Prolog

35 5 5
                                        

Hari ini adalah hari kelimapuluh Vanessa bersekolah di SMAK St. Angela. Vanessa berangkat ke sekolah bersama Bernardo, kakaknya, menggunakan mobil milik kakaknya.

 "Enakan sekolah mana ness?" tanya kakaknya,

"Sini" jawab Vanessa tanpa menoleh ke arah Bernardo,

"Lebih banyak fans ya?" tanya kakaknya lagi,

"Nggak" 

"Terus gara-gara apa? dapet doi baru ya?"

"Nggak ada doi, udah ah cepetan jalannya" Vanessa menjawabnya dengan judes, sedangkan kakaknya malah tertawa,

"Masih marah sama kejadian 2 bulan yang lalu? Padahal nggak ada sangkut pautnya loh sama kakak" kata Bernardo dengan nada bercanda. Vanessa hanya diam, tidak menjawab pernyataan yang diberikan kakakknya itu.

"Nggak lucu, siapa juga yang marah. Udah gak usah nanya-nanya lagi" jawab Vanessa sambil masih terus menghadap kedepan.

"Nggak yakin nih. Tuh bentar lagi nyampe, siap-siap sana" kata Bernardo.

Setelah itu, Bernardo mengstop kan mobilnya di depan pagar sekolah Vanessa.

"Makasih tumpangannya, gak ada yang nitip salam ke 'setan' itu" kata Vanessa sambil membuka pintu, tetapi tangannya tiba-tiba ditahan oleh Bernardo.

"Jangan panggil dia setan, dia gak jahat kok, itu bukan sepenuhnya salah dia" kata Bernardo memasang wajah serius.

"Terserah mau dia jahat apa nggak, Nessa tetep manggil dia setan" kata Vanessa sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Bernardo. Bernardo pun akhirnya melepaskan genggamannya. Vanessa keluar lalu menutup pintu mobil kakak-kakaknya dengan pelan. Setelah itu Bernardo kembali menjalankan mobilnya, sedangkan Vanessa masih mau mampir ke warung depan sekolah.

                                                                                          ...

"Wah, si Vanessa, kunaon atuh?, pagi-pagi gini mukanya udah sullen" sapa kang Jaro, pemilik warung di depan sekolah.

"Aya nanaon kang, abdi nyokot es teh aja ya kang, kumaha?" Kata Vanessa sambil merogoh kantongnya.

"Ka Vanessa mah tiga rebu aja" jawab Kang Jaro.

"Hatur nuhun Kang" kata Vanessa sambil memberikan uang.

"Eh kembaliannya belom nih Vanessa"

"Udah, untuk akang aja he he he" jawab Vanessa sambil berlari ke arah gebang.

"Hatur nuhun Vanessa" teriak Kang Jaro.

Vanessa memasuki area sekolah, sekolah sudah ramai orang.

"Hai Vanessa"
"Hai orang Bandung"
"Vanessa, Ziki mau sama lo"
"Vanessa cantik"

Banyak goda-godaan yang didengar oleh Vanessa saat Vanessa jalan, namun hanya Vanessa beri senyum.

...

Sesampainya di kelas, Vanessa langsung meletakkan tas lalu pergi ke kelas Abel, teman barunya yang ada di kelas XI IPA 2.

"Eh Vanessa, mau ngapain atuh" sapa David, anak kelas XI IPA 2 yang rumornya suka dengan Vanessa.

"Mau nyari Abel vid" jawab Vanessa yang masih didepan pintu.

"Udah masuk aja, santai aja" kata David,

"He he he, gak usah Vid"

"Abel dicariin tuh sama Nessa" teriak David,

"Iya iya"  kata Abel dari pojok kelas,

"Napa ness?" Tanya Abel secara langsung,

"Si Bernardo ngebahas dia lagi"

"Wah wah gila itu, masa adek sendiri digituin, sikat aja Ness" jawab Abel sambil memaki-maki sendiri.

"Iya-iya Bel, santai aja" kata Vanessa sambil menenangkan Abel,

"Nggak bisa santai nih" kata Abel,

"Yaudah ya, gue ke kelas, bentar lagi udah mau masuk nih" kata Vanessa sambil melihat jam tangannya,

"Ya sudah, dada" kata Abel sambil berlari ke toilet,

"Dadaa"jawab Vanessa sambil membalikkan badan menuju ke kelasnya.

Vanessa tersenyum sambil berjalan, sebenarnya kalau orang lain lihat, dirinya normal-normal saja.
Tapi yang dirasakan Vanessa bukanlah normal, Vanessa merasa seperti patung yang didesain untuk terus tersenyum, yang pikirannya kosong.
Sebenarnya Vanessa lebih tepatnya berjalan sambil melamun, mengingat kejadian tadi pagi, kejadian yang dibahas kakaknya, Bernardo.

...

Hey!Tolonglah ingatanku! Tolong hapuskanlah memoriku bersama dia,aku ingin, apakah kamu bisa mengabulkannya?Terimakasih sekali jika kamu ingin!
-Vanessa

CarlosWhere stories live. Discover now