Aku terpaksa keluar dengan air mata yang mungkin masih menetes sekarang. Semua keluarga yang tengah menunggu diluar terlihat kebingungan dan dengan tatapan penuh tanya.
“ Ada apa? kenapa dia berteriak seperti itu? “ tanya Ibunya. Menatapku khawatir.
” Aku memang bodoh. Kenapa aku bisa seceroboh itu, membiarkan nya seperti sekarang ini ”. ucapku. Aku kini merutuki kebodohan yang ku lakukan saat itu. Membiarkan dia pergi tanpaku.
“ Dia amnesia… Harusnya aku menemaninya saat itu… “ aku kembali bersuara, meski sakit saat menjelaskannya.
Dia lupa siapa aku, dia lupa semua kenangannya tentangku……
********
Hai.. Hai semua..
Oke, Han.. balik nih.. Dengan cerita baru *cerita sebelah belom kelar hahaha biarin..😅😅😅 Dan dari pada ide ini ntar nguap kaya air kolam pas kemarau...
Yay or nay?? comment dongg... 😁😁😁
Kalo banyak yg baca, terus banyak yg vote juga, comment juga... insha allah dilanjut ya.. 🙏🙏🙏
YOU ARE READING
Remember Me?
RomanceYudha Farizal seorang Direktur Utama sebuah perusahaan yg keras kepala bertemu dengan sesosok wanita.. dan kemudian... baca ajah deh, susah deskripsiinnya kek apaan.. hahahaha..
