Langit masih saja gelap. Awan hitam masih bergelayut. Menghalangi sang bintang dan bulan yang sedang bersemangat untuk menyinari gelapnya malam. Menggantikan tugas sang mentari yang sejenak berpindah ke bagian bumi lain. Rintik-rintik hujan pun turun, lalu menjadi semakin deras.
Sudah 10 menit Aisha melamun di depan jendela kamarnya. Dari gerimis hingga hujan makin deras ia tak juga berajak. Bahkan tak sekalipun mengalihkan pandangannya dari hujan. Aisha memang suka sekali melihat hujan. Gemericik airnya membuat hatinya menjadi tenang. Tapi itu dulu, sebelum ia kehilangan orang yang ia sayang.
"Nanti hujannya malu Sha, kok diliatin terus?" Suara Ibu Ani, ibu Aisha membuyarkan lamunan Aisha.
"Eh, Ibuk. Enggak lah bu. Masak hujan bisa malu," Jawab Aisha sembari mengusap kedua matanya.
"Kok ya masih nangis tiap liat hujan? Inget Ayah lagi?"
"Emm, iya bu. Aisha belum bisa lupain Ayah."
"Aisha ngga perlu lupain Ayah. Justru Aisha harus selalu inget Ayah."
"Iya buk. Tapi Aisha masih merasa sangat bersalah buk. Andaikan dulu.."
"Aisha.. sudah sudah. Ndak usah diungkit lagi nak. Yang lalu biarlah berlalu. Yang perlu kita lakukan sekarang hanyalah mendoakan Ayah agar Ayah tenang disana. Ini semua takdir Allah nak, bukan salah kamu."
"Iya buk."
"Ya udah, udah jam sembilan. Sebaiknya segera tidur nak, besuk kamu masuk kerja kan?"
"Iya buk, Aisha tidur. Ibu juga ya. Selamat tidur buk."
"Selamat tidur nak," Ucap bu Ani sembari mengecup kening anak kesayangannya itu
♥♥♥
1 tahun yang lalu...
To : Ayah
Assalammualaikum Yah, Aish udh slesai sekolah. Aish tunggu di kantin depan sekolah ya :)
From : Ayah
Disini hujan deras nak. Kamu sama siapa? Ada tmennya ngga?
To : Ayah
Aish sendiri yah. Yang lain udah pulang. Kantinnya jg udh mau tutup yah.
From : Ayah
Ya udah. Ayah berangkat.
To : Ayah
Iy yah. Aisha tunggu. Hati2 yah.
Sudah 45 menit Aisha menunggu ayahnya, namun ia tak kunjung datang. Padahal biasanya ayannya hanya perlu waktu setengah jam untuk sampai di sekolah Aisha. Langit semakin gelap. Sebenarnya baru jam setengah lima namun mendung hitam membuat suasana seperti jam enam sore. Hujan kemudian turun tak berapa lama kemudian.
Aisha belum juga bisa menghubungi ayahnya. Perasaan Aisha semakin memburuk. Ia takut terjadi sesuatu pada Ayahnya. Hingga suara dering ponsel mengagetkan dirinya.
"Halo.. assalamualaikum," sapa Aisha dengan orang di handphone nya.
"Waalaikum salam Sha. Sha ini Awan. Maaf kalo aku ganggu."
"Oh.. enggak kok. Ada apa Wan? Tumben telfon? Oh iya kamu tadi kenapa kok ngga masuk?"
"Emm.. sebenarnya aku tadi ke sekolah Sha. Tapi bukan ke kelas?"
"Loh? Terus kemana?"
"Ke TU."
"Loh? Ngapain?"
"Ngurus ijazah Sha, sama dokumen lain. Aku mau pindah ke Semarang."
"Loh? Kok mendadak banget? Kamu mau kuliah disana? Ngga ikut wisuda dong?"
"Iya Sha, emm .. udah dulu ya. Bisnya mau berangkat. Aku pamit ya Sha. Kamu hati-hati. Asaalamualaikum."
Lalu terdengar suara sambungan telepon berakhir.
"Ehh.. halo-halo Wan? Waalaikumsalam. Ih belum juga nanya kenapa udah ditutup aja."
Aisha kesal terhadap sikap Awan yang tidak memberi kesempatan bertanya sama sekali. Kenapa ia pergi? Kenapa mendadak? Dan kenapa-kenapa lain yang ingin Aisha tanyakan pada Awan. Teman sekelasnya itu.
Aisha kemudian teringat pada Ayahnya. Ini sudah satu jam Aisha menunggu. Tapi Ayahnya belum datang. Baru saja Aisha akan menelfon Ibunya, pamannya tiba-tiba datang.
"Loh, kok paman yang jemput Aisha? Ayah mana?" Tanya Aisha sembari menghampiri pamannya.
"Ayahmu ndak bisa jemput. Pakai jas hujannya. Nanti keburu malam," Paman Aisha menjawab dengan singkat, ada sesuatu yang ia sembunyikan. Entah apa.
"Ayah kenapa pak lek?"
"Udah, ayo naik," Perintah paman sambil menstater motor supranya.
Tak ada pembicaraan antara Aisha dan pamannya sepanjang perjalanan. Hanya suara deru motor dan derasnya air hujan. Sepanjang perjalanan Aisha bertanya tanya dalam hati. Ada apa sebenarnya. Apa yang terjadi dengan Ayah? Juga, apa yang terjadi dengan Awan.
Lamunan Aisha buyar saat motor pamannya terhenti. Ternyata ia sudah sampai dirumahnya.
"Loh kok banyak orang pak lek? Banyak kursi juga? Tenda-tenda ini buat apa? Kenapa banyak orang menangis pak lek?"
Aisha lalu berjalan gontai ke dalam rumahnya. Dan saat ia melangkahkan kaki di pintu, ia melihat Ayahnya terbujur kaku berselimut kain kafan. Hal yang paling ditakutkan Aisha pun terjadi. Lalu dihampirilah ibunya, tangis kedua wanita itu lantas pecah dalam pelukan. Mereka kehilangan pahlawan mereka, orang yang sangat mereka cintai, orang yang rela melakukan apa pun agar istri dan anaknya bahagia, orang yang tak kenal lelah mencari nafkah agar keluarganya tak kelaparan.
Ayah Aisha telah pergi untuk selama lamanya. Ayahnya meninggal akibat kecelakaan. Tertabrak mobil yang dikendarai oleh seorang pemuda. Untungnya pemuda tersebut mau bertanggungjawab. Ia membawa Ayah Aisha ke rumah sakit. Tapi sayang, nyawanya tak terselamatkan.
Tiga hari kemudian pemuda itu datang bersama orang tuanya. Ia meminta maaf kepada keluarga Aisha dan memohon agar masalah ini tak dibawa ke kantor polisi. Dan akhirnya ibu Aisha dan keluarga memutuskan untuk berdamai, kecuali Aisha. Ia hanya menatap pemuda itu sekilas, lalu masuk kedalam kamarnya. Tak berbicara sepatah katapun.
Flashback off
YOU ARE READING
Aisha's Love & Life Story
SpiritualKisah ini menceritakan tentang perjalanan hidup juga perjalanan cinta Aisha. Ia harus berjuang hidup bersama ibunya karena sang ayah sudah di panggil oleh Sang Maha Kuasa. Hingga suatu saat ia dihadapkan pada dua cinta. Arbani Kurniawan, teman masa...
